Unduh Aplikasi

Wagyu Halal, Leumo Aceh Ghayek, Pureweren Gayo dan Keju Mozarella (I)

Wagyu Halal, Leumo Aceh Ghayek, Pureweren Gayo dan Keju Mozarella (I)
Ahmad Humam Hamid. Foto: Nurulazizi.sch.id

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Sekalipun sering disebut “zuriat” sapi Aceh sebagai persilangan boss indicus-sapi India dengan bos bibos javanicus, banteng Jawa, akan tetapi banyak kepustakaan menyebutkan sapi India paling kurang telah dibawa ke Aceh semenjak Kerajaan Peurelak pada abad ke 9. Itu artinya, masyarakat Aceh secara bukti tertulis telah mengenal konsumsi daging sapi lebih dari 1,200 tahun yang lalu. Kalau kemudian perkembangan sapi berikut dengan budaya makan daging sapi yang lebih berkembang di Aceh Besar dari tempat lain di Aceh, alasannya sangat gampang. Lebih dari 500 tahun terakhir Banda Aceh adalah pusat kekuasaan di Aceh sekaligus sebagai pusat perdagangan dengan dunia luar.

Kalau melihat kepada prestasi makan daging sapi, maka manusia Aceh sesungguhnya telah lebih lama menikmati sapi dibandingkan dengan masyarakat Jepang. Agama shinto-budha di Jepang pada masa dahulu melarang pemeluknya untuk mengkonsusmsi binatang berkaki empat, terutama sapi. Walupun peradaban Jepang terkait erat dengan Cina, akan tetapi norma ketat Buddha di Jepang pada saat itu membuat mereka “ puasa” makan daging sapi sekitar 2, 000 tahun.

Masyarakat Jepang baru mulai mengkonsusmsi daging pada tahun 1868, hanya beberapa tahun saja sebelum perang Aceh di mulai. Restorasi Meiji dan terbukanya Jepang dengan dunia luar membuat Kaisar Jepang menganjurkan rakyatnya untuk mengkonsumsi daging sapi. Sebelumnya, Jepang juga sudah memiliki sapi lokal, akan tetapi penggunaannya lebih banyak sebagai “mesin “ untuk keperluan tambang, angkutan kayu, dan kegiatan penyiapan lahan pertanian. Nampaknya, budi daya padi masyarakat Jepang berjalan seiiring dengan budi daya ternak sapi mereka.

Disamping alasan agama, ekologi Jepang juga tidak cocok untuk menjadikan sapi sebagai sumber makanan, apalagi mengingat budaya makanan utama Jepang adalah hasil laut, terutama ikan. Pulau-pulau kecil dengan topografi yang berbukit-bukit dan tidak memiliki hamparan dataran yang luas tidak memungkinkan berkembangnya budi daya ternak seperti di banyak negara-negara benua. Kasus budaya makan Jepang juga memberikan contoh yang paling prima tentang bagaimana ekologi berpengaruh kepada pola makan suatu masyarakat.

Berbeda dengan Japang, sejarah ternak di Aceh, terutama sapi dan kerbau adalah peternakan alami yang dilepas di hamparan luas, semisal kawasan padang rumput di daerah pergunungan, dan bahkan rawa rawa. Tidaklah mengherankan kalau kemudian kita mengenal padang penggembalaan bersama yang dimiliki secara “komunal” oleh masyarakat Aceh di berbagai tempat. Istilah Blang Pureweren di Gayo adalah sebuah istilah yang ditemui di hampir semua tempat di Gayo, dimana kelompok-peruweren- pemilik kerbau memiliki kawasan bersama, tempat dimana kerbau milik anggota kelompok merumput dan mendiami kawasan.

Seluruh kawasan pantai timur dan barat Aceh memiliki padang penggembalaan komunal, baik untuk sapi maupun kerbau sesuai dengan pilihan masyarakat setempat. Di kawasan pulau sekalipun, seperti di Simeulu terdapat banyak padang penggembalaan, terutama rawa komunal. Bahkan, tidak berlebihan dari dulu sampai hari ini, kerbau adalah salah satu andalan ekonomi masyarakat Simeulu yang di “ekspor” secara rutin ke daratan, terutama ke pasar di Sumatera Utara di Medan.

Istilah kandang sapi dan kerbau di kampung-kampung di Aceh lebih banyak ditujukan kepada ternak yang di lepas pada siang hari-umumnya dibiarkan mencari makanan sendiri, dan malamnya pulang ke kandang, dengan kondisi apa adanya. Intensifnya penggunaan lahan sawah dalam 30 tahun terakhir telah membuat pemilik ternak harus lebih disipilin menjaga ternaknya pada musim tanam padi atau palawija, karena akan berhadapan dengan ancaman denda atau penggunaan “kekerasan” semisal tombak, parang, bahkan racun kepada ternak dari pemilik tanaman.

Kejadian saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan kejadian 30 tahun yang lalu, ketika sawah hanya ditanam sekali setahun. Istilah luah blang adalah suatu keadaan dimana sawah “diberakan”-tidak ditanam- selama 6 bulan atau lebih yang kemudian menjadikan puluhan ribu, bahkan ratusan ribu hektar sawah di Aceh menjadi padang penggelembaan komunal masyarakat. Saat ini tidak hanya sawah yang beroperasi sepanjang tahun, bahkan semua tanah darat dan ladang di pelbagai pelosok, telah dipagar dan ditanami dengan berbagai tanaman, sehingga ternak tidak bebas lagi berkeliaran seperti sebelumnya.

