Unduh Aplikasi

Yuni Efek, Kapolri Wajibkan Tes Urine Seluruh Anggota Polri

Yuni Efek, Kapolri Wajibkan Tes Urine Seluruh Anggota Polri
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Foto: ANTARA.

JAKARTA - Kapolsek Astana Anyar Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi bersama 11 anak buahnya ditangkap terkait penyalahgunaan Narkotika jenis sabu pada Selasa (16/2) lalu.

Menurut Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Erdi Ardimulan Chaniago penangkapan Kapolsek Astana Anyar tersebut berawal dari laporan masyarakat ke Mabes Polri. Hasil tes urine terhadap Kompol Yuni ternyata juga positif mengandung zat amphetamine atau sabu.

Tes urine kepada seluruh anggota Polri

Karena kasus tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo langsung menerbitkan Surat Telegram Nomor: ST/331/II/HUK.7.1/2021 tertanggal 19 Februari 2020 mengenai pelaksanaan tes urine kepada seluruh anggota Polri untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba di lingkungan Polri.

Sementara itu Kadiv Propam Mabes Polri, Irjen Ferdy Sambo menyebut kasus penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh Kompol Yuni dan 11 anggotanya itu dinilai sangat mencoreng citra dan wibawa Polri di masyarakat.

Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa yang melibatkan anggota Polri, Kapolri Sigit, kata Ferdy meminta para Kapolda untuk melakukan deteksi dini terhadap anggota yang terindikasi terlibat penyalahgunaan narkoba, melakukan razia narkoba di tempat-tempat yang diduga terjadi peredaran narkoba melibatkan anggota Polri, memperkuat pengawasan internal dan koordinasi dengan fungsi reserse narkoba, BNN pusat dan daerah.

Menurut mantan Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri tersebut, Pengawasan dan pembinaan dilakukan atasan maupun rekan kerja dengan memperhatikan anggota yang mulai berperilaku negatif seperti malas apel, kinerja menurun, tidak memperhatikan penampilan, menutup diri terhadap lingkungan, emosional dan terjadi konflik rumah tangga

Para atasan juga diminta untuk selalu mengingatkan jajarannya tentang dampak negatif penyalahgunaan narkoba dan sanksi bagi yang melanggar yaitu berupa pemecatan dan pemidanaan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Soal Hukuman Mati Kapolsek Astana Anyar

Selain itu mengutip dari Rmol.id, Mabes Polri melalui Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menegaskan, pihaknya tidak akan mentolelir perbuatan pidana terutama penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh anggota. Bahkan, saat itu, mantan Kapolri Jenderal Idham Azis secara tegas mengatakan bagi setiap anggota yang terlibat narkoba diancam dengan hukuman mati.

Argo menekankan, pihaknya akan melihat fakta-fakta hukum dalam kasus Kapolsek Astana nyar Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi yang nyabu bareng 11 anggota polisi lainnya.

Menurut Argo kepada wartawan di Jakarta, Kamis (18/2) menyampaikan bahwa pihaknya harus melihat fakta hukum dilapangan dari kasus tersebut. Apakah hanya pemakai, apakah ikut-ikutan, apakah pengedar. Semua perlu pendalaman oleh penyidik

Argo tak mau mendahului penyidik internal dalam hal ini Propam soal apakah Yuni terindikasi menyalahgunakan kewenangan sebagai anggota Polisi--misalnya mengambil barang bukti. Menurutnya semua masih dalam proses. Argo juga menekankan pencegahan internal terus masif dilakukan dan tindakan tegas bagi anggota yang diduga melakukan tindak pidana.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sendiri pernah menjanjikan akan menindak tegas setiap bawahannya yang kedapatan terlibat dalam kasus narkoba dalam forum uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi III DPR RI pada Rabu (20/1).

Listyo, yang kala itu masih berpangkat Komisaris Jenderal (Komjen) dan berstatus sebagai calon Kapolri mengatakan bakal memecat hingga memproses pidana anggota yang terjerumus barang haram itu.

"Termasuk anggota Polri yang terlibat di dalamnya, pilihannya hanya satu pecat dan pidanakan. Jadi kami tidak main-main dalam hal ini, kami akan buktikan," kata Listyo kala itu.

Peringatan dari Kadiv Propam Mabes Polri

Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo sekali lagi mengingatkan bahwa  tidak ada tempat bagi penguna narkoba di kepolisian. Menurutnya, siapa saja yang terlibat sudah pasti dipidana dan dipecat serta perberhentian dengan tidak hormat.

