Unduh Aplikasi

Tujuh Belasan

Tujuh Belasan
Ilustrasi.
PERAYAAN hari kemerdekaan adalah selebrasi rakyat. Kemeriahannya terlihat jelas di jalan-jalan. Karnaval. Anak-anak sekolah dengan berbagai jenis kostum memenuhi jalanan dalam barisan berbanjar. Walau letih, tetap saja mereka harus berjalan jauh. Semua demi perayaan kemerdekaan. Para guru mengawal, berharap anak-anak asuhnya menjadi barisan terbaik.

Melintasi para pejabat yang duduk manis di tenda adalah sebuah kebanggan bagi peserta karnaval. Bagi yang berparas cantik, karnaval menjadi ajang promosi diri, syukur-syukur ada “abang-abang” fotografer yang mengabadikan mereka dan memuatnya di media massa atau minimal di laman facebook si fotografer.

Di jalan-jalan, masyarakat menyambut parade dengan rona ceria. Median jalan yang rindang adalah tempat paling pas untuk menyaksikan tontonan setahun sekali ini. Para pedagang asongan berjalan melawan arus pawai. Di dadanya bergantung kacang goreng, rokok ketengan dan permen. “Seribu...seribu...seribu.”

Karnaval tujuh belasan memang menjadi sarana bagi pedagang kaki lima mereguk keuntungan. Jika para pejabat mengambil keuntungan puluhan juta dari proyek-proyek negara, para pedagang cukup senang jika jualan mereka habis, minimal upaya mereka bangun pagi-pagi dan mengambil lapak strategis terbayar. Apalagi, mereka juga harus menyetorkan uang “keamanan” kalau jualan mereka tak ingin tergusur.

Di sebuah kantor unit militer yang berhalaman luas, sepelemparan batu dari meuligo Gubernur Aceh, para tentara bertubuh kekar menebar wajah ramah. Mengarahkan masyarakat yang ingin menonton karnaval masuk ke halaman kantor mereka.

Ini memang sebuah anomali. Karena tak mudah masuk ke lahan yang menjadi aset militer apalagi dengan sebuah senyuman manis. Mungkin pengaruh perayaan hari kemerdekaan. 

Saat pengunjung karnaval semakin membludak, dan sinar matahari yang mulai menyengat kulit, sejumlah prajurit mengenakan kaos abu-abu mengatur sepeda motor pengunjung. Sesekali mereka menyeka keringat yang mengucur dari dahi.

Sebagian lagi menggenggam uang kertas pecahan yang lusuh sambil duduk di atas sepeda motor terparkir. Uang yang dikumpulkan dari para pengunjung sebagai jasa parkir.

Masyarakat dengan senang hati memberikan uang kecil ini karena para prajurit membantu masyarakat agar tak perlu repot menerobos kerumunan massa yang memadati kawasan itu. Sebuah hukum alam, simbiosis mutualisme. 

Perlakuan ini jelas berbeda dengan tindakan rekan-rekan mereka di Medan. Saat menghadapi masyarakat yang memprotes rencana penggusuran dan wartawan yang meliput aksi itu. Mereka menjadi ganas. Hampir-hampir tak dikenali, apakah mereka tentara yang digaji oleh negara atau sekelompok preman berseragam yang membela kepentingan cukong.

Kembali ke soal karnaval kemerdekaan. Ini adalah wajah Indonesia sebenarnya. Baik atau buruk, tak jadi soal. Sepanjang 17 Agustus diperingati dengan meriah, itu sudah cukup. Anak-anak ceria, orang tua bahagia. Terserah kepada masing-masing individu untuk memaknainya.

Usai karnaval, semua kembali ke aktivitas semula. Mengisi hari-hari setelah merdeka dengan perjuangan untuk bertahan hidup di republik ini. Syukur-syukur bisa menyaksikan karnaval kemerdekaan tahun depan, syukur-syukur tidak dipukuli. 

Komentar

Loading...