Unduh Aplikasi

ULP Aceh Tenggara Diduga Bermain Dalam Lelang Proyek Pasar Rakyat Terutung Payung

ULP Aceh Tenggara Diduga Bermain Dalam Lelang Proyek Pasar Rakyat Terutung Payung
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH TENGGARA - Raden Sinaga, Direktur CV. Aliran Hidup berencana mengambil langkah hukum terhadap Unit Layanan Pengadaan (ULP) Aceh Tenggara yang merupakan panitia lelang Proyek Pasar Rakyat Terutung Payung. Langkah hukum ini disebabkan dirinya merasa terzalimi oleh sikap dan cara panitia yang dicurigai ada permainan, dengan sering matinya server Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Aceh Tenggara.

Akibat server Website LPSE sering mati menyebabkan mereka kesulitan meng-upload dokumen dan gagal ikut tender, padahal secara resmi pihaknya juga sudah menyampaikan surat permohonan perpanjangan waktu tender kepada pengelola LPSE. 

"Oleh karena itu, kami merasa dizalimi oleh ULP Aceh Tenggara dan kami sedang merencanakan langkah hukum agar perlakuan serupa tidak terjadi lagi di masa masa mendatang," ujar Raden Sinaga kepada AJNN, Selasa (13/10/2020).

"Tidak perlu berkilah dengan menyebut mati listrik di Aceh Tenggara sehingga server Website LPSE tidak aktif, saat kami  hendak mengupload dokumen itu dari Medan website itu off bukan karena listrik tapi bisa saja disengaja oleh oknum LPSE," sambung Raden Sinaga.

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Kuasa Direktur CV Aliran Hidup, Irfan Khairuddin kepada AJNN, Selasa (13/10/2020). Irfan mengungkapkan bahwa pihaknya sudah telah berulangkali mencoba memasukkan penawaran pada paket pembangunan pasar rakyat Terutung Payung Aceh Tenggara. Tapi karena website Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Aceh Tenggara sering mati, sehingga mereka tidak bisa meng-upload penawaran untuk proyek tersebut.

Irfan mengungkapkan, CV Aliran Hidup selama ini sudah menghabiskan banyak uang untuk mempersiapkan bahan dan dokumen tender, akan tetapi mereka sama sekali tidak bisa memasukkan penawaran dalam lelang terbuka tersebut. 

Irfan juga menyebutkan tentang adanya keanehan yang muncul dalam proses tender tersebut. Keanehannya adalah pada tanggal 12 Oktober 2020 panitia lelang tiba - tiba memenangkan CV. Harapan Maju. Penetapan CV Harapan Maju sebagai pemenang tender karena hanya perusahaan tersebut, satu - satunya yang melakukan penawaran dan ikut lelang, padahal info data dari LPJK NET(Pengalaman pekerjaan perusahaan CV HARAPAN MAJU nihil/kosong.

CV Harapan Maju sendiri baru berdiri pada tahun 2015. Seharusnya mereka menurut Sapta wajib melampirkan minimal 1 pengalaman pekerjaan sesuai dengan sub bidang BG 004, atau diwajibkan memiliki pengalaman pekerjaan paling kurang 1 pekerjaan, dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Sedangkan pengalaman perusahaan CV Aliran Hidup menurut Irfan cukup bagus.

"Sedangkan mereka tidak punya pengalaman. Memang, walaupun CV Harapan Maju tidak punya pengalaman bukan berarti bisa membatalkan lelang, tapi bisa mengurangi nilai. Kalau masuk dua perusahaan, pasti kalah mereka," ujar Irfan.

Oleh karena itu, pihak CV Aliran Hidup meminta penegak hukum untuk memproses panitia lelang tersebut karena telah merugikan banyak peminat lelang. Sebab banyak kontraktor tak bisa ikut tender, dan panitia memenangkan perusahaan yang tak cukup syarat untuk proyek tersebut.

Sementara itu panitia lelang dari Pokja LPSE ULP Aceh Tenggara, Sapta Marga membantah ada "permainan dalam pelelangan proyek Pasar Rakyat Terutung Payung. Terkait tuduhan yang menyebutkan bahwa server Website LPSE sengaja dimatikan juga dibantah oleh Sapta. Kepada AJNN Sapta mengatakan kalau hal tersebut murni masalah jaringan. Apalagi sejak beberapa hari terakhir ada demontrasi mahasiswa.

Kalau kita sengaja mematikan, itu tidak mungkin, karena setiap server mati maka akan tercatat di LPSE pusat. Kalau sengaja kita matikan, mereka akan tegur," ujar Sapta Marga melalui sambungan telepon dari Aceh Tenggara.

Terkait penetapan CV Harapan Maju sebagai pemenang, Sapta mengatakan itu merupakan hal biasa, karena bisa saja beberapa perusahaan hanya melihat - lihat dokumen saja namun tidak mendaftar dan meng-upload dokumen penawaran.

Sapta juga menyebutkan kalau CV Aliran Hidup baru mendaftar di website LPSE pada tanggal 5 Oktober 2020, sedang pihaknya sudah membuka pelelangan sejak tanggal 1 Oktober 2020. 

"Kalau ada niat, seharusnya dari awal mereka kan bisa langsung daftar," ujar Sapta.

Terkait perusahaan yang menang tidak memiliki pengalaman, Sapta mengatakan. "Non pengalaman tidak ada masalah karena perusahaannya belum berumur 3 tahun. Kalau perusahaan baru, walaupun pengerjaan proyek fisik boleh non pengalaman," ujar Sapta.

Terkait perpanjangan masa lelang, Sapta menyampaikan kalau pihaknya tidak bisa melakukan perpanjangan lelang tanpa alasan yang tepat dan jelas. Sapta mengakui kalau pihak CV Aliran Hidup mengirimkan surat permintaan perpanjangan masa masa lelang dan pihak panitia menyarankan agar surat permintaan perpanjangan dimasukkan secara resmi melalui email.

Terkait rencana CV Aliran Hidup melaporkan masalah dugaan permainan dalam pelelangan proyek Pasar Rakyat Terutung Payung. Sapta mengatakan pihaknya mempersilahkan hal itu dilakukan. Tapi dirinya menegaskan bahwa panitia sudah melakukan proses pelelangan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Komentar

Loading...