Unduh Aplikasi

Opini

Yang dipilih jangan buat pilu

Yang dipilih jangan buat pilu
Asriatun, Asriatun

Oleh: Asriatun




Asriatun

PEMILU legislatif sudah berakhir beberapa waktu lalu dan akan disusul dengan Pilpres 9 juli mendatang. Saya merasa bahwa ada yang tidak pernah berakhir dari hasil akhir pesta rakyat ini. Ya penderitaan rakyat yang nyatanya tak kunjung usai. Kita akan terbiasa dengan kertas-kertas bergambar yang harus di coblos. Meski sistem pemerintahan masih butuh perubahan sebagaimana jutaan kali dikritisi.

Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi semacam istilah sakral. Eksisitensi pemilu merupakan gambaran nyata sebuah negara demokrasi. Beragam penawaran dilelang dalam pemilu. Suara rakyat menjelang pemilu biasanya bersifat variatif. Ada yang dijual demi kaos oblong bertuliskan nama caleg atau bendera partai. Sebagian lagi diintimidasi untuk menjual suara mereka.

Acaman semisal pemberian stigma “pengkhianat” ditujukan bagi mereka yang enggan memilih partai politik atau caleg tertentu. Anehnya lagi, ada suara diberikan percuma dengan janji manis. Tawaran menjelang pemilu kadang begitu sulit. Kita harus memilih caleg yang diyakini memang tidak layak dipilih. Tidak memilihpun membuat kita merasa teralienasi dari lingkungan. Kecaman dilayangkan begitu saja pada mereka yang memilih untuk golput.

Pengharapan rakyat

Apa sebenarnya diharapkan oleh rakyat pasca pemilu? Pemilu, lagi-lagi ketika mendengar kata pemilu , penulis serasa galau, karena Pemilu seperti pembuat pilu.. Ini mungkin menjadi benar adanya ketika hasil pemilu mengecewakan rakyat.

Harapan rakyat pasca pemilu tentu tertuju pada lahirnya sosok kharismatik yang setiap ucapan dan tindakan bertujuan demi kemaslahatan rakyat. Kepentingan rakyat bukan hanya sekedar semboyan. Mereka yang menempati kursi tentu punya tanggung jawab besar. Begitu pula halnya menduduki kursi presiden.

Menuju Pilpres

Nuansa konflik tetap saja masih tercium dengan jelas selama pemilu belum juga berakhir. Pemilu sendiri hadir sebagai sebuah kompetisi besar yang tidak jarang mengarah pada tidakan kekerasan, pembunuhan dan saling fitnah oknum tertentu. Semua itu terlihat jelas pada pemilu legislatif lalu.
Gejolak yang sama juga akan timbul pra dan pasca pemilu presiden 9 Juli mendatang.

Tidakan saling serang oleh simpatisan ataupun calon presiden begitu bergelora dan berapi-api. Dua calon presiden yang telah di tetapkan yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Jokowi-JK telah menguatkan opini publik bahwa saling serang dan bongkar aib adalah hal yang lumrah. Suatu kewajaran untuk menarik simpati dan kebencian rakyat terhadap calon tertentu.

Hal seperti ini kadang cenderung penting untuk membuka mata rakyat bahwa pada dasarnya menjadi jalan untuk membokar kejelekan calon pemimpin negara ini. Masa lalu adalah satu hal yang tidak begitu saja kita lupakan. Bukan berarti pula kita harus larut dalam masa lalu, tetapi setidaknya kita harus melihat bagaimana sejarah masa lalu membentuk masa depan. Bukan hal mustahil ketika seseorang memiliki otoritas akan berlaku sewenang-wenang.

Sensitivitas masyarakat Aceh harusnya lebih kuat mengingat sejarah kelam Aceh yang begitu panjang. Pembantaian dan kasus pelanggaran HAM lainya adalah suatu hal yang mengisyaratkan bahwa harusnya Aceh lebih protektif mengenali kondisi yang ada. Kini sebagian masyarakat dipaksa untuk melupakan sejarah.

