Unduh Aplikasi

Warga Ancam Buka Paksa Alur Sungai yang Ditutup, Camat Diminta Turun ke Lokasi

Warga Ancam Buka Paksa Alur Sungai yang Ditutup, Camat Diminta Turun ke Lokasi
Muhammad Arif memperlihatkan peta alur sungai yang ditutup. Foto: AJNN/Sarina

ACEH TIMUR – Puluhan masyarakat Gampong Meunasah Hasan, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, meminta camat setempat turun ke lokasi alur sungai  (Alue Lancang) yang ditutup dan dijadikan tambak di desa setempat.

“Untuk membuktikan adanya transaksi ganti rugi tanah milik negara (Alue Lancang) oleh Keuchik Meunasah Hasan, Baktiar, yang ada di kawasan hutan lindung desa. Kami warga meminta kepada kecamatan untuk segera turun ke lokasi,” kata salah seorang perwakilan warga yang dirugikan, Muhammad Arif kepada AJNN, Minggu (11/10).

Baca: Alur Sungai Ditutup, Puluhan Warga di Aceh Timur Merasa Dirugikan

Dikatakan Arif, apabila pihak kecamatan tidak turun juga ke lokasi, masyarakat akan membuka paksa alur sungai yang ditutup tersebut, sehingga warga bisa kembali mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Pada Ramadan 2019 lalu, Keuchik Gampong Meunasah Hasan (Baktiar), melakukan transaksi ganti rugi Alue Lancang yang merupakan tanah milik negara kepada Zulkifli,” ujar Arif.

Menurutnya, keuchik melakukan transaksi itu tanpa terlebih dulu melakukan musyawarah dengan masyarakat. Akibat perbuatan kepala desa tersebut sudah merugikan warga setempat, karena kesulitan mencari rezeki.

Mengenai transaksi itu, lanjut Arif, puluhan warga melaporkan ke Polsek Madat pada 11 Juni 2020. Laporan tersebut dilengkapi dengan bukti-bukti seperti foto dan berkas-berkas lain yang diperlukan.

“Laporan kami, hingga Kapolsek dimutasi tidak ditanggapi, kami selaku warga meminta kepada pihak kecamatan, agar membuka alur yang ditutup itu, supaya masyarakat kapan saja bisa menceri reski,” imbuhnya.

Keuchik Gampong Meunasah Hasan, Bakhtiar saat dihubungi AJNN sebelumnya membantah hal tersebut, menurutnya alur selama ini tidak berfungsi, bahkan katanya bukan satu alur di desa Meunasah Hasan, akan tetapi sangat banyak yang sudah ditutup menjadi tambak.

“Alur itu  ditutup namun di buka lain, kami punya data dan sudah dimusyawarahkan hal dengan Tuha Peut,” kata Keuchik kepada AJNN.

Sambung Keuchik, kalau mereka (warga) merasa terganggu, setidaknya ada masyarakat datang ke dirinya (keuchik) untuk menanyakan, Alur sudah ditutup dan masyarakat dirugikan, namun menurutnya hingga kini belum ada satu orangpun yang datang.

 “Memang benar ada kita terima uang Rp25 juta, namun uang itu untuk desa dan sisanya untuk pembangun yang dibutuhkan,” jelasnya, saat ditanyakan harga ganti rugi alur bernilai puluhan juta yang diterima dan tanpa diberitahukan kepada warga.

Komentar

Loading...