Unduh Aplikasi

Yang Tak Bisa Menang Melawan Narkoba

Yang Tak Bisa Menang Melawan Narkoba
Ilustrasi: Artstation.

BADAN Narkotika Nasional kembali mengungkap salah satu jaringan penyelundup narkoba internasional. Dari tangan mereka, BNN menemukan sabu-sabu seberat 7,2 kilogram dan 300 butir pil ekstasi. Sama seperti penangkapan besar lainnya, jaringan ini masuk dari jalur laut dan berlabuh di perairan Aceh Timur.

Kondisi ini semakin “mempertegas” status baru Aceh sebagai pintu masuk narkoba. Sabu-sabu dari Aceh menyebar ke seantero negeri. Di Indonesia terdapat 60 jaringan narkoba. Namun seperti kuman yang berkembang biak dengan membelah sel, jaringan narkoba semakin berkembang. Tahun ini, 1.023 kasus sabu-sabu diungkap penegak hukum.

Itu tadi, prestasi ini tak sebanding dengan angka kejahatan di lapangan. Hampir di setiap saat, di setiap daerah, selalu saja terungkap kasus peredaran narkoba. Mereka mengepung kawasan perkotaan dan perkampungan. Di pesisir hingga ke kawasan pedalaman. Modusnya pun semakin beragam.

Banyak yang beranggapan bahwa kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan kelas menengah di Aceh seiring meningkatnya pendapatan masyarakat. Di masa damai ini, saat uang mudah dicari, maka yang dilakukan adalah meningkatkan jumlah hiburan. Inilah yang menjadi pintu masuk.

Banyaknya pengguna juga menjadikan upaya perang terhadap peredaran narkoba semakin runyam. Ini adalah pasar yang potensial. Tak peduli betapa hebat BNN bekerja membendung, narkoba tetap masuk di dari pantai-pantai Aceh yang terbuka lebar.

Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya anggota kepolisian, militer dan jaksa, sipir, bahkan hakim, dalam peredaran narkoba. Para penegak hukum yang seharusya berdiri di bagian terdepan dalam perang melawan kartel narkoba malah menjadi bagian dari pemainan ini. Mereka ikut menikmati dan sekaligus mengonsumsi narkoba.

Ada satu hal yang dilupakan bahwa tradisi konsumsi narkoba terkait dengan pola budaya, cara berpikir, nilai sosial, cara- cara mempertimbangkan sesuatu, kualitas nilai yang dipilih. Ada pemahaman yang terbalik di masyarakat saat melihat kekacauan lebih menggairahkan dibanding aman. Buruk lebih laku dibandingkan baik.

Jika jahat lebih sensasional dibandingkan mulia. Curang lebih keren dibandingkan jujur. Bentrok lebih nikmat dipergunjingkan dibandingkan rukun. Bentrok lebih nyaman diinformasikan dibandingkan tentram. Kalau ”orang baik” kalah menarik dan kalah unggul dibandingkan ”orang pernah buruk” yang dipakai oleh birokrasi, maka negeri ini tak akan menang melawan narkoba. Percayalah.

Komentar

Loading...