Unduh Aplikasi

KASUS SALAH SUNTIK DI RSUD CND

Tetapkan Honorer sebagai Tersangka, Polisi Dinilai Tebang Pilih

Tetapkan Honorer sebagai Tersangka, Polisi Dinilai Tebang Pilih
RSUDCND. Foto: Ist

ACEH BARAT - Ikatan Lembaga Mahasiswa Imu Keperawatan (ILMIKI) Aceh menyorot terkait penetapan tersangka dalam kasus dugaan salah suntik yang terjadi terhadap Alfa Reza (11), bocah asal Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat hingga meninggal dunia.

Polres Aceh Barat telah menetapakan dua orang tersangka, yakni EW (39), dan DA (23). Keduanya merupakan perawat dan masih tercatat sebagai tenaga honorer di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUD CND) Meulaboh.

Ketua ILMIKI Aceh, Rona Julianda, menilai polisi tebang pilih dalam menetapkan tersangka yang berinisial DA (23). Menurutnya, DA yang sehari-harinya sebagai petugas tenaga administrasi tidak akan mungkin melakukan tugas di luar tanggung jawabnya tanpa perintah. Bagi DA, sebagai bawahan tidak mungkin menolak perintah kepala ruangan yang merupakan atasannya.

"Kenapa orang kecil yang dikorbankan, padahal dia (DA) hanya menjalankan perintah, kita lihat keluarga DA saja kita sudah kasihan. Harusnya yang bertanggung jawab disini kepala ruangan selaku pemberi perintah," kata Rona Julianda, kepada AJNN, Sabtu, (19/1) malam.

Ia mengatakan apabila polisi benar-benar bekerja daalm pengungkapan kasus tersebut, maka kepala ruangan, dan dokter juga harus ditetapkan sebagai tersangka. Secara manajemen, direktur juga bisa dijerat, pasalnya dalam manajemen rumah sakit tersebut sudah salah urus, lantaran untuk menjadi kepala ruangan di ruang rawat anak tersebut seorang bidan.

"Harus bidan tidak bisa dijadikan kepala ruangan di rumah sakit," tegasnya.

Dalam menjalankan tugas, kata Rona, DA sudah menjalankan sesuai dengan prosedur, lantaran sebelum memberikan suntikan kepada pasien yang merupakan korban, DA telah memastikan dua kali, menyangkut sesuai atau tidaknya obat yang akan disuntikkan tersebut. Sayangnya, polisi beralibi jika kesalahan dari DA memberikan resep obat suntik kepada keluarga pasien untuk menebusnya. Dan alibi ini pula yang menjerat DA sebagai tersangka.

"Kalau secara prosedural, perawat boleh memberikan resep kepada keluarga pasien, asal ada kesepakatan dari keduanya, dimana keluarga pasien tidak keberatan dan menerimanya. Kecuali misalnya keluarga bilang kami tidak mengerti tentang obat, itu baru kita sebagai perawat mendampinginya," kata dia.

Baca: Kasus Salah Suntik, Dua Tenaga Honorer di RSUD CND Jadi Tersangka

Tak hanya itu, kata dia, jika memang salah pemberian obat, maka dokter yang bertanggung jawab atas hal tersebut karena perawat biasanya hanya mencatat resep sesuai dengan perintah dokter.

"Saya juga merasa heran dengan penetapan DA sebagai tersangka, lantaran dari informasi yang saya peroleh kasus tersebut telah belangsung damai, namun tiba-tiba sudah ada pemberintaan atas penetapan EW (39), dan DA (23), sebagai tersangka," jelasnya.

Informasi terkait adanya perdamian itu diperoleh dari Direktur RSUD CND, dr. Furqansyah. Atas informasi itu, pihaknya langsung mengambil sikap untuk melakukan investigasi secara utuh atas peristiwa tersebut.

"Saya juga heran dengan manajemen rumah sakit yang terlihat tidak berbuat apa-apa atas penetapan EW dan DA sebaagi tersangka. Harusnya, saat ada pegawai mereka yang bermasalah dengan hukum pihak rumah sakit langsung mengambil tindakan dalam proses hukum," ujarnya.

Untuk itu, pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan melakukan berbagai upaya untuk membantu kedua tenaga honorer yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"Kami juga sudah berkoordinasi PPNI (Perhimpinan Perawat Nasional Indonesia) untuk membatu DA, dan mereka juga siap membantu penuh mengawal proses hukum ini," ungkpanya.

Selain mengawal proses hukum terhadap DA, kata dia, pihaknya juga akan terus mendesak pihak kepolisian untuk berani menetapkan sebagai tersangka terhadap kepala ruangan dan dokter yang bertanggung jawab atas penanganan pasien Alfareza saat itu.

"Selama ini perawat memang sering menjadi korban atas kesalahan tindakan medis, sementara dokter selalu lepas dari jerat hukum, padahal jika dilihat dari jenjang pekerjaan sesuai atau tidaknya tindaka perawat berdasarkan perintah dokter," ungkapnya.

Sementara itu, Suryati (43), ibu kandung DA, tidak menerima penetapan anaknya sebagai tersangka. Menurut Suryati, dalam kasus tersebut terkesan polisi hanya berani terhadap kaum lemah.

Ia bahkan mengancam akan melakukan upaya hukum berupa pra peradilan apabila tidak menetapkan kepala ruangan, dokter, bahkan direktur rumah sakit sebagai tersangka, karena menurutnya merekalah yang menjdi penanggung jawab utama.

"Saya akan pra peradilanka polisi jika cuma anak saya sebagai tersangka, karena disini anak saya hanya menjalankan tugas. Sedangkan kepala ruangan yang beri perintah masih melenggang bebas," katanya.

Komentar

Loading...