Unduh Aplikasi

Usaha Damar Hutan di Abdya Tembus Pasar Aceh

Usaha Damar Hutan di Abdya Tembus Pasar Aceh
Usaha Damar Hutan milik Samsul Bahari di Gampong Lahadang Tuha I Kecamatan Lembah Sabil Abdya. Foto Julida Fisma
ACEH BARAT DAYA - Geliat usaha damar hutan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tergolong masih sangat minim, namun potensinya diperkirakan cukup besar, selain bisa dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, pasarannyapun sudah menembus Pasar Aceh.

"Untuk saat ini, pengiat usaha damar hutan di Abdya masih mini dan sangat susah ditemui," ungkap Salah seorang pengiat Usaha Damar di Gampong Ladang Tuha I, Kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Aceh Barat Daya, Samsul Bahri kepada AJNN, Rabu (31/8).

Padahal tambahnya, geliat usaha tersebut, selain mampu meningkatkan perekonomian masyarakat menengah ke bawah, bahan damar juga mudah ditemui, karena hampir rata-rata wilayah pegunungan.

"Mungkin sebagai mengangap usaha damar tidak begitu cerah, padahal sangat menjanjikan bahkan bahan baku damar mudah ditemui di pegunungan dengan jarak tempuh yang tidak begitu jauh dari perdesaan," ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini cukup banyak damar hutan yang telah dikumpulkan warga di pengunungan, namun tidak bisa dibawa pulang dalam jumlah besar, karena belum tersedianya akses jalan memadai.

"Warga tidak bisa membawa pulang dalam jumlah besar. Selain terkendala dengan akses jalan, material damar itu termasuk benda berat, semntara bahan baku itu sudah banyak dikumpulkan," imbuh Samsul.

Menurutnya, harga damar yang masih berbentuk kepingan dibeli dengan harga mencapai Rp 4 ribuper kilogram, sedangkan yang sudah dipecahkan seperti kerikil harga belinya meningkat lagi mencapai Rp 5.000 sampai dengan Rp 6 ribu per kilogram.

"Kalau harganya cukup bervariatif, tergantung kondisi damar dijual. Kalau masih utuh kita tampung dengan harga rata-rata Rp4.000. Kalau sudah diolah dengan mesin harganya mencapai Rp 8 ribu per kilogram hingga Rp10 ribu per kilogram," ujarnya.

Samsul mengaku, usaha damar yang ditekuninya berjalan dengan sukses dan telah membuahkan hasil meskipun damar yang diproduksi tersebut dengan menggunakan alat-alat tradisonal.

"Alhamdulillah, damar kami saat ini sudah menembus pasar Aceh dan sudah mampu produksi sebanyak 3 ton per bulan dengan peralatan tradisonal seadanya," tuturnya.

Ia mengaku, usaha damar tersebut telah dilakoninya sejak tahun 2004 pasca terjadinya musibah Tsunami di Aceh. Saat itu, ia masih menggunakan alat penggiling tradisonal dengan cara menguras tenaga.

"Setelah 12 tahun menguras tenaga dengan alat tradisonal, kini sudah memiliki peralatan yang tergolong modern termasuk telah memiliki beberapa tenaga kerja yang direkrut dari keluarga," katanya.

Meskipun sudah memiliki alat modern, lanjut dia, usaha yang dilakoninya itu masih memiliki banyak kendala, terutama masih minimnya peralatan dan modal usaha, sementara permintaan pasar semakin meningkat.

"Saya berharap, pemerintah daerah memberikan perhatian lebih untuk membantu modal usaha, sebab jika ada bantuan kami akan membuat usaha semacam pabrik karena tanah juga sudah tersedia namun untuk bahan bangunan belum ada, dengan berdirinya pabrik ke depan jumlah tenaga kerja juga bisa bertambah lagi," harap Samsul.

Komentar

Loading...