Unduh Aplikasi

WALHI: Ada Tujuh Tambang Emas Ilegal di Aceh

WALHI: Ada Tujuh Tambang Emas Ilegal di Aceh
Foto: Ist

BANDA ACEH - Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, Muhammad Nur menyebutkan ada tujuh tambang emas ilegal yang tersebar di beberapa kabupaten di Aceh.

Tambang emas ilegal itu tersebar di Geunteut dan Jantang, Kecamatan Lhoong Aceh Besar, gunung Ujeun Kecamatan Krueng Sabee Aceh Jaya, pegunungan dan sungai Kecamatan Tangse dan Geumpang Pidie.  

Kemudian di Krueng Cut Kecamatan Beutong dan Krueng Kila, Kecamatan Seunagan Timu, Nagan Raya, Lancang dan Tutut, Kecamatan Sungai Mas dan Hulu Sungai, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat, Lumut, Kecamatan Linge Aceh Tengah dan Gunung Mersak Kecamatan Sawang dan Menggamat di Aceh Selatan.

M. Nur mengatakan, dampak sederhana dari tambang ini sendiri yakni merusak ekosistem hutan, merusak sumber air, merusak lahan, merusak gubung, menciptakan lubang akibat galian dan merusak bantaran sungai.

"Dia juga berbahaya untuk kesehatan sebab tambang emas dekat kerap menggunakan bahan-bahan beracun seperti mercuri," kata M.Nur saat dihubungi AJNN, Selasa (8/12/2020).

Dampak lain dari tambang ilegal maupun legal itu sendiri yakni merusak habitat satwa yang berada di kawasan sekitar tambang.

"Baik ilegal maupun legal sih sama saja," ujarnya.

Meski begitu, pemerintah juga sudah mengeluarkan beberapa aturan terkait tambang ilegal ini. Misalnya Kabupaten Pidie. Daerah itu pernah mengeluarkan sikap bersama yang meminta tambang emas ilegal di Lancong dan Tutut itu dihentikan.

"Tapi nggak bisa berhenti juga. Baru Kabupaten Pidie saja yang bergerak. Kabupaten lain masih belum," ungkapnya.

"Tapi nggak efektif juga. Sebab kegiatan tambang emas itu sulit untuk dihentikan. Jadi kalaupun berhenti karena emas itu sudah habis. Bukan karena ingin melestarikan lingkungan," lanjutnya.

Lanjut M. Nur, sebenarnya pemerintah juga dapat menggunakan tambang emas itu sebagai bentuk usaha. Namun, di Aceh sendiri tambang emas itu rata-rata diserahkan langsung kepada pengusaha.
 
"Kalau pemerintah yang mengelola juga saya kira kurang efektif, mungkin karena keterbatas jumlah emasnya. Mungkin kalau solusinya jangan diambil sekarang aja kalau mau. Kalaupun dipaksa ambil, pakai sistem jangan merusak. Jangan gunakan pola pengerukan, tapi pakai sistem pertambangan dibawah tanah," pungkasnya.

|Indra Wijaya

Komentar

Loading...