Unduh Aplikasi

YARA Usul Rapid Test untuk Perantau yang Pulang ke Aceh Barat

YARA Usul Rapid Test untuk Perantau yang Pulang ke Aceh Barat
Ketua YARA Aceh Barat, Hamdani. Foto: ist

ACEH BARAT - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Kabupaten Aceh Barat mendesak Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 segera melakukan rapid test kepada seluruh warga perantau yang baru pulang dalam sepekan terakhir.

Ketua YARA Aceh Barat, Hamdani, mengatakan bukan tidak mungkin penyebaran virus itu terjadi di hari raya, pasalnya pada hari raya umat Islam itu akan berkumpul di masjid-masjid yang menggelar Salat Ied.

“Saat Salat Ied bukan tidak mungkin adanya penyebaran Covid-19 dengan cepat. Sebab di hari itu sudah pasti kita berkumpul dan beribadah di masjid-masjid dengan jumlah besar. Disini tidak akan mungkin adanya physical distancing, apalagi usai salat saat bertemu pasti ada kontak fisik di masjid dengan bersalaman,” kata Hamdani, Sabtu (22/5).

Selain itu, kata dia, di hari raya merupakan momen bagi umat Islam dalam bertamu, baik sesama keluarga maupun tetangga, dan disaat itu tidak ada yang mengetahui seseorang yang bersalaman tersebut terpapar virus bercode SARS-CoV-2 itu atau tidak.

Hamdani menambahkan, jika rapid test dilakukan sebelum lebaran dilaksanakan, maka penyebaran virus tersebut akan mudah untuk dicegah. Karena saat tim gugus mengetahui ada yang positif meski baru hasil rapid test, paling tidak bisa meminta mereka yang terpapar untuk melakukan isolasi mandiri yang diawasi oleh pihak desa.

“Tidak ada yang berani jamin mereka yang baru pulang dari luar daerah terutama zona merah, jika di hari yang fitri ini tidak keluar rumah dan ikut salat ied maupun bertamu. Bagaimana jika dia terpapar namun karena dia sehat lalu tidak ada yang tahu,” ungkapnya.

Dijelaskan Hamdani, mereka yang terpapar virus corona tanpa menunjukkan gejala awal itu lebih berbahaya dari mereka yang menunjukkan gejala.

“Jika hingga besok tidak dilakukan rapid test, maka bubarkan saja tim tersebut dari pada menghabiskan anggaran begitu besar, bahkan Pemeritah Kabupaten Aceh Barat menyiapkan Rp 128 miliar, namun kegiatan tim gugus hingga saat ini tidak terlihat aksi nyatanya,” ungkap Hamdani.

Menurutnya, selama ini dalam pencegahan yang dilakukan tim gugus terkesan formalitas semata, sebab ketika ada yang datang ke daerah itu, diperbatasan hanya dilakukan pemeriksaan suhu tubuh.

"Melihat situasi saat ini, apalagi di Indonesia, berdasarkan data, 25 persen yang terpapar virus tersebut tidak menunjukkan gejala, maka tidak cukup dengan hanya dilakukan pemeriksaan suhu tubuh semata menggunakan thermogun," ujarnya.

Komentar

Loading...