Unduh Aplikasi

Tergoda Sapi Australia Yang Semok

Tergoda Sapi Australia Yang Semok
Wakil Ketua DPRK Abdya, Hendra Fadli. Foto: Ist

Oleh: Hendra Fadli, SH

Marsen begitu piawai memaparkan secara sistematis materi tentang perencanaan program di depan seluruh skuad KontraS Aceh (2010). Dia menyebut materi tersebut dengan istilah Result Based Management (RBM).

Marsen kala itu bekerja sebagai konsultan pada Canadian Development and Peace. Salah satu lembaga donor asal Kanada yang ikut berkontribusi dalam program Rehab dan Rekon paska Tsunami di Aceh.

Satu hal yang paling saya ingat dari paparan sahabat saya itu adalah; “Dalam metode perencanaan RBM, kita tak perlu pusing mengidentifikasi dan merumuskan masaalah berupa ancaman dan kelemahan, sebab hidup kita memang dipenuhi ragam persoalan”.

Namun yang perlu kita cermati menurut lelaki gemar membaca itu, semua kita memiliki potensi, dan lingkungan kita juga kaya akan berbagai potensi.

Ringkasnya, metode RBM ini menggiring kita berfikir positif untuk menggali setiap potensi yang kita miliki. Lalu secara bersama pula kita merumuskan program dan kegiatan berbasiskan pada potensi tersebut disertai indikator kualitatif dan kuantitatif yang diramu dalam tiga sasaran perubahan, yaitu; (1) Management Result. (2) Enabling Result, dan (3) Development Result.

Bagi saya, materi yang dipaparkan marsen saat itu merupakan barang baru yg menawan, sederhana dan mudah dirumuskan. Persis kalimat populer yg disampaikan Steve Jobs “Kesederhanaan adalah kecanggihan yang sesungguhnya”. Mengingat selama ini kalangan LSM terbiasa dengan metode perencanaan stategis SWOT yg ruwet. Metode perencanaan SWOT ini menekankan kehandalan analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats).

Ilmu tentang RBM yang saya dapatkan dari Marsen sepuluh tahun yang lalu mengingatkan saya pada krasak-krusuk Sapi kurus di UPTD IBI Sare. Entah apa akar masalahnya. Biarlah kasus itu diurus otoritas di Kutaraja. Paling tidak, dari peristiwa itu saya dapat memetik pembelajaran berkaitan dengan pengembangan peternakan Sapi lokal di Aceh dan Abdya khususnya.

Dalam amatan saya, di Aceh Barat Daya terbentang potensi alam sepanjang puluhan kilometer dari Simpang ie Mirah, Kecamatan Babahrot hingga Desa Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee untuk program pengembangan peternakan Sapi.

Saat ini di kawasan itu dengan mudah kita temukan ratusan sapi lokal yang bebas lepas dalam areal kebun sawit warga maupun pada bahu jalan 30 (Tiga Puluh) yang kaya rumput hijau.

Dapat saya pastikan di kawasan itu langka ditemukan sapi yang “pijuet ruet” seperti terlihat dalam foto-foto sapi milik UPTD BBI Saree yang belakangan ini viral di media sosial. Sebab, selain terdapat sumber pakan yang berlimpah, sapi yg dipelihara peternak kami di Babahrot dan Kuala Batee merupakan sapi lokal yang terbiasa hidup di alam kita yang beriklim tropis. Hanya saja cara masyarakat kami berternak sapi saat ini masih tergolong tradisional warisan indatu.

Bila dianalisa menggunakan metode perencanaan RBM, hal seperti tersebut di atas bukanlah masaalah besar. Sebab, sekalipun berpola tradisional, kemauan peternak sapi warga kami di Abdya lagi-lagi harus dilihat sebagai potensi yang dapat dibenahi seiring waktu.

Tren memelihara sapi di areal Kebun Sawit merupakan ikhtiar lokal yang terus berkembang di Abdya dan di beberapa kabupaten lainya di Aceh. Hemat saya, hanya butuh sedikit sentuhan dari Pemerintah, peternakan sapi lokal pola terintegrasi dengan lahan Sawit di Abdya akan maju layaknya peternakan sapi moderen di Australia.

Jadi kenapa pula ada otoritas berwenang di republik ini yang tergoda pada sapi Australia yang terkenal sehat dan montok (Semok) itu? lalu pihak berwenang dengan latah mengimpor sapi dari negara Kanguru itu untuk dikembangkan di Aceh. Padahal Sapi lokal juga terbukti sehat dan montok bila diurus oleh pihak yang tepat.

Hemat saya, yang kita butuhkan dari Australia bukanlah Sapi mereka yang semok itu, tetapi ilmu tentang cara mereka mengurus sapi dengan sempurna didukung fasilitas tekhnologi moderen. Toh biaya tekhnologisasi alat-alat peternakan sapi masih terjangkau kemampuan keuangan daerah kita.

Terkait dengan pelaksanaan salah satu tugas dan fungsi sebagai anggota DPRK Abdya, saya telah merumuskan pokok-pokok pikiran hasil reses tahun 2019. Dan Secara kebetulan ada konstituen yang mengusulkan program peningkatan produktifitas peternakan sapi, berupa; (1) Pengadaan Mesin pengolah pakan sapi, (2) Training atau pendampingan tentang teknik olah pakan sapi, dan (3) pengadaan sapi unggul lokal untuk kelompok peternak.

Semoga Pokir saya tersebut dapat tertampung pada Tahun Anggaran 2021. Dan yg lebih penting, sebagai wakil rakyat saya memiliki tugas melekat mengawasi dan memastikan agar kegiatan produk Pokir tersebut dapat terlaksana dan berkembang maju, sehingga tidak berulang kasus leumo pijuet ruet yang bikin heboh bansigom donya.

Penulis adalah Wakil Ketua DPRK Abdya.

Komentar

Loading...