Unduh Aplikasi

Vaksin Siap, Perang Vaksin Mulai (II)

Vaksin Siap, Perang Vaksin Mulai (II)
Foto : Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Apakah kelebihan mahluk kecil yang dijinakkan oleh manusia, kemudian direkayasa untuk melawan kaumnya sendiri, kemudian ditabalkan namanya sebagai “vaksin” hanya berurusan dengan penyelamatan manusia dan kesehatan publik? Ketika calon vaksin ada di laboratorium penemuan dan berurusan dengan orang-orang yang berkepala botak, berkacamata tebal, kadang sulit mengetahui apa yang sedang dibicarakan, barangkali, dan sekali lagi barangkali, jawabannya adalah ya. Secara demarkasi wilayah, kejadian ini adalah peristiwa yang terjadi di laboratorium universitas atau pusat penelitian  upaya penemuan vaksin, dan itu masih didominasi oleh pekerjaan ilmiah akademik.
 
Ketika korporasi mulai ikut secara aktif, kegiatan itu sudah menjadi wilayah bisnis, dan ketika negara sudah mulai ikut secara aktif, itu sudah menjadi bagian dari kebijakan publik. Ketika urusan penemuan vaksin sudah menjadi kebijakan publik, maka yang akan terjadi adalah tampilnya vaksin dengan berbagai wajah, mulai dari penyembuh manusia dan kemanusian, mesin pencetak uang, instrumen politik domestik, instrumen dan bahkan supremasi politik internasional.
 
Sebenarnya jauh hari sebelum vaksin Pfizer-Biontech, Modenna, Astra Zaneca-Oxvord Univeristy, Sinovac, Sputnik, diluncurkan telah terlihat dengan terang benderang tentang ragam wajah vaksin yang berurusan dengan perusahaan dan negara.  Pada layar besar paling kurang terlihat tiga pemimpin dunia mencari perhatian publik global tentang vaksin yang akan diproduksi oleh perusahaan dinegaranya. Trump menjamin AS akan mendapatkan  vaksin lebih awal dan lebih baik. Pemimpin Cina Xin Ji Ping juga merasa optimis bahwa Cina juga akan cepat mendapatkan vaksin.
 
Menantang secara halus tentang keenganan AS yang dipimpin Trump untuk urusan pengendalian Covid-19 dan jaminan vaksin untuk warga internasional, Xin Ji Ping mengumumkan bahwa Cina akan menjadikan vaksin buatannya sebagai barang “publik global” yang akan diberikan kepada negara manapun yang membutuhkannya. Di Rusia, pada minggu ke 2 bulan Austus 2020, Vladimir Putin sendiri tampil ke publik menjelaskan vaksin Sputnik, buatan Rusia setelah dua bulan uji coba siap diluncurkan.
 
Ketika pemimpin seperti Trump, Xin Ji Ping, dan Putin mulai aktif  berbicara tentang vaksin Covid-19, maka persoalannya sudah bukan lagi soal kematian, kehidupan, atau apapun yang berhubungan dengan nya. Vaksin kini telah menjadi sebuah racikan lengkap dimana kesehatan publik, keuntungan, soft power, dan hegemoni internasional. Tak mengherankan kadang sang penuduh pencuri atau culas diantara mereka juga kemudian dirinya sendiri yang menjadi culas atau pencuri.
 
Kasus upaya akuisisi perusahaan vaksin Jerman CoVac yang dibujuk Donald Trump untuk pindah ke AS membuat pemerintahan dibawah Kanselir Angela Merkel marah. Seperti diberitakan  oleh koran Welt am Sonntag Jerman, Trump menawarkan pendanaan dalam jumlah yang cukup besar untuk  perusahaan farmasi itu pindah ke AS, yang kemudian dibalas dengan dana talangan dari pemerintah Jerman. Sampai disini jelas bahwa definisi kepentingan nasional versi Trump menghalalkan strategi “kawan makan kawan” karena semua orang tahu betapa AS dan Jerman adalah sekutu yang paling awet dan kuat semenjak pasca perang dunia ke II.
 
Trump yang di permukaan meremehkan Covid-19, diam-diam juga menggunakan simulasi perang dalam pertarungan vaksin global. Pemerintahannya menggelar operasi perang vaksin meniru gaya proyek Manhattan untuk program nuklir pada saat perang dunia ke II. Ia menamakan proyek itu dengan sandi operasi  “Operation Warp Speed”. Perusahaan farmasi, berbagai lembaga pemerintahan, dan militer AS adalah aktor kunci pelaksana operasi itu. Sasaran utamanya hanya satu, mempercepat pembuatan vaksin dari satu tahun menjadi delapan bulan dan memastikan semua rakyat AS akan mendapatkan vaksin secepat mungkin.
 
Dokumen operasi itu juga menyebutkan dengan cukup jelas tentang musuh yang diduga akan melakukan apa saja untuk mencuri atau menganggu proyek pengembangan vaksin itu. Musuh itu siapa lagi kalau bukan Cina atau Rusia yang juga berupaya keras untuk mempunyai vaksin yang tidak kalah dari AS.
 