"Saya ingatkan! bagi siapa saja anggota Polri, jangan dekat- dekat dengan barang laknat tersebut. Harus diingat bahwa anggota Polri menjadi ujung tombak pemberantasan Narkoba di masyarakat. jangan ada sejengkalpun dekat dengan lingkaran setan," ujar Irjen Ferdy.

Menurutnya, mencicipi Narkoba membuat moral bejat, karir tamat, keluarga luluh lantak, hidup melarat, nyawa sekarat atau digelandang ke penjara.

"Bagi anggota Polri, hentikan mengunakan Narkoba. bila ditemukan, saya pastikan diproses pidana dan dipecat," tegasnya.

Jumlah anggota Polri yang terlibat Narkoba dalam tiga tahun terakhir

Mengutip dari Bisnis.com, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menyebutkan oknum anggota Polri yang terlibat kasus narkoba meningkat sepanjang tahun 2019 dibandingkan tahun 2018.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Daniyanto menyebutkan sebanyak 515 oknum anggota Polri terlibat kasus narkoba sepanjang tahun 2019. Angka tersebut, menurut Eko lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 364 oknum Polri sepanjang 2018 di seluruh Indonesia.
 
"Jika ditinjau jumlah tersangka berdasarkan jenis pekerjaannya ada 515 berasal dari oknum anggota Polri pada 2019 dan 364 pada tahun sebelumnya," tuturnya, Senin (30/12).

Sedangkan dari Januari-Oktober 2020 menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono melalui keterangan tertulis, Minggu (25/10/2020), sebanyak 113 oknum polisi yang melakukan pelanggaran berat telah dipecat selama Januari-Oktober 2020. Mayoritas mereka juga terjerat kasus narkoba.Namun, ia tak merinci jumlah anggota yang terjerat kasus narkoba.

Tanggapan Indonesia Police Watch

Menurut Indonesia Police Watch (IPW), apa yang dilakukan Kapolsek wanita di Bandung itu adalah tantangan bagi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bahwa narkoba bukan hal main-main lagi.

"Ini sudah menggerogoti jantung kepolisian dimana seorang Kapolsek perempuan tega-teganya memimpin anak buahnya untuk narkoba bareng," kata Ketua Presidium IPW Neta S. Pane dalam keterangannya, Kamis (18/2/2021) yang dikutip AJNN dari Tribunnews.com.

Bagaimana pun kasus yang sangat memalukan ini, dikatakan Neta, merupakan pukulan telak bagi Polri, khususnya bagi Kapolri yang baru.

Menurutnya, kasus ini agar ini diusut tuntas agar diketahui apakah ke-12 polisi itu merupakan bagian dari sindikat narkoba di Jawa barat atau hanya sekadar pemakai. Tapi mengingat jumlah mereka begitu besar, Neta mengatakan patut diduga mereka adalah sebuah sindikat.

Neta berharap dalam proses di pengadilan, ke-12 polisi itu dijatuhi vonis hukuman mati karena sudah mempermalukan institusi Polri dan mencederai rasa keadilan publik.

Seperti diketahui Kompol Yuni ditangkap oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Jabar akibat kasus penyalahgunaan narkoba.

Divisi Propam Polri memastikan Kompol Yuni dan dan 11 oknum anggota kepolisian yang kedapatan menyalahgunakan narkoba akan diberikan sanksi tegas berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH).

"Tidak ada tempat bagi pengguna narkoba di Kepolisian, siapa saja yang terlibat sudah pasti dipidana dan dipecat, putusan tidak dengan hormat," kata Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (18/2/2021).

Sanksi tegas itu, kata Sambo, menjadi contoh atau cerminan bagi anggota kepolisian lainnya agar tidak memiliki niat sedikitpun untuk mendekati barang haram tersebut.

Kompol Yuni sendiri memiliki rekam jejak yang terbilang moncer di lingkungan Polda Jabar. Sebelum ke Kota Bandung, ia menjabat sebagai Kasat Narkoba Polres Bogor.

Tak hanya di situ, Yuni juga sempat bertugas di Direktorat Reserse Narkoba Polda Jabar. Dalam jabatannya sebagai kapolsek di Bandung, Yuni sudah tiga kali menggenggam tongkat kepemimpinan tersebut.

Polsek yang pernah dipimpin Yuni di antaranya Polsek Bojongloa Kidul, Polsek Sukasari, dan Astanaanyar.

Sumber:Rmol.id, CNNIndonesia.com, Bisnis.com, Tribunnews.com, Kompas.com, Detik.com

Komentar

Loading...