Unduh Aplikasi

Warga Lhoknga Ancam Tutup Pabrik Semen Lafarge

Warga Lhoknga Ancam Tutup Pabrik Semen Lafarge
Personil kepolisian berjaga di depan pabrik semen Lafarge. Foto: Arman Konadi
ACEH BESAR - Warga di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, mengancam menutup paksa PT Lafarge Cement Indonesia (LCI). Ancaman disampaikan ratusan warga yang saat menggelar aksi damai di depan pabrik Lafarge, Selasa (22/3).

“Apabila tuntutan kita tidak terealisasi, Lafarge kita tutup total. Dia sudah meresahkan masyarakat,” kata Yustika, koordinator aksi.

Aksi dimulai sekira pukul 11.00 WIB. Dan berada dalam pengawalan ketat aparat kepolisian dari Polres Aceh Besar dan Direktorat Pam Obvit Polda Aceh. Kepala Polres Aceh Besar Ajun Komisari Besar Polisi Heru Novianto turut memantau pergerakan massa demonstran.

Sebelumnya, ratusan warga dari empat desa di kemukiman Lhoknga, yakni Mon Iken, U Raya, Lampaya serta Lam Kruet, berkumpul di Masjid Desa LamKruet. Warga kemudian berkonvoi menuju Lafarge yang berada di Jalur Banda Aceh- Calang.

Setiba di lokasi, warga menggelar doa dan melepas bibit ikan di Sungai Krueng Balee yang mengalir dari Kompleks Lafarge dan bermuara ke Laut Lepas. Usai menggelar doa dan melepas benih ikan, massa kemudian berorasi secara bergantian.

Zulfan, juru bicara warga Lhoknga, mengatakan aksi ini digelar sebagai buah kekecewaan terhadap sikap Lafarge yang tidak menggubris tuntutan warga. Menurutnya, warga mendesak agar perusahaan milik Republik Prancis itu menghentikan aktivitas pembuangan limbah ke Krueng Balle.

"Permintaan ini kami sampaikan berulang kali tapi tidak pernah digubris. Selama ini kami masih menghormati perusahaan tapi itu tidak kami dapatkan," kata Zulfan kepada wartawan di sela-sela aksi.

Menurut Zulfan, aksi melepas limbah lama dilakukan Lafarge. Tidak hanya itu, debu yang ditimbulkan dari operasional Lafarge sangat mengganggu kesehatan warga.

“Dulu mereka (Lafarge) berkomitmen untuk bertanggungjawab dengan memberikan pemberdayaan kepada masyarakat Lhoknga termasuk ganti rugi, tapi sampai sekarang tidak ada realisasinya,” kata Zulfan.

Aksi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut berakhir setelah warga membaca tuntutannya agar Lafarge bertanggung jawab. Mereka mengancam akan menggelar aksi dengan massa yang lebih besar jika perusahaan tersebut tidak memenuhi tuntutan warga.

| ARMAN KONADI
IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...