Yusuf Ishaq: Golkar Partai Modern, Bukan Gerombolan Politik

Yusuf Ishaq: Golkar Partai Modern, Bukan Gerombolan Politik
Foto: Dok Pribadi.

BANDA ACEH – Terkait kondisi partai berlambang pohon beringin Aceh yang saat ini sangat carut marut dan terus dilanda konflik, akhirnya mantan Plt Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, Yusuf Ishaq pun turut angkat bicara. 

Malah, senior Golkar Aceh yang juga tokoh politik asal Pidie ini berkesimpulan, akar kisruh dan konflik yang terjadi di Partai Golkar, semua bermuara dari tidak kredibelnya Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, TM Nurlif dalam mengelola manajemen dan memimpin partai selama ini. selain memang personality-nya yang penuh masalah dan leadership-nya sangat lemah.

“Saya sependapat dengan tokoh-tokoh senior Golkar yang sudah berbicara tegas sebelumnya, dan kami semua sepakat, bahwa Nurlif itu harus segera berhenti, ataupun diganti sebagai ketua partai, itu jika ingin partai ini selamat, dan kembali ke jalan yang benar, kalau tidak, tunggu saja 'kerusakan' semakin meluas dan melebar, serta partai ini akan hancur berkeping-keping,” tegas Yusuf Ishak yang akrab disapa Cek Sop itu, mengawali perbincangannya dengan awak media.

Menurut Cek Sop, sebenarnya ia menahan diri untuk bicara ke publik terkait dinamika pelik dan kritis yang membelit partai selama ini. Karena kondisi terlihat kian parah, maka ia bersama-sama mayoritas kader dan tokoh senior  terpanggil untuk bicara dan berbuat, demi keselamatan partai sebagai bentuk tanggungjawab moral. 

“Kami tidak mau dicaci maki generasi Golkar ke depan, karena dianggap melihat dan menikmati saja kehancuran, dan perilaku penghancuran partai yang terang benderang di depan mata ini,” ujar Yusuf Ishak, yang mengakui, dirinya turut andil dalam memuluskan jalan TM Nurlif memimpin Partai Golkar Aceh di periode kedua sekarang ini.

Sebenarnya ketidakberesan TM Nurlif dalam memimpin Partai Golkar Aceh, sudah mulai terlihat ketika periode pertama dia menjabat, ungkap Cek Sop.  kata dia, dalam menjalankan roda organisasi partai, TM Nurlif cenderung otoriter, bergaya one man show, dan lebih mengedepankan 'like and dislike'. 

Baca Selanjutnya...
Halaman 123

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini