Unduh Aplikasi

Untuk Kombatan, Demi Korban Konflik

Untuk Kombatan, Demi Korban Konflik
ilustrasi.

KEINGINAN petinggi Badan Reintegrasi Aceh untuk membantu korban konflik dan bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka adalah sebuah keinginan mulia. Mereka berharap pemerintah mengucurkan uang sebesar Rp 1 triliun untuk memberdayakan sekitar 1,6 juta untuk disalurkan kepada korban dan para pejuang.

Dana ini tentu tidak cukup membayar kesedihan dan pengorbanan para syuhada dan keluarga mereka yang tertekan dan tertidas selama masa-masa sulit dan penuh kesengsaraan itu. Bahkan setelah 10 tahun rekan-rekan mereka diberikan amanah untuk mengurusi Aceh, yang sama-sama berjuang melawan ketertindasan, kesejahteraan hanya milik sebagian orang saja.

Selebihnya masih harus berjuang untuk meletakkan kembali kehidupan mereka ke taraf normal. Karena jangankan untuk sejahtera, untuk bertahan hidup saja terasa sulit. Tambahan uang Rp 1 triliun dan rencana kucuran dana Rp 67 miliar tahun ini, diharapkan dapat menyokong kehidupan lebih baik bagi para korban konflik dan bekas kombatan untuk kembali bersatu dengan masyarakat. Tapi benarkan?

Retorika politik tentu dapat disampaikan siapa saja. Sepanjang kepentingan mereka tidak terganggu. Tentu kita belum lupa kucuran dana Rp 650 miliar dari Pemerintah Aceh. Dana ini sedianya menjadi stimulus pendorong pertumbuhan ekonomi. Ada yang dialokasikan untuk pembangunan pabrik pakan ternak. Ada yang dibelikan boat dengan kapasitas mesin truk. Sebagian dibelikan ayam petelur.

Di atas kertas, tujuan ini juga mulia: memberdayakan bekas pejuang GAM. Jika program ini berhasil, tidak hanya bekas kombatan GAM yang merasakan dampaknya. Masyarakat yang tak tergolong dalam korban konflik pun akan merasakan manfaat. 

Apa lacur, uang habis barang binasa. Uang Rp 650 miliar ini menguap seiring dengan rontoknya janji-janji manis kesejahteraan yang didengungkan para pengusung program ini. Tentu kita tidak berharap bahwa nasib yang sama juga dirasakan korban konflik dan bekas pejuang GAM lewat tangan BRA.

Karena, kalau dihitung-hitung, tidak ada kalkulator yang mampu mengakumulasikan kesedihan, pengorbanan dan perjuangan para korban dan kesengsaraan para pejuang GAM. Apalagi orientasi para pengambil kebijakan masih sangat tercium bau amis proyek. Tak elok jika sedikit-sedikit, mereka yang dulu menjadi korban kini dikorbankan lagi untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Cara mudah membalas perjuangan mereka adalah dengan membangun Aceh sepenuh hati. Para pemimpin atau para wakil rakyat, serta partai politik tempat berkiprah bekas kombatan, harus benar-benar bekerja: membangun Aceh secara utuh dan merata. Menjauh dari godaan uang dan kesenangan. Sebagai manusia yang diajarkan cara bersyukur, inilah cara membalas jasa para syuhada Aceh yang syahid saat konflik dan menghormati anak-cucu mereka. 

Komentar

Loading...