Unduh Aplikasi

Warga Curek Tolak Pengembangan Lahan Sawit Milik PT Boswa

Warga Curek Tolak Pengembangan Lahan Sawit Milik PT Boswa
Warga Gampong Curek Tolak Kehadiran PT Boswa di desanya. Foto: Ist

ACEH JAYA - Sejumlah warga Gampong Curek, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya menggelar aksi menolak kehadiran PT. Boswa Megalopoli di gampong setempat, Minggu (1/9) kemarin.

Penolakan tersebut dilakukan warga Curek dengan membentang sebuah spanduk yang bertulisan "Kami masyarakat Curek sepakat menolak kehadiran PT Boswa Megalopoli di desa kami" yang kini foto tersebut beredar luas di medsos dan grup WhatApps.

Selaku tokoh masyarakat Gampong Curek, Bardin, yang dihubungi AJNN, Senin (2/9) mengatakan jika aksi yang dilakukan kamarin itu merupakan bentuk penolakan oleh warga terhadap kehadiran PT Boswa Megalopoli yang ingin mengoperasikan lahan hutan yang ada dalam wilayah adat di Gampong Curek seluas lebih kurang 500 Hektare.

Menurutnya, alasan warga menolak kehadiran PT Boswa di desa Curek itu karena akan menimbulkan dampak pencemaran lingkungan serta akan mengundang bencana alam lainnya.

"Kami sebagai masyarakat menolak kehadiran PT Boswa Megalopoli di Desa Curek untuk menyelamatkan kelestarian lingkungan yang ada di daerah kami," ujarnya.

Sementara itu, salah satu pemuda Desa Curek, Hendra juga mengatakan jika kehadiran PT Boswa yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit juga menjadi ancaman bagi masyarakat yang berada disekitar HGU tersebut.

Sambungnya, selama ini juga sudah sangat sering terjadinya konflik lahan masyarakat dengan pihak perusahaan seperti yang pernah terjadi antara pihak PT Boswa Megalopoli dengan masyarakat Curek dan warga Alue Tho beberapa tahun yang lalu hingga memakan korban jiwa.

"Maka dari itu kami tidak ingin konflik seperti itu terulang lagi dikemudian hari, karena yang menjadi korban nantinya juga masyarakat kami," tuturnya.

Selain itu, pembukaan lahan perkebunan sawit juga menimbulkan dampak yang serius bagi pencemaran lingkungan khsusunya di Desa Curek dan Alue Tho.

"Namun jika pihak PT Boswa juga nekat untuk mengunakan lahan tersebut, maka semua tuntutan masyarakat seperti beberapa persyaratan yang telah kami tawarkan harus dipenuhi oleh PT Boswa Megalopoli," jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepada pihak perusahaan dan pemerintah baik ditingkat kecamatan maupun di kabupaten agar terbuka dengan masyarakat khususnya Gampong Curek.

Jangan sampaikan dikemudian hari polemik ini akan menimbulkan masalah baik antara Desa Gampong Curek dengan pihak perusahaan maupun dengan pihak Pemkab Aceh Jaya.

"Kami hanya tidak ingin hutan adat milik Gampong Curek habis dikelola oleh perusahaan, sedangkan masyarakat hidup melarat di atas tanahnya sendiri," ucap Hendra.

"Dalam waktu dekat ini kami juga akan mengirimkan penolakan secara resmi kepada Pemkab Aceh Jaya untuk mnolakan kehadiran PT Boswa di Desa Curek," sambung Hendra.

Adapun tuntukan warga desa Curek yakni:
1. Pihak PT Boswa wajib menyediakan sumber air bersih bagi warga masyarakat Desa Curek dalam setiap kepala keluarga.

2. Pihak PT Boswa harus bersedia membuat sertifikat untuk diserahkan kepada masyarakat Curek sebanyak 250 lembar, dalam satu sertifikat 2 hektare lahan menjadi hak penuh milik masyarakat Curek dan masyarakat wajib menerima sertifikat asli setiap satu kepala keluarga.

3. PT Boswa bersedia membuat lahan tersebut untuk masyarakat dan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat.

4. Masyarakat bersedia menjual buah hasil panen kepada pihak PT Boswa selamanya.

5. Jalan alternatif PT Boswa harus melalui Desa Curek, maka jika semua yang tersebut di atas bisa disepakati maka pihak masyarakat Desa Curek dapat berkerjasama dengan pihak PT Boswa.

Komentar

Loading...