Unduh Aplikasi

Waspada Covid-19; Mengantisipasi Tanpa Menghakimi

Waspada Covid-19; Mengantisipasi Tanpa Menghakimi
Foto: Ist

Oleh: Khairunnisa Fitri

Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya terjangkit virus covid-19, penyebarannya juga terbilang pesat. Setiap harinya jumlah pasien positif semakin bertambah dan jumlah pasien meninggal dunia juga tidak terbilang kecil. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan bahwa covid-19 merupakan pandemik global dikarenakan proses penyebaran dan penularannya begitu cepat.

Virus covid-19 semakin menunjukkan keganasannya. Virus ini dapat bermutasi sehingga  tidak semua orang yang terinfeksi memperlihatkan gejala serius, ada juga pasien yang terinfeksi namun hanya mengalami gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali, pasien-pasien ini disebut sebagai silent carrier. Silent carrier ini sulit terdeteksi karena tidak dapat dilihat secara lansung melainkan harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Sehingga beberapa orang yang tidak menunjukkan gejala, bisa saja berpikir bahwa dirinya sehat dan beraktivitas seperti biasa.

Padahal orang yang tanpa gejala juga dapat menularkan virus covid-19 ini pada orang lain di sekitarnya, baik kepada keluarga dekatnya maupun kepada masyarakat umum lainnya. Akibatnya virus ini mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya dan tentu saja penyebarannya juga akan semakin luas. Sehingga pasien Silent Carrier berpeluang besar menginfeksi orang disekelilingnya lebih cepat dari pasien biasa. Tidak menutup kemungkinan akan ada pasien-pasien silent carrier yang tidak menyadari bahwa ia telah menginfeksi orang-orang disekelilingnya.

Semenjak adanya pemberitaan di Indonesia mengenai korban yang dinyatakan meninggal karena terkena virus covid-19, orang-orang mulai menyadari bahwa virus ini sangatlah berbahaya. Hal ini menyebabkan terjadinya panic shopping diberbagai tempat, semua orang berbondong-bondong membeli alat perlindungan diri untuk keselamatannya. Sehingga lambat laun stock barang semakin menipis dan menjadi langka.

Sangat disayangkan memang tindakan masyarakat yang berlebihan sampai-sampai tidak memikirkan keselamatan orang lain. Selain itu masyarakat juga mulai saling mencurigai satu sama lain. Apalagi orang yang baru saja berpergian atau  singgah di daerah yang telah dinyatakan sebagai zona merah. Namun, kekhawatiran ini terbilang wajar, fakta bahwa pasien yang positif harus dirawat diruang isolasi dan tidak boleh dijenguk oleh keluarga, belum lagi komentar negatif dari warga kampung tempat ia tinggal membuat masyarakat semakin ketakutan. Banyak isu-isu yang menjadi kabar mengerikan untuk masyarakat indonesia.

Namun masyarakat tidak seharusnya bertindak berlebihan sehingga mengenyampingkan keselamatan orang-orang yang terinfeksi ataupun orang-orang dalam pengawasan dengan anggapan-anggapan yang tidak baik. Memang betul kita harus menjaga jarak dan selalu memperhatikan kesehatan, tetapi kita juga harus memberikan dukungan dan doa agar mereka dapat segera sembuh.

Anjuran untuk antisipasi memang terus dikerahkan oleh berbagai pihak agar semua bisa menjaga keselamatan dirinya masing-masing. Tentunya antisipasi ini ditujukan untuk kita tanpa harus menghakimi orang yang telah terinfeksi atau orang dalam pengawasan.

Bahkan pihak medis yang bekerja keras untuk membantu penyembuhan pasien juga di pandang sebelah mata, beberapa orang juga di tolak keberadaannya di lingkungan tempat ia tinggal. Lalu jika pahlawan covid-19 seperti tenaga medis saja kita curigai dan dihakimi, siapa lagi yang akan menyelamatkan kita saat kita telah terinfeksi. Kita harus ingat bahwa tenaga medis mengorbankan diri bahkan nyawanya untuk melindungi kita. Mereka rela tidak pulang, tidak bertemu dengan keluarga bahkan ada yang tidak pulang untuk selama-lamanya akibat gugur digarda depan karena melawan ganasnya virus ini.

Orang-orang yang terinfeksi juga pasti tidak mau berada di posisi yang menakutkan seperti ini. Apakah kita pernah berpikir betapa takut dan cemasnya mereka. Mereka belum tentu bisa kembali ke rumah, menjumpai keluarga, ketika berada di rumah sakit tidak ada yang boleh menjenguk, bahkan ketika sudah meninggal pun tidak boleh ada yang melayat.

Banyak juga stigma masyarakat untuk orang yang sudah terinfeksi atau orang yang masih diduga terkena virus ini, tentunya hal ini akan menimbulkan psikosomatik bagi mereka. Gangguan ini merupakan suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran mempengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya keluhan fisik. Gangguan ini bisa dialami oleh siapa saja.

Keadaan seperti ini membuat orang-orang yang berada di perantauan takut untuk kembali ke kampung halamannya. Bukan takut saja, tetapi memang sudah tidak diperbolehkan untuk pulang karena di khawatirkan dapat menyebarkan virus. Betapa sedihnya mereka di sana, bertahan di tengah-tengah kepedihan karena tidak dapat bertemu dengan keluarga. Belum lagi mereka juga memikirkan stigma apa yang mereka dapat ketika mereka pulang. Sehingga beberapa dari mereka ada yang memilih bertahan dan tidak pulang.

Lalu bagaimana dengan orang yang sudah terlanjur pulang? Mereka terpaksa harus melakukan isolasi diri dirumah. Selain itu pastinya mereka harus siap dengan komentar atau tanggapan-tanggapan negatif dari orang disekitarnya, Tentu saja hal ini bisa memperburuk keadaannya yang sebelumnya baik-baik saja menjadi sebaliknya akibat stigma yang diberikan.

 Setiap orang memiliki haknya masing-masing baik mereka yang telah terinfeksi virus maupun yang belum. Mereka yang terinfeksi berhak untuk sembuh. Mereka berhak mendapatkan dukungan dan doa dari orang-orang disekelilingnya  Begitu juga kita yang masih sehat kita mempunyai hak untuk terus menjaga diri dengan selalu mengantisipasi agar terhindar dari bahaya ini. Indonesia telah dikenal sebagai salah satu negara dengan penduduk ter-ramah didunia, mari kita tunjukkan bahwa aggapan tersebut bukan hanya bualan semata, Indonesia akan semakin kuat jika rakyatnya saling bahu-membahu dan tidak ada permusuhan antara satu sama lain ditengah bencana seperti saat ini

 Penulis adalah mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Komentar

Loading...