Unduh Aplikasi

Wartawan di Aceh Barat Diancam dengan Senjata Api

Wartawan di Aceh Barat Diancam dengan Senjata Api
Aidil memperlihatkan bukti laporan terhadap Akrim di Mapolres Aceh Barat. Foto: AJNN.Net/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Aidil Firmansyah, wartawan media lokal, Modus Aceh.co melaporkan Direktur PT Tuah Akfi Utama, Akrim, ke pihak ke Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat.

Aidil melaporkan Akrim karena Direktur Tuah Akfi Utama itu diduga melakukan pengancaman menggunakan senjata api jenis pistol. Pengancaman tersebut dilakukan Akrim di kantornya yang beralamat Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, sekira pukul 01.30 WIB.

Aidil membuat laporan ke Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat, Minggu, sekira pukul 12.00 WIN dan didampingi sejumlah wartawan dari berbagai media.

Usai membuat laporan di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Aidil mengatakan saat kejadian berawal dari berita yang dibuatnya terkait dengan angkutan tiang pancang PLTU 3 dan 4 yang dihadang warga.

Ia mengaku melaporkan peristiwa ini ke polisi karena ketakutan setelah mendapat pengancaman dari Akrim.

"Saya melaporkan karena menyangkut kehidupan saya. Saya sempat mendapat ancaman, bahkan akan dihabisi. Saya kemana-mana tidak berani," kata Aidil.

Menurut Aidil, ancaman dengan menggunakan senjata api terjadi di ruang kerja Akrim, yang saat itu Aidil ditemani oleh Deni Sartika Wartawan, Rakyat Aceh

Berdasarkan keterangan dari Aidil, Minggu (6/1) dini hari, ia sedang duduk di salah satu warung kopi bersama rekannya, lalu dijemput oleh Safrizal alias Wak Jal bersama dengan rekannya yakni Yatno.

"Saya diajak ke Desa Suak Ribee ke kantor Akrim. Saya katakan saya tidak berani. Lalu Yatno dan Wak Jal bilang saya yang jamin disana tidak ada apa-apa," kata Aidil.

Sesampainya di kantor tersebut, Aidil mengaku tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari mereka yang berada di kantor tersebut. Bahkan, saat sampai di kantor tersebut, ia tidak disapa dengan baik, namun malah diancam.

Sebelum datang ke kantor tersebut, memang katanya Wak Jal dan Yatno sempat berbincang dengannya, dan dirayu untuk diajak ke kantor milik Akrim dan mereka menjamin jika tidak akan terjadi apapun dengannnya.

"Karena mereka menjamin saya tidak disentuh apapun makanya saya berani kesana," ungkapnya.

Disebutkannya, Akrim diduga marah kepadanya lantaran dalam pemberitaan yang ditulisnya itu menyebutkan PT Tuah Akfi Utama.

Aidil mengaku berani menuliskan nama PT Tuah Akfi Utama dalam beritanya karena narasumber yang diwawancarainya tersebut menyebutkan nama perusahaan tersebut.

Selain menunjukkan senjata api kepada Aidil, Akrim juga mengamcam akan membunuhnya.

"Ancamannya itu saya akan dibunuh. Dikatakannya begini, selama kamu berada di Aceh Barat khususnya kamu tidak akan aman. Dan ada juga rekannya yang mengatakan lagi, kalau kamu berada di barat selatan lagi sedikit-sedikit, disana dipegang sedikit disana dipegang sedikit," cerita Aidil lagi.

Aidil berharap dengan laporan yang disampaikan kepada pihak Kepolisian bernomor LP/04/I/2020/ACEH/RES ABAR/SPKT segera ditindak lanjuti oleh pihak Kepolisian setempat.

Saat ini, ia benar-benar ketakutan bahkan sangat waspada pascamendapat pengancaman tersebut.

"Sekarang kalau ada telepon masuk nomor baru atau nomor yang tidak terdaftar di hp saya, saya tidak akan angkat," ujarnya.

Hingga berita ini diunggah, AJNN belum berhasil mendapatkan keterangan dari Akrim. Dari pantauan AJNN, Akrim sekira pukul 17.30 WIB sedang menjalani pemeriksaan sebagai saksi terlapor atas peristiwa itu.

Sementara itu, Safrizal alias Wak Jal membantah jika Aidil mendapat pengancaman dari Akrim. Sebagai orang yang menjemput dan mempertemukan Aidil, Wak Jal mangatakan apa yang disampaikan Aidil tidak benar.

"Saat itu saya yang membawa Aidil Kantor Tuah Akfi, karena Akrim ingin berjumpa Aidil untuk mengklarifikasi berita yang diulas oleh Modus Aceh," ungkapnya.

Pasalnya, berita yang ditulis Modus tidak sesuai dengan apa yang disampaikan narasumber, hingga perlu diluruskan.

"Jadi tidak benar seperti yang disampaikan Aidil diancam, bahkan sampai disebutkan menggunakan senjata api," ujarnya.

Sebelum mengajak Aidil, ia mengaku sudah menghubungi beberapa rekannya yang ada di kantor itu untuk menahan emosi. Ia mengatakan menjamin jika Aidil tidak akan mendapatkan kekerasan disana.

"Abang kan kenal saya, Aidil itu kan seperti adik saya bang, jadi tidak mungkinlah saya tidak menjamin keamanan dia disana, apalagi saya yang bawa. Bahkan bang Yatno saat itu juga ikut menjaminnya," imbuhnya.

Komentar

Loading...