Unduh Aplikasi

Yang Muda yang Berkarya

Yang Muda yang Berkarya
ANAK-ANAK muda membuka jalannya sendiri. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada usia 44 tahun. Penerusnya, Presiden Soeharto dilantik oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara pada usia 46 tahun. John Frank Kennedy menjadi presiden di negara paling berkuasa, Amerika Serikat, pada 46 tahun.

Namun sejak lama pula anak-anak muda ditinggalkan. Peran mereka, sedikit demi sedikit diberangus. Kehadiran mereka sekadar melengkapi sepak terjang para politisi tua yang semakin hari semakin kuat mencengkeram negara ini. Anak-anak muda lebih banyak menjadi bumper organisasi. Pendapat mereka didengar dan ide-ide mereka diterapkan, namun keberadaannya tak diakui.

Munculnya calon muda pada Pemilihan Kepala Daerah di Lhokseumawe, 2017 nanti, menjadi oase di tengah gersangnya ide yang ditawarkan politisi-politisi gaek yang mencoba mempertahankan eksistensi mereka. Ini hendaknya semakin mendorong sosok muda lain untuk berani bersaing pada pilkada nanti dengan segala keterbatasan mereka.

Masa muda adalah segalanya. Ini adalah masa-masa puncak kehidupan. Di masa ini, segala hal menjadi tantangan. Tak ada yang terlalu dalam dan tak ada yang terlalu tinggi. Semua hal bisa digapai. Kekuatan dari pikiran dan tenaga, menjadikan segalanya mungkin untuk diraih.

Tak perlu takut untuk bersaing, apalagi dibayang-bayangi rasa takut akan kekalahan. Memang tak ada jaminan sosok muda lebih bersih ketimbang mereka yang lebih tua dan berpengalaman. Namun anak muda memiliki nyali untuk mengambil langkah cepat dan taktis, yang lebih dibutuhkan oleh daerah ini untuk bangkit dan berdiri sejajar dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Di Bandung kita mengenal sosok Wali Kota Ridwan Kamil. Ada juga sosok Wali Kota Bogor Bima Arya. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan juga menjadi pemimpin di daerah dalam usia yang relatif muda. Perubahan-perubahan yang mereka lakukan menjadi sebuah bukti bahwa anak muda bisa berbuat lebih. Yang terpenting adalah jangan ragu mengambil kesempatan, sekecil apapun itu.

Untuk memunculkan mereka, partai politik harus berubah. Rekrutmen politik untuk menjaring bakal calon harus berdasarkan pada kriteria atau parameter pemimpin yang ideal dan rasional guna terwujdnya kepemimpinan yang kuat dan efektif. Partai politik harus menguji nama-nama bakal calon dan memberikan kesempatan kepada publik untuk memberikan penilaian. Tak zamannya lagi partai politik menjaring calon dengan pendekatan tradisional dan transaksional.

Demikian juga dengan para pemilih nanti. Mereka yang dicoblos di tempat pemungutan suara haruslah sosok yang dikenali sepak terjangnya. Memilih tidak boleh lagi hanya ikut-ikutan apalagi memilih hanya dengan menjual harga diri seharga sebungkus rokok. Rakyat harus menjadi pemilih yang cerdas dan kritis. Jika tidak, maka lima tahun kita akan berada dalam situasi merugi.

Komentar

Loading...