Menjadi pemilih cerdas

Perdebatan panjang terus bergulir, bukan hanya di diskusi warung kopi, kantin-kantin kampus dan diskusi yang terjadi dalam opini-opini kaum intelek. Isu-isu sengaja di munculkan. Hal ini guna saling menjatuhkan antar lawan.

Probowo adalah orang cerdas. Memulai setiap pergerakan dari hal yang kecil, mendirikan partai politik dengan sabar, mengikuti proses demokrasi secara bijak. Pencitraan yang dibangun Probowo memang cukup melejit, dia tampil sebagai sosok yang kharismatik.

Dia juga dianggap sebagai orang intelek, cakap dalam berbahasa asing. Inovasi-inovasi yang luar biasa di ungkapkan melalui visi dan misi sebagai presiden. Ketegasannya membuat orang lain merasa dia layak menjadi seorang pemimpin yag ideal. Krisis kepemimpinan menambah point penting melejitnya nama Prabowo. Di bandingkan dengan sikap SBY yang cenderung plin-plan dan cari aman, Probowo hadir sebagai sosok yang berani menentukan sikap. Namun, isu pelanggaran HAM yang menjeratnya bukan satu hal yang bisa begitu saja di lupakan.

Probowo berkoalisi dengan Hatta Rajasa. Track Record keduanya sama-sama mengandung noda hitam. Mantan Mentri Koordinator Bidang Perekonomian itu didera kasus yang menjerat putranya Rasyid Amrullah Rajasa harusnya di selesaikan melalui jalur hukum yang adil. Namun fakta berkata lain, putranya bebas dan mendapat hukuman jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa. (Kompas.com, 26/03/2012)

Thamrin Amal Tomagola mengatakan, dalam rekam-jejak Hatta Rajasa samasekali tidak ada korelasi langsung antara lamanya dia menempati posisi puncak lembaga politik tidak dengan prestasi yang dibukukan. Jabatan publik yang pernah diembannya ditenggarai lebih karena kedekatan pertalian keluarga ditambah dengan perhitungan menjaga keseimbangan koalisi politik yang digalang oleh pemerintahan yang lalu. Selama 13 tahun berada di pemerintahan itu tidak ada prestasi yang dibuat Hatta, baik di Kemenristek, Kementerian perhubungan maupun di kementrian perekonomian. Malahan Hatta Rajasa, lewat MP3EI, merusak lingkungan di Merauke dan kepulauan Aru, Maluku Tenggara. (Tribunnews.com, 01/06/2014)

Beralih ke Jokowi-JK

Jokowi memang hadir sebagai seorang super hiro yang tak pernah diprediksi sebelumnya. Sosoknya yang blusukan menambah nuansa baru pada pemilu tahun ini. Banyak sekali prediksi bahwa Jokowi belum siap jika harus mengurus setiap kantung beras masyarakat Indonesia. Jokowi memang berhasil mengkontruksikan Solo menjadi lebih baik. Penobatannya sebagai deretan Walikota terbaik di dunia. Namun hal itu masih dirasa kurang cukup untuk menjadikan Jokowi sebagai presiden.

Kerinduan masyarakat terhadap lahirnya pemimpin yang merakyat akhirnya terwujud di tengah krisis kepemimpinan melalui Jokowi. Jokowi melakukan pendekatan yang bisa dikatakan komunikasi politik yang lansung menyentuh masayarakat menengah ke bawah. Perlu di ingat bahwa mayoritas pemilih Indonesia adalah kelas menengah ke bawah.

Saya melihat, Jokowi cukup peka untuk memanfaat peluang yang ada. Bahkan ia terlihat lebih natural di bandingkan dengan calon lain yang pendekatan terhadap masyaraktnya cenderung dipaksakan agar terlihat lebih merakyat.

