Unduh Aplikasi

Terkait Pembagian Lahan Replanting Sawit di Aceh Jaya, Ini Kata Pengelola

Terkait Pembagian Lahan Replanting Sawit di Aceh Jaya, Ini Kata Pengelola
Ilustrasi Replanting sawit. Foto: PTPN V.

ACEH JAYA - Koperasi Produsen Mitra Aceh Jaya selaku pengelola program peremajaan atau penanaman kembali (Replanting) kebun sawit perdana di kabupaten Aceh Jaya mengatakan semua sertifikat sudah diberikan kepada desa untuk dibagikan kepada masyarakat.

"Sertifikat lahan sawit program Replanting tahap pertama sudah kita serahkan ke pihak desa pada akhir tahun 2020 lalu untuk dibagikan kepada masyarakat," kata Ketua Koperasi Produsen Mitra Aceh Jaya, Aidi Akhyar kepada AJNN, Rabu (16/6).

Katanya, Program Replanting tahap pertama tahun 2018 yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebesar Rp 3,2 miliar dengan lahan seluas 130 hektare di kawasan desa Pante Kuyun, kecamatan Setia Bakti dan desa Masen, kecamatan Darul Hikmah itu merupakan kawasan bekas PT. Tiga Mitra yang sudah tidak terkelola sejak konflik terjadi di Aceh.

"Saat itu, kita melihat lahan sawit di bekas PT Tiga Mitra itu sudah tidak terkelola lagi pasca konflik dan tsunami Aceh, dan sudah sangat layak untuk dilakukan peremajaan kembali.

Baca: Program Replanting Sawit di Aceh Jaya Belum Diserahkan ke Masyarakat, Ada Apa?

Atas dasar itu kita berupaya mengurus semua izin administrasinya supaya lahan sawit bekas PT. Tiga Mitra yang berada di kawasan desa Pante Kuyun dan desa Masen bisa kita usulkan program replanting, dengan harapan masyarakat di dua desa tersebut bisa mengelola lahan sawit setelah kita lakukan peremajaan," ungkap Aidi.

"Jadi tidak bisa kita serahkan ke warga desa langsung, karena lahan itu merupakan bekas PT Tiga Mitra, bukan lahan pribadi warga, makanya kita serahkan ke pihak desa," tambahnya.

Sementara itu, pihaknya mengakui jika penyerahan sertifikat lahan replanting tahap pertama tidak dilaporkan secara resmi dalam bentuk tulisan ke dinas pertanian kabupaten Aceh Jaya, namun hanya melaporkan secara lisan.

Selain itu, sambungnya, masalah hari ini bahwa lahan replanting yang sudah dikerjakan sejak tahun 2018 lalu sebagian besar sudah dirusak dan dimakan oleh hama gajah.

"Kita sudah garap dan menyelesaikan pekerjaannya 99 persen, tapi kini hanya tersisa sebagian kecil yang masih hidup, sementara sebagian besarnya sudah mati akibat dua kali diobrak abrik kawanan gajah liar," ungkap Aidi.

Sedangkan terkait hama gajah tersebut pihaknya juga sudah laporkan ke pihak balai penyuluhan, dinas serta diteruskan ke pusat.

"Oleh sebab itu, kita sangat berharap pihak dinas bisa memfasilitasinya agar kita bisa usulkan ke BPDPKS Pusat untuk penanaman bibit sawit kembali pada tahapan pemeliharaan," terangnya.

Untuk mengantisipasi hama gajah, pihaknya juga sudah mengusulkan pergantian bibit dan kawat kontak kejut untk mengatasi ganguan gajah liar.

"Mengenai lahan yang rusak akibat di makan gajah, kita sedang melakukan pendataan berapa luas yang diamuk dan dimakan gajah. Dalam waktu dekat akan di laporkan ke dinas dan pihak BPDPKS secara tertulis," pungkas Aidi.

Komentar

Loading...