Unduh Aplikasi

Zikir, Protokol Kesehatan dan Politik

Zikir, Protokol Kesehatan dan Politik
Ilustrasi: Alibaba.

PEMERINTAH Kota Banda Aceh harus mempertimbangkan untuk membatalkan acara zikir yang melibatkan banyak orang, entah itu di Meuligo Wali Kota atau tempat-tempat lain. Pemerintah kota tak perlu ragu untuk membatalkan kegiatan yang mengundang banyak orang karena memang sangat mungkin acara itu menjadi klaster baru penyebaran covid-19.

Pembatalan ini bukan karena meragukan kapasitas Pemerintah Kota Banda Aceh dalam menerapkan protokol kesehatan covid-19. Termasuk menyiapkan pembatasan jumlah jamaah, mengatur jarak duduk satu jamaah dengan jamaah lain, atau menyediakan masker dan membatasi pembatasan durasi.

Namun ini lebih kepada mengedukasi masyarakat agar mau dan bersedia mengikuti aturan protokol kesehatan. Apalagi, Banda Aceh adalah daerah dengan tingkat penularan tertinggi di Aceh. Hampir setiap hari, jumlah orang tertular di Banda Aceh mencapai puluhan dan setiap hari, ada saja warga Banda Aceh yang meninggal dunia karena covid-19.

Jumlah ini mungkin bisa berkali-kali lipat jika tes swap PCR dilakukan secara massal. Dan sayangnya, hingga saat ini, Pemerintah Kota Banda Aceh tak melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menekan angka penularan.

Apalagi pemerintah kota baru menerapkan peraturan wali kota tentang penerapan protokol kesehatan. Aturan itu hanya akan menjadi olok-olok jika di saat yang sama pemerintah kota menggelar kegiatan yang melibatkan banyak orang dalam satu tempat.

Ketua Umum Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang (MPG) Banda Aceh, Jumaris, juga hendaknya menjadi pihak yang mengingatkan bahwa zikir itu tak mesti dilakukan secara berjamaah dengan melibatkan massa yang banyak. Berzikir itu bisa dilakukan kapan saja, di rumah, atau di mana saja.

Jumaris juga tak perlu menerangkan bahwa kegiatan itu tidak ada urusan dengan politik dan membawa-bawa kegelisahan umat untuk membenarkan aksi massal. Karena yang paling digelisahkan saat ini adalah ketidakmampuan pemerintah menekan penyebaran covid-19 dengan metode kesehatan yang benar.

Seharusnya semua pihak menahan diri dan mencoba mencari jalan yang benar, bukan sekadar selogan dan aturan-aturan yang semaunya ditabrak. Pemerintah seharusnya memahami bahwa ini adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk menyepi agar kita bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.

Dakwah yang utama juga bukan berupa kata-kata. Dakwah yang utama itu melalui perilaku. Orang yang menjalankan protokol kesehatan sama dengan berdakwah. Dan agama seharusnya mengajarkan kita untuk memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata diri dan alam, menata sejarah, kebudayaan, serta politik.

Sekali lagi, Pemerintah Kota Banda Aceh hendaknya membatalkan zikir massal. Mohon maaf, permintaan ini tak ada kaitannya dengan politik-politikan, permintaan ini murni karena alasan kesehatan dan kemaslahatan warga kota.

Komentar

Loading...