Unduh Aplikasi

Terra Incognita: Masa Depan Kota (I)

Terra Incognita: Masa Depan Kota (I)
Foto : Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Pandemi dan kota adalah dua entitas yang terus menerus berhubungan sepanjang sejarah. Ibarat perang pandemi selalu menjadi penyerang, sedangkan kota dan warganya adalah pihak yang diserang. Itu artinya kota dan warganya adalah pihak yang selalu menjadi korban, bahkan korban terbesar dibandingkan kawasan pedesaan.
 
Sepanjang sejarah yang tercatat, dimulai dari dari Athena, sekitar 500 Masehi, dan Roma, 160 tahun setelah Masehi adalah dua kota yang paling menderita karena pandemi. Tidak ada catatan sejarah pandemi terhadap kota lain sebelum itu, padahal kehadiran kota di muka bumi sudah berlanjut sekitar 7500 tahun sebelum Masehi.
 
Tidak ada perkembangan peradaban yang luar biasa pentinya dalam sejarah umat manusia selain dari ditemukannya cara bercocok tanam dan memelihara ternak. Pertanian dan peternakan telah membuat manusia yang sebelumnya puluhan ribu tahun -homo sapiens menurut rekaman arkeologi telah ada semenjak 50.000- 55.000 tahun yang lalu, mengembara, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kehidupan. Mereka makan dari apa yang disediakan alam, terutama   dengan berburu dan mengumpulkan buah-buahan dan umbi-umbian, dan sering bertempat tinggal di dalam gua-gua.
 
Tidak ada penjelasan  sejarah yang lebih kompleks dan detail tentang bagimana pertanian ditemukan, kecuali hanya tentang kejadiannya terjadi dalam waktu rentang waktu ratusan tahun antara satu tempat dengan yang lainnya, yang tersebar di seluruh dunia. Yang pasti pertanian padi, gandum, jagung, dan umbi-umbian yang tersebar di berbagi tempat dan benua di dunia. Tempat yang diyakini sebagai  kawasan awal pertanian adalah kawasan sungai Tigris-Mesopotamia,-Irak hari ini, delta sungai Hoang Ho, di Cina, delta sungai Irawadi di Myanmar,  delta sungai Brahmaputera di India, dan beberapa  tempat lain di Amerika Tengah dan  Selatan.
 
Sejumlah tanaman biji-bijian seperti gandum, padi, jagung, dan umbran seperti kentang yang sebelumnya adalah tanaman liar yang tumbuh secara alami, kemudian dibudidayakan. Sekalipun kucing dan anjing telah menjadi teman manusia lebih dari 30.000 tahun yang lalu, ternak paiaraan yang dikonsumsi seperti sapi, domba, kambing, mulai di pelihara ribuan tahun sebelum pertanian tanaman pangan dimulai. Kehadiran petanian yang didahului oleh peternakan telah melengkapi kehidupan manusia untuk menetap, dimana konsumsi protein dan lemak telah bertemu dengan ketersedian karbohidrat dalam jumlah yang banyak dan tersedia sepanjang musim dan tahun.
 
Perkembangan pertanian yang menetap kemudian melahirkan pemukiman yang diikuti dengan semakin terbangunnya budaya pembagian pekerjaan masyarakat. Kelebihan atau kekurangan bahan makanan dan kebutuhan lainnya kemudian melahirkan perdagangan yang menjadi cikal bakal lahirnya kota. Kota yang pada awalnya  lebih merupakan campuran kehidupan antara pemukiman, perdagangan, dan pertanian lambat laun terus berkembang membentuk entitas tersendiri.
 
Dimulai dengan kota dagang, lalu menjadi pusat pemerintahan, kota kemudian berevolusi sesuai dengan tuntutan dan tantangan zaman. Kota-kota awal yang umumnya dicirikan oleh kehidupan masyarakat yang hidup bersama dalam sebuah kompleks yang dilindungi oleh pagar pelindung, seakan menjadi benteng terhadap serbuan musuh atau kekuatan asing yang seringkali berakhir dengan penaklukan.
 
Imginasi tentang kota klasik yang paling kuno, mungkin tergambar dalam film perang Troya yang dibintangi oleh  Brad Pitt -sebagai Achiles, dan Diana Kruger  sebagai Helen. Di dalam film itu digambarkan kota Troy - Turki hari ini, yang terletak di mulut selat Dardanella yang menghubungkan Laut Agea dengan Laut Hitam, via laut  Marmara. Penyerangan kota dan kerajaan Troy oleh pasukan Yunani itu menggambarkan bagaimana masyarakat kota membangun tembok pelindung, sehingga Yunani tak mampu masuk dan menyerang Troy. Akhirnya Yunani membuat sebuah kuda kayu besar yang ditinggalkan dan memberi kesan  pasukan Yunani terserang penyakit dan kalah. Karena kanaifannya, masyarakat Troy menarik kuda itu kedalam kota dan mengunci pintu kota, tanpa sadar bahwa musuh mereka, Yunani, ada dalam kuda besar itu.
 
Ilustrasi itu sangat penting untuk diuraikan, karena menyangkut dengan kemajuan peradaban manusia dalam mengantisipasi apapun ancaman terhadap kehidupan mereka. Karena ancaman pada masa itu lebih banyak berurusan dengan serbuan tentara musuh, maka pilihan membuat pagar tinggi seperti benteng adalah sesuatu yang sangat umum ditemukan di berbagai kota di dunia pada masa itu. Praktek itu bahkan terus berlanjut ribuan tahun kemudian.
 
