Unduh Aplikasi

Ubah Kiblat

Ubah Kiblat
Risman A Rachman

Oleh: Risman Rachman

Kemarin, Senin (5/8) Duta Besar India untuk Indonesia, Pradeep Kumar Rawat, ada di Aceh dan bersama Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, juga Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman, berbincang-bincang seputar agenda kerjasama saling menguntungkan.

Pada hari yang sama, jam berbeda, dipimpin Dyah Erti Idawati, kelompok kerja Desa Wisata Aceh, bertemu lagi untuk membahas tindak lanjut mewujudkan gampong wisata sebagai strategi membangkitkan kejayaan Nilam Aceh. Ranto Sabon, akhirnya dipilih (sementara) sebagai lokasi Desa Wisata Nilam.

Setiap bicara Nilam, orientasi pertama banyak orang pasti terkonekting ke negara-negara, salah satunya Prancis. Inilah negara dengan dua julukan, Kota Mode dan Kota Parfum. Untuk yang terakhir ada Kota Grasse, tempat 25 lebih pabrik penghasil ragam wangi parfum.

Dengan kedatangan "Tuan Takur" ke Aceh mungkin orientasi kita patut dipertimbangkan, untuk mulai diubah, atau setidaknya peta ekonomi Nilam Aceh, tidak harus seutuhnya berkiblat ke Uni Eropa, yang makin memperketat prasyarat lingkungan dalam kerjasama ekonomi.

Di India, negeri berpenduduk 1,3 miliar lebih ini, yang salah satu bagiannya, Andaman - Nicobar, sangat dekat dengan Aceh, juga memiliki kota parfum, yaitu Kannauj.

Dikenal sebagai 'Ibukota Parfum India', Kannauj adalah kota kuno yang terletak di tepi Sungai Gangga.

Pasar Kannauj terletak di distrik Kannauj, dan dikatakan sebagai salah satu pasar tertua yang berurusan dengan segala aroma, mulai dari minyak esensial hingga pakaian tradisional India (parfum).

Tempat ini memiliki opsi yang sangat harum bagi semua orang. Ada lebih dari 650 aroma yang ditawarkan, disiapkan menggunakan teknik kuno, yaitu aroma tanah basah yang disuling ke dalam botol kaca kecil.

Tawaran kerjasama India seperti melengkapi sisi historis dan sisi imagine ureung Aceh, yang menyukai film India dan berpenampilan ala India. Jika terwujud maka Aceh dan Andaman - Nicobar seperti menyambung kembali patahan sumatera di masa lampau. Dan, sebaik-baik sambungan itu, yang menguntungkan kedua pihak, Aceh - India.

Salah satu usaha Aceh hingga 2022 nanti adalah menurunkan angka kemiskinan hingga ke angka 11.43 persen (RPJM). Kini, diperiode Maret 2019 sudah berada di angka 15.32 persen. September 2019 diperkirakan bakal mencapai angka target RPJM yaitu diangka 14.43 persen. Sebagai catatan, Irwandi - Nova mulai berkerja di angka 15.92 persen.

Masalahnya, meski angka target RPJM 2017-2022 bisa dicapai, tanpa keberanian mengubah peta ekonomi dan membentuk peta ekonomi baru, posisi Aceh masih tetap akan berada di peringkat pertama termiskin di Sumatera, kecuali beberapa provinsi lain tidak berkerja serius untuk daerahnya, seperti Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung, lainnya malah sudah diangka 1 digit.

Mengubah kiblat ekonomi ke negeri berpenduduk 1,3 miliar, yang pertumbuhan ekonominya diperkirakan akan menuju 7 persen, India menjadi sangat potensial juga dijajaki kerjasama atsiri selain dengan Uni Eropa yang berpenduduk setengah miliar.

Jika peta ekonomi baru Aceh mengarah ke India maka ini menjadi jalur kembali Aceh untuk menghidupkan kembali diplomasi historis sehingga Aceh dapat juga menjalin kerjasama ekonomi hingga ke Timur Tengah.

Penulis adalah Ketua Promosi dan Marketing Desa Wisata Nilam

Komentar

Loading...