Unduh Aplikasi

Unjuk Rasa di Tengah Impotensi Sikap

Unjuk Rasa di Tengah Impotensi Sikap
Ilustrasi: flickr

GELOMBANG unjuk rasa yang berlangsung di beberapa kota di Aceh hendaknya tidak menjadi ajang saling menyakiti antara pendemo dan aparat keamanan. Setiap kelompok pengunjuk rasa harus mampu menjaga agar aspirasi yang disuarakan benar-benar diperhatikan oleh para pengambil kebijakan.

Di Banda Aceh, aksi massa diisi oleh mahasiswa dari seluruh organisasi kemahasiswaan, di antara mereka juga terdapat sejumlah pelajar, terpusat di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Tuntutan mereka sama seperti rekan-rekan mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia. Satu di antaranya adalah menuntut Presiden Joko Widodo untuk tidak melemahkan tugas Komisi Pemberantasan Korupsi lewat Undang-Undang KPK yang baru disahkan.

Mereka juga menuntut pencabutan pasal bermasalah dalam rancangan UU KUHP serta mengingatkan pemerintah untuk serius mengurusi kebakaran hutan. Ini adalah poin-poin logis yang belakangan ini membuat resah masyarakat. Tindakan pemerintah dan DPR juga dapat mengancam kehidupan bernegara jika terus mengabaikan rasa keadilan.

Masyarakat harus mengapresiasi langkah mahasiswa ini. Sedikit kemacetan hendaknya tidak divonis dengan berbagai cercaan. Karena sebenarnya, mereka tengah membantu kita dengan cara yang lazim mereka gunakan: aksi massa. Aksi mereka menjaga bangsa ini tetap kritis dan menjaga pikiran kita, sebagai anggota masyarakat, tetap sehat.

Mahasiswa tak perlu takut dengan berbagai ancaman, baik yang datang dari dalam kampus ataupun dari luar. Terutama setelah pemerintah memanggil kementerian pendidikan tinggi. Besar kemungkinan, pemanggilan ini terkait dengan upaya pelarangan mimbar bebas atau melarang mahasiswa berdemonstrasi.

Semua pihak harus memahami bahwa menyampaikan pendapat lewat aksi massa adalah hal lumrah. Di negara demokrasi, berunjuk rasa dijamin dan dilindungi. Termasuk pelajar sekolah menengah atas. Mereka juga berhak untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat secara tertib, sesuai aturan, tanpa intimidasi pihak sekolah.

Ujaran bahwa mereka harus fokus pada urusan sekolah, di saat masa depan kehidupan bernegara mereka suram, sangat berlebihan dan tak masuk akal. Itu hanya suara dari generasi yang miskin sikap dan tak memahami hakikat; suara dari mereka yang terlalu banyak menikmati keuntungan dari sengkarut di negeri ini.

Yang terpenting, mahasiswa atau pelajar yang berunjuk  rasa juga harus saling menjaga di antara mereka. Jangan sampai aksi massa untuk mengkritik pemerintah bubar hanya karena ulah provokator. Barisan mahasiswa dan pelajar harus “rapat” sehingga tak ada pihak yang memancing di air keruh. Apalagi sampai menjustifikasi kekerasan untuk membungkam kritik.

Komentar

Loading...