Unduh Aplikasi

Ujian Daring

Ujian Daring
Foto: Ist

Oleh:Nelliani, M.Pd 

Proses belajar tatap muka beberapa sekolah yang termasuk zona merah di Aceh  dihentikan sementara. Hal ini untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran covid-19 yang terus meningkat pasca lebaran Idul Fitri 1442 H. Sebagai gantinya, pembelajaran dilanjutkan via daring. Pelaksanaan ujian akhir semester yang semula dijadwalkan secara offline terpaksa dialihkan melalui online. 

 Ujian daring bukan hal baru bagi sekolah di zona merah. Tahun lalu, sekolah yang berada di zona resiko tinggi penyebaran covid-19 juga melaksanakan ujian secara daring. Media yang digunakan pun sebagaimana proses pembelajaran online yaitu menggunakan google form, aplikasi whatsapp atau google classroom. Ada juga yang melaksanakan ujian memanfaatkan google meet dan zoom meeting.

Sebagian guru menganggap ujian daring adalah pilihan yang memudahkan para siswa. Pelaksanaannya lebih efektif dari segi waktu dan tempat. Siswa dapat mengikuti ujian di mana saja dan kapan saja. Selanjutnya mengirim laporan sesuai batas waktu yang diberikan. Demikian juga, peserta didik bisa menghemat biaya dengan tidak perlu ke sekolah. 

Siswa yang memiliki minat minimalis dalam belajar lebih menyenangi ujian model ini dari pada ujian tulis secara konvensional. Bagi mereka, ujian daring memberi keleluasaan mengerjakan tugas yang diberikan dari pada menyelesaikan di ruang kelas dimana harus berhadapan dengan sangarnya pengawas. Mengikuti ujian di rumah sedikit menurunkan tingkat ketegangan dan lebih rileks. Karena bisa berkompromi dengan buku atau berbagai referensi lain bila berhadapan dengan soal dengan tingkat kerumitan tinggi. 

Moment berharga

Sebagaimana pembelajaran daring, ujian daring pun memiliki tantangan sendiri bagi guru. Pada situasi normal, masa ujian merupakan salah satu moment berharga membangun karakter peserta didik. Guru berkesempatan melatih kejujuran, disiplin ataupun sikap kemandirian akademik melalui penerapan tata tertib pelaksanaan ujian. Namun, selama pandemi merebak dan ujian terpaksa daring, kesempatan menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa tidak berjalan optimal.

Padahal kejujuran, disiplin dan kemandirian merupakan nilai-nilai penting yang harus ditanamkan dalam pendidikan karakter di sekolah. Peserta didik yang sudah tertanam sifat jujur, senantiasa menjaga kepercayaan. Berusaha menghindari tindakan tidak terpuji, menyontek, plagiarisme atau perilaku curang lainnya. Sifat jujur akan melahirkan rasa tanggung jawab untuk berusaha menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan penuh percaya diri.

Kejujuran merupakan pondasi dasar dalam pendidikan. Jika peserta didik sudah kehilangan kesempatan untuk diajarkan berbuat jujur maka karakter pendidikan akan menurun. Begitu pun dalam ujian, kejujuran menjadi fokus utama yang harus dipatuhi. Guru professional cenderung menilai siswa dari proses bukan hasil akhir, meskipun keduanya sama penting. Karena setinggi apapun nilai akademis, tidak akan ada artinya jika didapat dengan cara tidak jujur. 

Disiplin adalah sikap mental untuk taat dan patuh terhadap aturan yang berlaku. Budaya disiplin sangat terasa pada pelaksanaan ujian tatap muka. Peserta didik berusaha mematuhi segala tata tertib, mulai dari disiplin belajar, hadir tepat waktu, berpenampilan rapi dan bersih, sampai disiplin menjaga sikap saat ujian. Uniknya, pada hal satu ini siswa yang sering “bermasalah” sekalipun akan berusaha disiplin hanya untuk bisa diperkenankan mengikuti ujian. 

Disiplin tumbuh dari sikap patuh serta sadar untuk mengikuti aturan. Di sekolah, penerapan disiplin bertujuan mengembangkan pribadi peserta didik sehingga memiliki sikap pengendalian diri yang baik, tidak melanggar tata tertib atau berlaku semena-mena yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi lingkungan. Disiplin belajar berguna sebagai bentuk kendali diri, sehingga belajar sebagai kebutuhan yang dijalani dengan penuh kesadaran, rasa senang dan tanpa paksaan. 

Dalam dunia pendidikan, masa ujian merupakan kesempatan bagi guru menilai kemandirian belajar siswa. Peserta didik yang memiliki kemandirian belajar akan siap mengikuti ujian. Mereka memiliki kepercayaan diri menyelesaikan soal dengan kemampuan sendiri, tidak berharap bantuan pihak lain serta kreatif menemukan solusi terhadap masalah yang diberikan. Namun, siswa yang tidak memiliki sikap mandiri dalam belajar akan merasa kesulitan dan merasa tidak siap jika berhadapan dengan ujian. 

Ujian menjadi salah satu media evaluasi bagi guru untuk mengukur penguasaan siswa terhadap kompetensi yang dipelajari. Sebagai media evaluasi, ujian sering dipersepsikan sebagai suatu yang “menyeramkan” oleh sebagian peserta didik. Terlebih untuk dapat mengikuti fase ujian, mereka harus memenuhi yang dipersyaratkan serta bersedia patuh terhadap aturan. Meskipun masanya tidak lama, ujian menjadi moment baik guru melatih kejujuran, disiplin dan kemandirian akademik siswa.

 Pelaksanaan ujian dengan sistem konvensional memberikan ruang bagi guru untuk penguatan penerapan nilai-nilai karakter. Guru lebih leluasa mengontrol, melakukan pengawasan langsung atau memberikan sanksi secara akademik atas pelanggaran tata tertib. Bagi peserta didik, ujian menjadi semacam shock therapy untuk lebih membiasakan diri terhadap berbagai karakter mulia dalam kehidupan. Suatu pemandangan yang tidak kita temukan jika ujian diadakan secara daring. 

Pandemi memaksa kita mampu beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Pelaksanaan ujian daring menjadi pilihan di masa darurat corona ini. Meskipun penguatan pendidikan karakater tidak sepenuhnya efektif, namun guru diharapkan mampu meminimalisir kehilangan kesempatan peserta didik memperoleh pendidikan karakter. 

Banyak metode dapat guru lakukan supaya penguatan nilai-nilai karakter selama ujian online tetap terpenuhi. Guru bisa mempertimbangkan tugas berorientasi hasil karya dengan tema berbeda untuk menghindari kerja sama atau saling contek. Memberikan soal yang sifatnya analisis untuk menguji kemandirian individu, sehingga kecil peluang peserta didik melakukan plagiat. Bila memungkinkan ujian tatap muka, memberlakukan sistem shif dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Pandemi covid-19 sangat tidak boleh kita remehkan. Bukan berarti keberlangsungan pendidikan generasi penerus boleh kita abaikan. Hanya saja, sikap bijak dan cerdas sangat dibutuhkan menghadapi masa-masa krisis ini, bagaimana keberlangsungan pendidikan tetap terpenuhi dan kesehatan senantiasa terjaga. Selamat ujian daring.       

Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar     

Komentar

Loading...