Unduh Aplikasi

Yuk, tanam kacang di luar angkasa

Yuk, tanam kacang di luar angkasa
Menanam di luar angkasa, Stasiun Nasa di Luar Angkasa Reuters
BEBERAPA waktu lalu, Lembaga Antariksa Jepang (JAXA) meminta tim riset ITB dan Lapan memverifikasi biji kacang azuki. Sebelumnya, Jepang telah membawa 18 biji kacang itu ke modul Kibo di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS). Di kampus ITB Bandung, 5 biji kacang azuki ditanam di wadah tanam.

Percobaan tersebut merupakan bagian dari program Space Seeds for Asian Future (SSAF) yang dikembangkan JAXA. Sesuai dengan namanya, program ini menguji coba penanaman biji-bijian di dalam modul Kibo milik JAXA.

Kibo adalah fasilitas eksperimental ISS yang dibangun oleh Jepang. Kibo telah digunakan sejak 2008 untuk melakukan percobaan penyelidikan efek gravitasi menggunakan tanaman atau medium organisme lain untuk pengembangan teknologi masa depan.

Program SSAF pertama kali dilakukan pada 2011 dengan uji coba biji tomat yang dikumpulkan dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Benih biji tomat dikirim ke modul Kibo dan dikembalikan ke bumi setelah beberapa bulan.

Tujuannya untuk membandingkan respons tanaman terhadap minimnya gaya gravitasi atau mikrogravitasi dengan pertumbuhan tanaman di bumi. Sejak Agustus 2013 digunakan biji kacang azuki.

Dari foto-foto yang diperlihatkan kepada Tempo tapi dilarang dipublikasikan, biji kacang yang ditanam dalam sepekan di Bandung tumbuh normal dengan semua batang tegak dan berdaun. Adapun kacang di luar angkasa dengan kurun yang sama tumbuh abnormal. Tiga batang yang paling dekat dinding tumbuh berdiri dan panjang. Belasan lainnya rebah ke berbagai arah dan saling mengait seperti rambut kusut.

Kondisi tanaman itu persis seperti beberapa kecambah hasil uji coba dengan klinostat di Bandung sebelumnya. Menurut Rizkita Rachmi Esyanti, kecambah itu diputar-putar mesin klinostat selama tiga hari terus-menerus dalam kondisi kedap cahaya dan tanpa sumber air. “Hasilnya, batang kecambah muntir-muntir begitu, juga akarnya ada yang ke atas ke mana-mana,” kata kata Chunaeni Latief, profesor riset Lapan bidang lingkungan atmosfer dan aplikasinya.

Meskipun kehidupan di luar bumi belum bisa terealisasi dalam waktu dekat, Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan Clara Yono Yatini tetap optimistis suatu hari manusia dapat hidup di ruang angkasa. Sayangnya, Indonesia tertinggal dalam hal riset antariksa dan pemerintah belum memberi prioritas. “Padahal negara tetangga seperti Malaysia sudah bisa kirim orang untuk ISS,” ujar Clara.

| TEMPO

Komentar

Loading...