Unduh Aplikasi

Untung Nyata Proyek Maya

Untung Nyata Proyek Maya
Ilustrasi: massengerpeople.

MURAH atau mahal itu relatif. Namun saat Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya mematok harga Rp 1,3 miliar untuk sebuah aplikasi online untuk memasarkan produk usaha kecil dan menengah tentu harga ini bikin bingung.

Pasal pertama: untuk sebuah kabupaten, aplikasi secanggih apa yang ingin didapatkan pemerintahnya saat mengalokasikan dana sebesar itu. Apakah website itu nanti akan secanggih fitur dalam Tokopedia atau Shopee. 

Karena saat melongok langsung ke laman Pusat Industri Kreatif Abdya (PIKA), nyaris tak ada yang istimewa. Mungkin kecepatan akses saat mengklik produk di dalamnya cukup cepat ketimbang situs-situs milik pemerintah lain, tapi jelas hal ini tidak perlu dibayar semiliar rupiah lebih. 

Pasal kedua: aplikasi ini tidak harus dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya. Karena peran pemerintah kabupaten hanya sebagai regulator. Mereka bukan pasar. Pemerintah kabupaten seharusnya cukup membayar ongkos seperempat dari harga yang dikeluarkan untuk membuat PIKA.

Sisanya, diserahkan kepada operator PIKA untuk mengembangkan aplikasi sesuai perkembangan. Pemerintah tak perlu menyewa cloud yang besar karena memang produk yang ada masih sangat sedikit. 

Layanan komputasi, penyimpanan, database, analisis, dan aplikasi yang diterapkan dalam PIKA bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Di awal-awal, pemerintah tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menyewa server AWS karena hal itu bisa dinaikturunkan sesuai dengan tingkat kunjungan per laman. 

Saat jumlah kunjungan meningkat, mereka bisa mengontak penyedia jasa untuk meningkatkan daya tampung pengunjung agar tetap nyaman berselancar menjelajahi PIKA. Namun saat kunjungan turun, mereka juga bisa menyesuaikan. Analoginya, untuk apa menyewa lapangan bola hanya untuk menggelar pertandingan tenis meja. 

Urusan ini memang gampang-gampang susah. Karena ini masuk ke “ranah gaib”. Saat masuk ke ranah ini, harga menjadi sangat dinamis. Namun tetap saja ada hitung-hitungan wajar yang dapat diterima akal sehat. Terutama saat sebuah bisnis masih baru dimulai. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya perlu lebih berhati-hati dalam melakukan hal ini. 

Dan pola ini sebenarnya kerap dilakukan oleh pemerintah daerah dalam membangun pasar di dunia nyata. Pemerintah bernafsu membangun pasar-pasar yang menghabiskan uang miliaran rupiah, namun saat pasar rampung, tak ada penjual yang mau berdagang, konon lagi pembeli datang, dengan berbagai alasan. 

Lebih baik pemerintah kabupaten melakukan kerja sama dengan menggandeng pasar virtual, seperti tokopedia, atau blibli, atau aplikasi-aplikasi belanja online lain. Sehingga produk UMKM di Aceh Barat Daya dapat lebih dikenal oleh pembeli di seantero nusantara dan menarik mereka untuk membeli. Apalagi mereka memiliki banyak kerja sama dengan perusahaan-perusahaan pengiriman yang menjadi salah satu pertimbangan orang saat hendak membeli secara online.  

Atau mungkin dinas terkait tengah menyiapkan anggaran besar-besaran untuk mempromosikan PIKA, seperti yang dilakukan oleh e-commerce besar untuk menggaet pembeli. Lumayan, proyek lagi. 

Komentar

Loading...