Evolusi kota yang terus berlanjut tetap saja berhadapan dengan berbagai tantangan, termasuk tantangan ekspansi manusia dari tempat lain yang seringkali berakhir dengan perang. Kemungkinan  ada saja  penyakit tertentu yang bersifat endemi yang pernah terjadi, akan tetapi rekaman arkeologi sampai hari ini belum menemukannya kecuali yang terjadi di Athena 500 tahun sebelum Masehi, dan di kota Roma yang terjadi 150 tahun setelah nabi Isa lahir, terjadi ketika salah seorang kaisar terbaik Romawi memerintah, yakni Marcus Auraleus.
 
Kedua wabah itu yang terkenal dengan wabah Athena dan wabah Antonine terurai dengan jelas perjalanan wabah yang menghancurkan kota dan kerajaan Athena yang mempunyai dokumen tertulis. Wabah Athena ditulis dengan cukup baik oleh Thucyde, The History of the Peloponnesian War. Ia adalah salah seorang jenderal Athena yang selamat dari wabah.  
 
Kejadian wabah Antonine ditulis oleh Galen, dokter berdarah Yunani yang berasal  dari Anatolia, Asia Kecil-Turki hari ini, yang merupakan dokter pribadi Kaisar Marcus Auraleus. Adalah catatan Galen yang memberikan deskripsi bagaimana wabah Antonine menghantam kerajaan Romawi yang melintasi tiga benua, dan sekaligus juga merekam bagaimana kehidupan kota Roma yang sama sekali tak berdaya meghadapi serangan wabah itu.
 
Kedua rekaman sejarah itu tidak memberikan bagaimana reaksi kota,    -pemerintahan dan masyarakat kota, ketika serangan wabah terhenti. Sejarah kemudian mencatat terjadinya beberapa kali serangan wabah, baik yang berskala endemi ataupun epidemi yang juga membuat kota tak berdaya, namun tetap juga tidak mendapatkan cara untuk menghadapi serangan yang serupa pada masa-masa berikutnya.
 
Reaksi kota terhadap pandemi dalam sejarahnya baru terjadi pada tahun 1377 dengan hadirnya karantina di Dubrovnik di pantai Dalmatia, Kroasia hari ini. Sedangkan rumah sakit pertama yang khusus ditujukan untuk melayani pandemi di mulai di republik Venesia, -Italia hari ini,  46 tahun setelah karantina pertama, tepatnya pada tahun 1423, dipulau terdekat Venesia, yakni Santa Maria di Nazareth. Setelah itu hampir semua kota pelabuhan di Eropah mempunyai karantina, dan pelayanan kesehatan terhadap penyakit menular baru saja mulai berkembang.
 
Respons kota yang bersifat preventif terhadap pandemi baru mulai terjadi pada tahun-tahun ketika Eropah diserang oleh pandemi kolera. Sekalipun kota-kota di Eropah sangat dipengaruhi oleh pandemi Black Death, perkembangan kota ketika pendemi mereda lebih banyak ditentukan oleh perkembangan perdagangan yang tumbuh ketika itu, baik kota pantai, maupun kota pedalaman. Baru pada tahun-tahun awal abad ke 19, kota-kota Eropah dan AS mulai memasukkan variabel pandemi dalam rancangan tata kota.  
 
Pandemi kolera adalah penyebab utama kota London pada tahun 1850-an membuat sistem sanitasi kota secara besar-besaran, yang nilainya hari ini mencapai ratusan juta dollar AS. Sanitasi yang dibuat adalah saluran pembuangan limbah kotor yang sangat teratur untuk mencegah kontaminasi dengan sumber air minum penduduk kota, sekaligus mencegah pembuangannya ke sungai Thames di kota London.
 
Pembuatan jalan tepi sungai yang berfungsi sebagai jalan dan penyangga kuat pencemaran air buangan, dilakukan dengan perencanaan yang matang, tidak hanya memenuhi kualifikasi pekerjaan sipil biasa, tetapi juga menjadi ajang keindahan landskap perkotaan yang luar biasa, yang sampai hari ini masih meninggalkan jejaknya. Rancangan sanitasi kota London yang dipadukan dengan rancangan keindahan landskap perkotaan  mengilhami Jerman dan Perancis yang kemudian diwujudakan dalam rekonstruksi kota Berlin dan Paris. Sejak saat itu, antisipasi pandemi dan berbagai penyakit menular lainnya menjadi salah satu komponen yang digunakan berbagai negara, awalnya di benua Eropah dan AS, kemudian lambat laun berkembang ke tempat lain sampai dengan hari ini.
 
Hari ini ketika Covid-19 menulari penduduk global, tempat yang paling banyak korban adalah kawasan perkotaan dimanapun di dunia. Hari ini dengan jumlah penduduk perkotaan yang telah tumbuh berlipat ganda dari masa-masa sebelumnya, kota mempunyai tantangan tersendri. Penduduk perkotaan global yang pada tahun 1950 hanya berjumlah 751 juta jiwa  pada dalam tempo 68 tahun, tepatnya pada tahun 2018 telah tumbuh menjadi 4.2 milyar jiwa. Diperkirakan pada tahun 2050 dengan jumlah penduduk global pada angka 9.8 milyar, 70 persen-sekitar -6.8 milyar dari jumlah itu akan tinggal di perkotaan.
 
Perhitungan itu dibuat sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Dengan skala ancaman Covid-19 dan mungkin barbagai ancaman pandemi lain yang serupa atau tak serupa, proyeksi jumlah penduduk perkotaan  itu perlu peninjauan kembali, apalagi dengan kemajuan teknolgi konektivitas yang terjadi hari ini sangat luar biasa. Konekvitas yang dimaksud adalah konektivitas fisik dengan berbagai ragam dan cara, dan yang paling penting adalah konektivitas digital yang kini sudah mulai memerintah berbagai aspek  kehidupan manusia.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...