Ada sebuah kesalahan kolektif di Aceh, atau mungkin juga “gagal paham” kolektif bahwa “penetrasi pasar” dan “ekspansi kapital” telah merobah landskap lahan berikut dengan sistem kepemilikan. Budaya alami melepaskan ternak secara bebas di Aceh dalam 30 tahun terakhir telah dikepung dari berbagai segi, kepadatan penduduk, pengusahaan berbagai komoditi tanaman di kawasan area penggunaan lain kawasan hutan, dan pelepasan Hak Guna Usaha perkebunan.

Seperti diketahui komoditi komoditi strategis pasar internasional, seperti coklat, kopi, sawit, karet telah ditanam secara ekstensif dan intensif di hampir semua daerah di Aceh. Akibat pertambahan penduduk, telah terjadi pula konversi lahan untuk tanaman-tanaman hortikultura, termasuk pembukaan lahan sawah baru. Ini adalah beberapa contoh bagimana “lahan ternak” baik secara langsung atau tidak langsung telah terkonversi dan terintegrasi dalam sebuah sistem ekonomi global. Bila saja hitungan rasio ternak dengan luas hamparan merumput, hanya untuk kasus sapi dan kerbau dihitung, dipastikan rasionya telah berkurang secara sangat drastis, mungkin saja kelipatan seratus.

Pembuat kebijakan publik, dan bahkan peneliti Universitas abai melihat betapa Aceh sudah tidak lagi relevan menggunakan pendekatan budi daya ternak secara lepas di lapangan terbuka-grazing,free range, dan lupa bahwa ada sistem alternatif , akan tetapi tidak kurang menjanjikan yaitu sistem pengandangan.

Peternakan kerbau di Gayo yang secara turun temurun didasari kepada sistem Pureweren-kelompok peternak, yang semuanya mempunyai blang, -padang pengembalaan, juga telah terdesak dengan kegiatan budi daya perkebunan, pemukiman, dan hutan tanaman industri. Sebuah observasi awal terhadap peternakan kerbau di dataran tinggi Gayo, terutama di kabupaten Gayo Lues menemukan hampir semua Blang Pureweren, telah banyak terpakai uituk kegiatan budi daya kopi, coklat, ataupun serai wangi.

Berbagai pureweren kini telah kehilangan blang nya, ataupun kalau ada sudah tidak lagi optimal fungsinya. Bahkan tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa tidak lama lagi Blang pureweren itu sendiri lambat laun akan menjadi uwer-kandang kerbau terkecil dari unit besar Blang Pureweren itu sendiri. Saat ini akibat terdesak dengan lahan budi daya, ribuan kerbau Gayo Lues, dilepas di kawasan Linge, Aceh Tengah, dan mungkin satu satunya kawasan dimana padang penggembalaan-blang pureweren- masih ada, namun semakin terancam dengan ekpansi budi daya pertanian.

Ketika peternakan Aceh terkepung dengan berbagai keterbatasan yang semakin hari semakin kompleks, apa sebenarnya tantangan yang mesti dijawab oleh masyarakat dan pembuat keputusan? Apa yang penting? Apa yang mungkin? Apa yang mendesak? dan apa pula yang menjanjikan?

Kebijakan teknis dan implementasinya biarlah menjadi urusan pembuat kebijakan, akan tetapi tantangan terbesar yang mesti dijawab adalah bagaimana mentransformasikan peternak tradisional kita menjadi peternak moderen, mengubah dari pekerjaan sampingan menjadi pekerjaan utama dan profesional, dan mengubah dari usaha biasa menjadi usaha agribisnis mumpuni yang sepenuhnya berbasis teknologi dan berorietasi pasar.? Itulah tantangannya dan itulah yang mesti dikerjakan.

Ada cerita yang mungkin tak sebanding, akan tetapi dapat menjadi isnpirasi kita dalam mencari akal dan membuka mata kita untuk mencari jalan keluar. Cerita Jepang maju adalah gudang cerita “standard emas” tentang bagaimana tantangan di rubah menjadi peluang, termasuk peternakan. Cerita itu adalah tentang bagimana sebuah masyarakat yang tidak mempunyai “budaya” peternakan kolosal seperti di Eropah dan Amerika, tidak makan daging sapi selama hampir 2000 tahun, hanya punya sapi dalam jumlah yang kecil untuk penarik, akan tetapi dalam tempo kurang dari 100 tahun mampu menghasilkan peternakan dengan nilai daging termahal di dunia.

Nama produk itu adalah Wagyu, yang artinya Wa adalah Jepang, dan Gyu, sapi. Wagyu, si sapi jepang ini harganya hari ini 10 kali lipat dari sapi terenak dan termahal di negara-negara yang mempunyai budi daya peternakan dan konsumsi daging sapi terhebat di dunia, seperti AS,Australia, New Zealand, dan sejumlah negara Eropah. Ada sapi yang paling hebat di luar Jepang, namanya black angus , mungkin di salah satu negara diatas tadi, harganya sekitar 3,000- 4,000 dolar AS, 40an-50an juta. Bandingkan dengan sapi Wagyu yang harganya sekitar 30,000-40,000 dollar AS, antara 400 an dan 500 an juta rupiah. Apa rahasianya ? Dagingnya enak luar biasa.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...