Unduh Aplikasi

Walhi: Proyek PLTA Belum Kantongi Izin Pinjam Kawasan dan Lingkungan

Walhi: Proyek PLTA Belum Kantongi Izin Pinjam Kawasan dan Lingkungan
Peta dampak ekologi PLTA Tampur. Foto: Dok Walhi

ACEH TIMUR - Rencana pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tampur yang berlokasi di Kawasan Ekosistem Leuser diduga berpotensi menggeserkan tempat mata pencarian warga yang bermukim di kawasan tersebut.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh Muhammad Nur mengatakan, perusahaan tersebut secara dokumen sudah mengantongi Analisi Dampak Lingkungan (Amdal) sekitar awal tahun 2016, namun belum mengantongi izin usaha, izin lingkungan dan izin pinjam kawasan.

"Untuk di daerah Simpang Jernih rencananya akan dibangun bendungan serta tiang-tiang yang berkaitan dengan proyek PLTA tersebut. Tapi yang ada dalam Amdal hanya Tampur l yang kawasannya meliputi Aceh Timur, Gayo Lues, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang, semua lokasi yang hendak dibangun PLTA tersebut masuk kedalam Kawasan Hutan Lindung dan Kawasan Ekosistem Leuser," kata Muhammad Nur kepada AJNN, Minggu (28/1).

Ia mengatakan hasil investigasi di lapangan apabila Kawasan Hutan Lindung dan aliran sungai yang masuk dalam kawasan PLTA Tampuh-1 beralih fungsi, sehingga mengakibatkan potensi kekeringan di kawasan hilir daerah aliran Sungai Tampur, dan beberapa daerah yang termasuk dalam kawasan hilir tersebut, seperti Desa Lesten, daerah tugu selaku calon lokasi relokasi Desa Lesten, dan beberapa desa di Kecamatan Pining lainnya, hingga ke Kota Blangkejeren.

Baca: Proyek PLTA di Aceh Timur Masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser

"PT Kamirzu juga berencana untuk membangun dan meningkatkan jalan akses ke lokasi proyek dari Simpang Melidi-DAM sepanjang 13,95 Km, jalan akses Simpang Melidi - Babo sepanjang 27, 14 Km, jalan Babo-Pulau Tiga sepanjang 11,08 Km serta jalan Pulau Tiga-Simpang Semadam sepanjang 15,97 Km," kata M Nur.

Selain itu, ia mengungkapkan PT Kamirzu juga menawarkan opsi relokasi kepada masyarakat Desa Lesten, namun hingga saat ini belum ada kepastian lokasi relokasi maupun besaran kompensasi yang akan warga terima. Adapun informasi seputar besaran kompensasi yang warga terima dinilai tidak mampu menutupi kerugian warga akibat relokasi.

"Dari sejumlah kawasan hutan maupun aliran sungai yang terancam berkurangnya debit air yang dialiri untuk pertanian, maupun sebagai lokasi mata pencarian warga setempat. Dan hal itu tentu dapat bergesernya tempat mata pencaharian warga, maupun hilangnya tempat mata pencaharian, serta sejumlah satwa yang dilindungi yang ada di Kawasan Ekosistem Leuser juga akan terancam habitatnya," ungkap Muhammad Nur.

Komentar

Loading...