Unduh Aplikasi

Website LPSE Agara Mati, Tender Proyek Pasar Rakyat Terutung Payung Diduga Ada Permainan

Website LPSE Agara Mati, Tender Proyek Pasar Rakyat Terutung Payung Diduga Ada Permainan
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH TENGGARA - Sejumlah pengusaha yang akan mengikuti proyek Pasar rakyat Terutung Payung, Aceh Tenggara kecewa. Hal ini disebabkan website Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Aceh Tenggara mati, sehingga mereka tidak bisa mengupload penawaran untuk proyek tersebut.

Informasi ini diperoleh AJNN dari pengamat kebijakan publik Aceh, Nasrul Zaman. Kepada AJNN Nasrul mengaku menerima beberapa pengaduan dari sejumlah pengusaha yang berasal dari Medan, Banda Aceh dan Kutacane yang berusaha ikut lelang di LPSE Aceh Tenggara.

Menurut para pengusaha sebagaimana disampaikan kepada Nasrul, saat mereka hendak mengupload penawaran pada hari Jumat dan Sabtu tanggal 2-3 Oktober 2020 website LPSE mati total, namun pada hari Minggu dan Senin, website tersebut terbuka sebentar, tapi kemudian mati lagi. 

Hal yang sama juga terjadi pada hari ini Selasa 6 Oktober 2020. Website yang baru terbuka pada pukul 10.00 WIB pagi, namun sudah tertutup lagi pada pukul 11.20 WIB.

"Menurut para pengusaha mereka juga sudah mengadukan hal ini pada pengelola website LPSE dan mengirimkan surat keberatan, namun karena websitenya off maka surat tersebut hanya bisa dikirimkan ke nomor WhatshApp pengelola LPSE saja," ujar Nasrul Zaman, Selasa (6/10) di Banda Aceh.

Menurut Nasrul, cara - cara seperti ini diduga sebagai sebuah bentuk permainan panitia lelang dan sering dialami oleh para pengusaha ketika ikut mengupload penawaran. 

Untuk itu, dirinya sebagai putra Aceh Tenggara berharap panitia lelang berjiwa besar dengan membuka dan menambah masa waktu penawaran selama 2-3 hari lagi. Dengan penambahan waktu ini, para pengusaha tersebut memiliki waktu lebih untuk mengajukan penawaran masing-masing. 

"Sebenarnya hal ini bisa termasuk perbuatan tidak terpuji dan masuk pada ranah hukum pidana sehingga penegak hukum bisa saja mulai masuk meneliti pola kerja dalam kasus ini untuk menjadi pelajaran bagi siapapun nanti," ujar Nasrul Zaman.

"Saya tentu saja berharap Bupati Raidin tidak membiarkan hal ini terjadi karena ini bertentangan dengan janji politik masa kampanye dahulu yang bercita - cita mewujudkan pemerintah yang clean and good governance," sambung Nasrul Zaman.

Sementara itu salah seorang anggota Pokja dan LPSE Aceh Tenggara, Mursadiq membantah kalau ada sesuatu hal yang disembunyikan dari matinya website LPSE tersebut. 

Menurut Mursadiq, penyebab tidak aktifnya website LPSE Aceh Tenggara karena matinya listrik pada pada hari Sabtu 3 Oktober 2020 lalu. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak pengelola LPSE mengunakan UPS, knamun kapasitas UPS hanya bisa bertahan 2-3 jam saja.

Mursadiq juga memastikan kalau pada hari lain selain hari Sabtu tersebut, website hidup seperti biasanya dan penawaran ada yang masuk. Kemudian di server itu tercatat kapan mati dan kapan hidup.

"Kita lempang - lempang saja pak, jadwal selama ini sudah berjalan di aplikasi," ujar Mursadiq kepada AJNN melalui sambungan telepon dari Aceh Tenggara.

Komentar

Loading...