Unduh Aplikasi

Warga dan PLTU Sepakat Ganti Rugi Tunggu Penilaian dari KJPP

Warga dan PLTU Sepakat Ganti Rugi Tunggu Penilaian dari KJPP
Sejumlah ibu-ibu melakukan pembpokiran pintu masuk PLTU 1 dan 2. Foto: AJNN/Darmansyah

ACEH BARAT - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 dan 2 Nagan Raya mengaku berkomitmen membayar ganti rugi lahan milik warga Dusun Geulanggang Merak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, hanya saja saat ini upaya tersebut masih dalam proses pendataan.

Bagian SDM Umum, PLTU 1 dan 2 Nagan Raya, Ahmad Zaki, mengatakan dalam hal ini sebenarnya masyarakat menginginkan pembayaran secara langsung tanpa adanya tahapan proses seperti pendataan dan penilaian harga yang akan dilakukan oleh Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP) Medan Sumatera Utara.

Baca: Ganti Rugi Tak Kunjung Jelas, Warga Blokir Pintu Masuk PLTU 1 dan 2

Keinginan tersebut diketahui saat pertemuan dengan warga yang berlangsung di Kantor Desa Suak Puntong, pada Senin, (17/2) sore.

“Jadi inti pembicaraannya di kantor Desa, masyarakat maunya pembayaraannya langsung, sementara itukan punya proses. Mereka tidak mau sabar tunggu proses. Sementara titik temunya KJPP mau turun langsung, jadi disitu ada nilainya-nilainya semua kita sepakati,” kata Pak Jack—sapaan akrab—Ahmad Zaki, saat dihubungi AJNN, melalui telepon selularnya.

Menurutnya, keinginan masyarakat untuk pembayaran langsung tidak dapat dilakukan perusahaan, lantaran setiap pembayaran yang dilakukan harus jelas terlebih dahulu nilai kesepakatan sesuai penilaian KJPP.

Untuk saat ini, kata dia, hasil pertemuan warga dengan manajemen PLTU 1 dan 2, PT Mifa dan PLTU 3 dan 4, telah memiliki hasil kesepakatan untuk dilakukan penilaian KJPP minggu depan.

Menurutnya, untuk surat ganti rugi milik warga sebenarnya selama ini juga belum diusulkan oleh kepala desa setempat, dan baru pagi tadi diusulkan ke PLTU 1 dan 2, untuk dilakukan proses.

Terkait dengan aksi yang dilakukan oleh warga, kata dia, pihaknya tidak tahu akan ada aksi lantaran dilakukan secara tiba-tiba tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya.

“Tiba-tiba juga tadi tanpa konfirmasi dan surat tekhnis keramaian pun nggak ada. Masalah ganti rugi itu kan surat ganti rugi masuk, baru kita proses baru kita tanda tangan. Tadi pagi baru masuk surat itu sementara sudah konfirmasi ke kantor desa. Seharusnya kita arahkan kesana, tapi warga masih kemari,” ujarnya.

Pantauan AJNN selain PLTU 1 dan 2 warga ikut memblokir pintu masuk milik PLTU 3 dan 4. Pintu masuk PLTU 3 dan 4 diblokir warga menggunakan kawat berduri, akibatnya proyek pembangunan PLTU 3 dan 4 terhenti.

HUT Pijay

Komentar

Loading...