Unduh Aplikasi

Tsunami Aceh lahirkan solidaritas Internasional

Tsunami Aceh lahirkan solidaritas Internasional
Wpid 201412270606061419635167549de9ded15c11
BANDA ACEH - Wakil Presiden (Wapres), HM Jusuf Kalla (JK) meng­ungkapkan, terjadinya bencana alam gempa bumi dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004 yang meluluh­lantak­kan Aceh, mampu melahirkan kesetiakawanan dan solidaritas dunia untuk membantu para korban.

Berbagai bantuan dunia inter­nasio­nal yang mengalir dari puluhan negara pascatsunami dinilai sangat membantu warga Aceh untuk bangkit kembali dari segala keterpurukan akibat parahnya kerusakan.

Bahkan, JK menilai Indonesia hing­ga saat ini memiliki hutang budi kepada dunia internasional yang telah mem­bantu, karena Aceh merupakan bagian dari wilayah Indonesia. Karenanya, Indonesia juga harus turut menunjuk­kan perannya memberikan bantuan ke­pada dunia internasional saat ben­cana lain terjadi.

“Saya menilai, tanpa bantuan dunia internasional proses pembangunan kembali Aceh yang telah hancur saat tsunami, tidak akan bisa berjalan de­ngan cepat seperti kita lihat sekarang ini. Karenanya, sebagai bentuk balas jasa, kita juga harus membantu jika ada di tempat lain terjadi bencana,” ujar JK saat memberikan sambutan pada peri­ngatan dan renungan untuk mengenang 10 tahun tsunami di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Jumat (26/12).

Di Blang Padang, JK didampingi istri­nya Ny Mufidah Jusuf Kalla, Gu­bernur Aceh Zaini Abdullah dan Wali Nanggroe Malik Mahmud. Turut hadir sejumlah Menteri Kabinet Kerja seperti Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang Fery Mursyidan Baldan, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri PAN-RB Yuddy Chrisnandi dan Ketua Forbes Anggota DPR-RI dan DPD-RI asal Aceh, Prof Dr Bachtiar Aly.

Acara juga dihadiri perwakilan 35 negara donor yang membantu rekon­struksi dan rehabilitasi Aceh. Para duta besar negara-negara asing itu mendapat penghargaan dan gelar kehormatan dari Gubernur Zaini Abdullah.

JK yang saat tsunami Aceh terjadi juga sebagai Wapres, mengisahkan ke­tika bencana tsunami Aceh terjadi pada 2004, Indonesia pun meminta bantuan kepada dunia internasional. Permintaan bantuan ini pun dipenuhi berbagai ne­gara di dunia.

“Hanya dalam waktu satu-dua jam. Itu kebersamaan yang luar biasa. Apa pun yang kita minta dari negara tetang­ga pasti datang, helikopter, kapal induk datang ke sini. Tentara juga dikerahkan untuk membantu bersama-sama,” jelasnya.

Dalam waktu 10 hari setelah ben­cana terjadi, bantuan dana yang dipero­leh pun mencapai lima miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun untuk mem­ba­ngun kembali Aceh. JK pun me­nyam­paikan terima kasihnya kepada sejumlah pihak yang turut membantu memperbaiki dan membangun Aceh.

JK mengenang apa yang terjadi 10 tahun silam saat ia pertama kali men­dengar tentang bencana tsunami di Aceh dalam peringatan 10 tahun pe­ristiwa tsunami di Banda Aceh.

“Saat itu seluruh bangsa ini bingung apa yang terjadi di Aceh. Pukul 07.00-08.00 WIB, saya mendengar ada gempa di Aceh. Gubernur sedang ada di Ja­karta, Panglima Kodam, Kapolda tak bisa dihubungi, semua tak bisa dihu­bungi,” kata JK.

Dia menambahkan, saat itu soli­da­ritas dan kesetiakawanan untuk Aceh juga datang dari seluruh Indonesia. “Be­nar-benar dari Sabang sam­pai Me­rauke, orang semua datang un­tuk mem­bantu. Aceh waktu itu tertu­tup dan sejak itu Aceh dibuka seluas-luas­nya untuk orang yang ingin mem­ban­tu, silakan datang tanpa visa,” katanya.

Untuk menghilangkan trauma kor­ban tsunami, JK pun memerintahkan agar segera membersihkan puing-pui­ng akibat hantaman gelombang besar saat itu. “Karena masyarakat waktu itu ke­hilangan semangat dan trauma, maka kami berusaha meningkatkan se­mangat menghilangkan bekas bencana itu,” katanya.

Terlibat Langsung

Sebagai Wapres saat itu, JK terlibat langsung menangani pemulihan ka­rena posisinya juga sebagai Ketua Ba­kornas. Dia memuji gerakan soli­da­ritas bang­sa-bangsa di dunia dalam memberikan bantuan kemanusian ke­pada Aceh.

“Mereka hadir di sini, melupakan se­mua permusuhan, perselisahan, tak peduli perbedaan budaya maupun aga­ma. Bantuan mengalir mulai anak TK hingga pejabat negara. Tak ada gera­kan yang mulai dari anak TK di ujung sana di Kanada, di Jerman, Amerika, semua­nya. Dari TK, SD, SMP mem­berikan tabungannya untuk Aceh. Sam­pai pada pemerintah, pengusaha sia­pa pun mereka datang ke sini,” ujarnya.

JK berharap peringatan 10 tahun tsunami ini dijadikan pelajaran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, yakni dengan persatuan. “Ma­sa­lah sesulit apa pun bisa disele­saikan bila kita bersatu.  Masa depan Aceh lebih baik dari persatuan itu,” tegas JK. 

Saat peringatan 10 tahun tsunami Aceh, Jusuf Kalla mengaku sempat menangis ketika melihat tayangan video gelombang tsunami menyapu Aceh yang diputar panitia di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. “Saya tadi menitikkan air mata saat menonton film itu,” ujar JK.

Hal itu justru berbanding terbalik saat JK menyaksikan langsung kondisi Aceh pasca tsunami menerjang Ming­gu 26 Desember 2004. Kala itu, JK menjabat sebagai wakil presiden men­dampingi Presiden Susilo Bam­bang Yudhoyono.

“Sepuluh tahun saya menahan air mata untuk Aceh sejak tsunami terjadi 26 Desember 2004, padahal saat itu orang-orang tertunduk sedih berlinang air mata. Kenapa saya tidak menangis? Karena saya butuh ketegaran demi mem­bantu rakyat Aceh bangun dari puing puing kehancurannya akibat tsunami. Saya katakan, kalau saya mena­ngis 10 tahun lalu, siapa lagi yang akan membantu?” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin yang ikut peringatan 10 tahun tsunami Aceh.

“Kini saat mengikuti peringatan 10 tahun tsunami Aceh, akhirnya saya sem­pat meneteskan air mata sedih mem­bayangkan kembali korban berja­tuhan dan kerusakan yang pernah me­landa Aceh. Air mata bercampur rasa haru melihat solidaritas nasional- in­ternasional memberi bantuan saat war­ga Aceh membutuhkan. Dan bang­ga atas semangat warga Aceh untuk bang­kit kembali dari kesedihan yang da­lam. Semoga para syuhada tsunami mendapat tempat yang layak di sisi-Nya,” tandas JK.

ANALISA

Komentar

Loading...