Unduh Aplikasi

Tujuh Pelajar Perkosa Dua Anak SD

Tujuh Pelajar Perkosa Dua Anak SD
Ilustrasi.
LANGSA - Pengakuan dari bibir kecil anak perempuan Melati--bukan nama sebenarnya--membuat dirinya terguncang. Pagi itu, Melati bertanya penyebab sakit yang didera Kamboja (7)--juga bukan nama sebenarnya--di sekitar selangkangan saat buang air kecil. Sebuah jawaban yang takkan pernah ingin didengar ibu manapun.

Kepada ibunya, Kamboja mengaku diperlakukan tak senonoh oleh sejumlah anak yang disebutnya teman bermain. Seketika itu pula Melati mengetahui anaknya diperkosa. Demi mengetahui para pelaku perbuatan bejat itu, Melati harus rela menahankan rasa sakit di dadanya dan menanyakan siapa saja bocah lelaki yang bermain dengannya.

Pengakuan yang diinginkan Melati disampaikan Kamboja dengan jelas. Dia menyebutkan tujuh nama yang memerkosanya. Mereka adalah RN, SL, RM, AA, SA. Melati mengetahui kelima anak ini masih duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama. Dua pelaku lainnya, JA dan MA, adalah pelajar kelas lima dan empat sekolah dasar.

Melati kemudian menjumpai Mawar, orang tua Anggrek, teman bermain Kamboja. Melati menceritakan kejadian yang dialami anaknya. Dari mulut Mawar, berita buruk yang sama diterima Melati. Anggrek juga mengalami nasib yang sama. Kasus perkosaan ini terjadi pada pertengahan Juni lalu.

Sumber AJNN, yang menceritakan kejadian ini, mengatakan dua bocah perempuan ini diperkosa di dalam sebuah bot nelayan yang bersandar di sebuah dermaga kecil di sebuah dusun di Kecamatan Langsa Barat.

Melati dan Mawar sepakat untuk melaporkan kasus ini ke kepolisian setempat. Pihak polisi segera membawa kedua korban untuk menjalani visum di Rumah Sakit Umum Daerah Langsa. Hasil visum menyatakan kedua anak di bawah umur tersebut diperkosa. Kasus ini ditangani oleh kepolisian dan Komisi Perlindungan Anak dan Ibu (KPAI) Banda Aceh.

Menurut pengakuan kedua orang tua korban, dari tujuh pelaku yang memperkosa anak mereka, hanya empat pelaku yang bisa diproses hukum. Sementara tiga pelaku lainnya tidak bisa diproses hukum karena berusia di bawah 12 tahun.

“Berdasarkan hasil visum dari RSUD Langsa, satu korban dinyatakan tidak terdapat luka robek di bagian terlarang. Hanya saja terdapat luka-luka lecet. Sementara satu korban lagi dinyatakan luka robek,” kata Kepala Kepolisian Sektor Langsa Barat Ajun Komisaris Polisi Salmidin membenarkan laporan tersebut.

Polisi telah memulai penyelidikan kasus ini kepada kejaksaan. Mereka juga berkoordinasi dengan Badan Pemasyarakatan di Banda Aceh untuk menyikapi “Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyelidikan (SPDP) kasus tersebut sudah kami kirim ke Kejaksaan Langsa untuk diproses.”

Pihak juga mengaku mengundang Badan Pemasyarakatan Banda Aceh untuk meneliti kembali kasus tersebut. Kepolisian mengaku kesulitan untuk menahan para pelaku karena para pelaku juga masih dilindungi karena dianggap belum dewasa. Bahkan polisi tidak bisa menyelidiki tiga pelaku karena berumur di bawah 12 tahun. Meski tidak ditahan, para pelaku wajib dihadirkan dalam persidangan.

Komentar

Loading...