Unduh Aplikasi

Upaya Pemerintah Membantu UMKM Bertahan dan Tumbuh di Tengah Pandemi

Upaya Pemerintah Membantu UMKM Bertahan dan Tumbuh di Tengah Pandemi
ilustrasi. Foto: Detik

BANDA ACEH – Di tengah Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), Pemerintah melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah terus mendampingi sejumlah pelaku UMKM di daerah tersebut.

“Yang sangat real kita lakukan selama pandemi Covid-19 ini, yakni memberdayakan pelaku UMKM bidang usaha cetak masker,” kata kepala Diskop UKM Aceh, Wildan kepada AJNN, Kamis (24/9).

Dikatakan Wildan, pihaknya juga fokus melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis (Bimtek), diklat, guna memberikan ilmu dan ketrampilan kepada pelaku UMKM yang ada di Provinsi Aceh.

“Kita juga memfasilitasi pelaku UMKM dengan mesin jahit, dan ini bukan hanya dilakukan selama pandemi saja namun sudah dari sebelumnya, akan tetapi di tengah pandemic bisa menutupi kekurangan ekonomi masyarakat,” ujar Wildan.

Selain itu sambung Wildan, bagi pelaku usaha yang memproduksi bidang kuliner, dan belum memiliki kemasan, pihaknya juga membimbing mereka untuk membuat produk kemasan, begitu juga bantuan kepada perbengkelan dan penyandang disabilitas.

“Kita memiliki tujuh konsultan untuk mendampingi pelaku UMKM dalam menyelesaikan masalah atau persoalan yang mereka hadapi selama pandemic Covid-19. Kita menyediakan mentor baik itu dari segi planning (perencanaa), produksi, hingga mengurus sertifikat halal,” ungkapnya.

Wildan melanjutkan, khusus pada masa pandemic Covid-19. Gubernur Aceh memberdayakan penjahit dengan dana khusus dan menjahir masker hingga 215 ribu buah, dengan jumlah penjahit 803 orang di seluruh Provinsi Aceh.

“Jadi masker itu, kita jual dengan harga Rp7 ribu per masker saat itu. Ini akan sangat membantu ibu-ibu diperdesaan, dari sebelumnya tidak memiliki pekerjaan, bisa memiliki kegiatan dan masukan ekonomi,” kata Wildan.

Untuk mempromosikan, pihaknya juga membuka dan mengembangkan pasar online Acehsale.co.id. selain itu juga membuka galeri khusus menampung seluruh produk UMKM yang ada di Aceh, selain memamerkan bisa juga untuk memperjualbelikannya.

“Kita juga sudah diskusi dengan Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, dan membicarakan soal ekspor kopi, karena ada beberapa koperasi yang bergerak di bidang kopu tidak bisa memasarkan barang ke luar negeri, karena ada barang namun tidak ada yang membeli. Sehingga kopi-kopi mereka yang sudah dipanen menumpuk,” jelasnya.

Wildan mengatakan, pihaknya pernah melakukan survey, UMKM kebanyakan mengeluh tidak ada bahan baku selama Pandemi Covid-19, selain itu meskipun ada bahan baku, harganya tidak sesuai dengan pasaran sebelumnya.

“Selain itu, jika pun mereka memproduksi sesuatu UMKM tidak bisa dalam jumlah banyak, karena tidak ada konsumen yang membelinya,” tuturnya.

Menurut Wildan, sebagian UMKM bahkan sudah memutuskan kerjasama dengan para pekerjanya, sehingga banyak melahirkan pengangguran. Bahkan modal mereka sudah habis untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari selama pandemic Covid-19.

“Modal mereka sebagian sudah habis untuk makan karena tidak bisa bekerja dan mengembangkan usahanya. Jikapun mau keluar daerah mereka juga terkendala transportasi,” jelasnya.

Wildan menyebutkan, selama ini pelaku UMKM banyak dihantam badai, bahkan usaha sendiri banyak yang mati (gulung tikar). Pemerintah daerah bukan diam saja melihat kondisi ini.

“Kita harus saling bahu membahu dan membantu menghidupkan kembali perekonomian masyarakat, khususnya di bidang UMKM harus kuat. Dalam hal ini harus dibuat perencanaan ulang, jika selama ini bergerak di bidang A, jika mati maka harus beralih ke bidang B. sehingga UMKM ini bisa lebih kreatif, inovatif dan mensejahterakan pelaku usaha,” imbuhnya.

Komentar

Loading...