Unduh Aplikasi

Terlibat Pemalsuan Kredit, Bekas Kepala Dinas Syariat Islam Jadi Tersangka

Terlibat Pemalsuan Kredit, Bekas Kepala Dinas Syariat Islam Jadi Tersangka
Konfrensi pers terkait kasus pemalsuan kredit di Bank Mandiri. Foto: Tommy Sahendra
BANDA ACEH - Kepolisian Daerah Aceh membongkar sindikat tindak pidana perbankan di Bireuen. Kasus ini melibatkan dua tersangka yang merupakan pejabat di lingkungan pemerintah setempat. Satu di antaranya adalah bekas pejabat Kepala Dinas Syariat Islam Bireuen.

Direktur Reserse dan Kriminal Khusus Polda Aceh Komisaris Besar Joko Irwanto menyebutkan pihaknya menetapkan delapan orang sebagai tersangka. Mereka diduga memalsukan seluruh dokumen pengajuan kredit dengan cara menyalin data para debitur di Bank Mandiri.

"Mereka sengaja melakukan pengajuann kredit ke PT Bank Mandiri dengan data debitur sebanyak 113 orang untuk pengajuan kredit. Namun, data tersebut dimanipulasi dengan cara men-scan-nya, mulai dari KTP, KK, SK PNS,” kata Joko dalam konfrensi pers di markas Polda Aceh, Senin (14/3).

Keenam pelaku tersebut berinisial MNA (49), TM (36), JL (37), A (31) dan SB (47), dan MD (30). Sedangkan dua tersangka lain adalah Kepala BPBD Bireuen AH dan J; bekas pejabat Kadis Syariat Islam Bireuen. Keduanya belum ditahan dengan alasan sedang ada tugas.

Kata Joko, kasus ini bermula pada 2013 sampai 2014, saat pemberian fasilitas kredit bagi pegawai negeri sipil di lima instansi di Pemerintah Kabupaten Bireuen oleh Bank Mandiri. Total dana yang digunakan mencapai Rp 18 miliar lebih.

"Modus dilakukan tersangka dengan mencatut sejumlah pegawai di Kantor Dinas Syariat Islam Bireuen, Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, pegawai Kantor Camat Kuala dan Kantor Camat Jangka,” kata Joko.

Uang dari kredit hasil yang mencatut PNS di beberapa SKPK itu dinikmati pelaku untuk kepentingan pribadi. Kasus itu terkuak setelah pegawai yang dicatut didatangi tim auditor kredit Bank Mandiri karena kredit macet.

"Dalam kredit fiktif tersebut pihak Bank Mandiri mengalami kerugian berkisar Rp 6 miliar," jelasnya. Dalam kasus tindak pidana perbankan tersebut, kepolisian mengamankan enam unit mobil, satu unit mesin cetak, serta sejumlah dokumen lainnya.

Komentar

Loading...