Unduh Aplikasi

Tim Zonasi Cagar Budaya Petakan Temuan Baru di Bukit Lamreh

Tim Zonasi Cagar Budaya Petakan Temuan Baru di Bukit Lamreh
Tim mengamati batu nisan kuno di Bukit Lamreh, Aceh Besar. Foto: ist

BANDA ACEH - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh bekerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, melakukan zonasi kawasan cagar budaya Lamuri di bukit Lamreh, Aceh Besar.

Ketua tim zonasi, Husaini Ibrahim mengatakan, zonasi ini merupakan tindak lanjut kegiatan pelestarian cagar budaya yang tersebar di bukit Lamreh Aceh Besar.

“Fokus zonasi cagar budaya Lamreh lebih pada penataan ruang untuk mengakomodir berbagai kepentingan yang berorientasi pada pelestarian cagar budaya,” ungkapnya.

Bukit Lamreh, lanjut dia, mengandung banyak peninggalan arkeologi seperti makam dan batu nisan kuno, benteng pertahanan, dan temuan pecahan keramik dalam jumlah besar.

“Dari hasil amatan tampak peninggalan tersebut kondisinya sudah memprihatinkan tanpa ada upaya pelestarian,” kata Husaini. Kegiatan oleh beberapa tenaga teknis ini meliputi penentuan batas-batas penting kawasan Lamreh seperti batas asli, geografis, kepemilikan, serta batas berdasarkan keperluan.

Arkeolog independen Deddy Satria mengungkapkan, tenaga teknis zonasi telah menentukan zona-zona kawasan Lamreh sesuai dengan ketentuan-ketentuan cagar budaya. “Kita telah menentukan zona inti dan zona penyangga kawasan Lamreh, sedangkan untuk zona penunjang dan zona pengembangan akan ditetapkan pada tahapan selanjutnya,” katanya.

Selain menentukan batas zonasi, pihaknya juga melakukan pemetaan terhadap temuan-temuan baru di kawasan perbukitan Lamreh. Salah seorang anggota tim, Shaiful Idzwan bin Shahidan mengatakan bahwa mereka menemukan temuan-temuan baru yang belum dipetakan saat pemetaan tahun 2014 lalu.

“Batu nisan dan struktur adalah temuan yang sangat dominan ditemukan pada zonasi tahun ini, temuan tersebut menyebar di sepanjang bibir pantai Lamreh hingga perbatasan Laweung, Pidie,” kata arkeolog dari Universiti Sains Malaysia ini.

Sementara itu, bekas Direktur Peninggalan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Soeroso yang tergabung dalam tim zonasi kawasan Lamreh, berharap semua pihak terlibat aktif dalam merawat dan melestarikan tinggalan arkeologi yang ada di kawasan Lamreh dan di wilayah Aceh lainnya.

Hal itu kata dia, mengingat banyaknya sumber daya arkeologi di perbukitan Lamreh. “Pemerintah Aceh sepatutnya telah membentuk tim pendaftaran dan tim ahli cagar budaya di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota guna memudahkan proses pendaftaran situs cagar budaya yang ada di Lamreh dan di daerah lainnya di Aceh,” ujarnya. “Karena Aceh merupakan gudangnya arkeologi Islam Nusantara.”

Soeroso juga mengatakan, pembentukan tim ahli cagar budaya yang bersertifikat tidak harus ikut sertifikasi di tingkat nasional. Menurutnya, sertifikasi tim ahli cagar budaya lebih mudah dilakukan di daerah ketimbang mengikuti di tingkat nasional.

“Mengingat provinsi dan kabupaten di Indonesia jumlahnya sangat banyak serta sumber daya arkeologinya sangat melimpah maka sudah sepatutnya pemerintah daerah melakukan sertifikasi tim ahli cagar budaya di daerahnya masing-masing,” harapnya. Zonasi yang melibatkan tenaga ahli dari dalam dan luar negeri tersebut berlangsung selama 10 hari, 11-20 November mendatang.

Komentar

Loading...