Sebenarnya di sebalik keinginan menjadi juara pertama vaksinasi global tahap awal, pemerintahan Presiden Trump juga mempunyai beberapa tujuan lain. Tujuan yang ingin dicapai, utamanya sebelum pemilu bulan November yang lalu. Trump ingin menjadikan kemenangan AS dalam vaksin itu sebagai isi kampanye domestik melawan Joe Biden sebagai penantang calon presiden AS. Bila AS menjuarai pertarungan vaksin, baik dari segi jumlah vaksin, maupun kuaitas dan keampuhannya, maka hal itu akan menjadi mesin  pembuat uang terbesar yang akan masuk ke pundi-pundi AS. Yang ketiga, jika ketangguhan penemuan dan kualitas vaksin AS terbukti, maka Trump seakan mengulangi lagi reinkarnasi kemenangan AS dalam perlombaan penerbangan ruang angkasa pada tahun enampuluhan ketika Rusia menjadi penantangnya.
 
Sama seperti AS, Cina dan Rusia juga masing-masing mempunyai tujuan tersendiri, sehingga berjuang sekuat tenaga untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa kemajuan ilmu dan tehnologi di kedua negara itu tidak kalah kuatnya dari AS. Cina bahkan ingin menggunakan vaksin sebagai anti tesis terhadap posisi AS versi Presiden Trump yang lebih berwarna “nasionalisme vaksin” ketimbang  vaksin sebagai komoditi publik global yang dapat diperoleh oleh siapapun.  
 
Cina juga ingin menebus kesan publik global terhadap tuduhan kelalaian Cina pada tahap awal munculnya virus Covid-19 di Wuhan. Dengan kecepatan dan keampuhan vaksin yang dibuat oleh Cina, pemerintahnya berharap publik global akan melupakan dan bahkan memaafkan tuduhan kelalaian mereka dalam menghentikan Covid-19, sekaligus memberitahu publik global tentang pekembangan penyakit itu.
 
Ambisi Cina selanjutnya adalah mereka ingin membuktikan bahwa Cina abad ke 21 tidak lagi berstatus sebagai negara “pariah sudra” yang menjadi olok-olok dan bahan tertawaan negara-negara barat pada tahun enampuluhan. Cina saat ini adalah Cina yang kemajuan ilmu dan tehnologi tidak kalah dari apa yang dimiliki negara industri maju lainnya di dunia.
 
Bagi Cina ini adalah soal harga diri di mata internasional dan bahkan menyangkut dengan posisinya yang baru sebagai “the incoming super power” sebagai alternatíf terhadap “the existing  super power” Amerika Serikat. Temuan dan keampuhan vaksin Cina jika terbukti, apalagi bila dikaitkan dengan keberhasilan negeri itu dalam mengendalikan wabah Covid-19 akan menjadi bukti bahwa negara ini memang berprestasi dan bahkan berpotensi untuk mendominasi. Hal ini akan semakin meyakinkan publik global bahwa kekuatan Cina sebagai alternatif terhadap  petahana hegemoni global AS sudah semakin nyata.
 
Bagi Rusia, betapapun rapuhnya persoalan domestik, terutama ekonominya, negeri ini tetap merasa diri masih manyimpan DNA super power mantan Uni Soviet. Tidak ada yang salah dengan hal itu, karena kecuali pengurangan jumlah negara bekas Uni Soviet yang telah merdeka, praktek kekuasaan dan budaya politik Rusia masih tetap kental diwarnai oleh apa yang pernah terjadi pada masa Uni Soviet. Dan seperti pada masa perang dingin dulu, hari inipun Rusia masih ingin tampil di pentas internasional sebagai salah satu jawara  global dalam hal ilmu dan tehnologi.

Bagi AS, Cina, dan bahkan Rusia kemampuan menemukan vaksin secara lebih cepat dan ampuh akan dibaca oleh publik global sebagai refleksi dari kehebatan   sistem ekonomi, sistem pendidikan, dan sistem politik. Hal ini akan memberikan dua dampak yang simultan, bagimana mereka ingin dilihat dan dipersepsikan oleh publik dunia sebagai kampiun ilmu pengetahuan dan tehnologi, dan bagaimana pula mereka melihat diri sendiri secara lebih meyakinkan.

Perang vaksin diantara adikuasa global belum berakhir. Sesuatu yang dimulai dari pekerjaan ilmuwan di laboratorium kini sedang ditransformasikan menjadi mesin penghasil uang, prestise, dan alat perang geopolitik. Gambaran pendahuluan tentang kehebatan vaksin Cina kini agak menurun, setelah dua vaksin AS, Pfizer-BioNtech dan Modena membuktikan keampuhan 90 persen efektif. Sementara itu AstraZaneca, vaksin yang dibuat di Inggris mempunyai keampuhan 70 persen (The Lancet, November 2020).
 
Vaksin Cina belum mengumumukan tingkat keampuhannya, bahkan vaksin Sinovac diberitakan mempunyai tingkat perlindungan antibodi yang relatif rendah. Tingkat keampuhan vaksin ini diberitakan pada level moderat. Walaupun mempunyai uji klinis dibanyak negara telah dilakukan, Sinovac kini masih sedang menyelesiakan pengujian tahap akhir untuk mempunyai kesimpulan yang solid.

Covid-19 telah membuat disrupsi besar kehidupan global. Dan kini disrupsi itu akan terus berlanjut, karena penawar Covid-19 yakni vaksin, kini sedang memasuki perang baru. Perang baru itu tidak hanya tentang penyembuh penyakit, namun juga menyangkut soal image, soal uang, dan soal hegemoni global.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...