Track record Jokowi-JK memang tidak sehebat isue yang menyerang Prabowo-Hatta Rajasa yang jauh lebih kelam. Dari segi ekonomi berdasarkan visi dan misi Jokowi memprioritaskan kebijan ekonomi ke energi, infrastruktur dan pangan. Dengan terlebih dahulu memperbaiki sumber daya Manusia (SDM) yang masih menjadi problem besar bangsa dan negara. Selanjutnya mengarah ke bidang pertanian dengan menyejahterakan petani. (Harian Nasional, 05/06/2014)

Beberapa pengamat mengatakan visi-misi Jokowi-JK berangkat dari realistas yang ada, baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Sedangkan visi-misi Prabowo-Hatta kurang menyentuh realitas. Pengamat yang lain mengatakan kedua visi-misi pasangan calon Presiden ini sekedar mimpi dan banyak mengumbar janji. (Harian Nasional, 05/06/2014)

Sebagai pasangan Jokowi, Jusuf Kalla juga tampil kharismatik. Kekosongan terhadap sosok negarawan berhasil diisi dengan tampilnya JK. Pretasi organisasi yang baik dan inpirator terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Jusuf Kalla layak memperoleh anugerah Doktor HC atas kontribusinya dalam dunia kepemimpinan di Indonesia yang telah menginspirasi dan menerapkan kriteria pemimpin transformasional yaitu memiliki visi kedepan, berintegritas dan berdedikasi tinggi, gigih, memiliki passion, kreatif dan mampu menciptakan peluang usaha dan mengatasi konflik.

MoU Helsinky yang menyatakan kesepakatan damai antara GAM dan RI juga tidak terlepas dari pengaruh JK. Selain itu juga berkomunikasi efektif dengan orang dari berbagai kelompok, golongan, suku dan daerah, mampu berpidato serta berani mengambil resiko dalam membuat keputusan. Jusuf Kalla menampilkan diri sebagai seorang pimpinan transformasional yang mampu membawa organisasi pada sebuah tujuan baru yang lebih besar dan belum pernah dicapai sebelumnya dengan mengesampingkan kepentingan atau keadaan personalnya. (Antaranews.com, 10/02/2013)

Jusuf Kalla yang banyak mengambil keputusan strategis, kala Hatta Rajasa yang terlihat ragu dan menghindar dari mengambil keputusan besar, Jusuf Kalla tegas dalam mengambil keputusan yang didelegasikan kepadanya dan selalu pasang badan menjaga dan mengamankan keputusan yang sudah diambil tersebut demi kemulian harkat dan martabat Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia. (Tribunnews.com, 01/06/2014)

Tetapi bukan hanya itu, JK juga memiliki sejarah yang agak rumit. Elektabilitas golkar justru menurun di bawah pimpinan JK. Bukti kegagalan itu dapat dilihat dari selama memimpin Golkar Desember 2004-Oktober 2009, suara Golkar dalam pemilu 2009 malah turun 7 persen, artinya suara Golkar yang hilang sekitar 7 juta. JK dianggap tidak mampu mempertahankan perolehan suara Golkar. (Tribunnews.com, 8/06/2014).

Hasil Akhir

9 juli akan menjadi akhir pencarian pemimpin bangsa ini, keduanya memiliki peluang besar untuk mengambil piala kemenangan menduduki kursi presiden. Yang terpenting untuk di pahami, ini bukan kompetisi memperebutkan benda mati. Ini menyangkut hajat hidup makluk bernyawa. Ini menyangkut kemaslahatan bersama bangsa Indoneisa.

Siapapun yang nantinya terpilih, setiap orang pastinya memiliki harapan besar untuk kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Kendati kedua calon tersebut dinyatakan tidak layak untuk memimpin, tetap saja akan ada calon yang bakal menduduki tampuk pemegang kekuasaan tertinggi sebagai presiden. Ini negara demokrasi, pilihan di tangan saudara.

* Penulis adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh;
Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan IV; dan Ketua Komunitas Menulis Butuh Irigasi.
E-mail: asriatunzainal@gmail.com

 
Kyriad Muraya Hotel Aceh

Komentar

Loading...