Unduh Aplikasi

Tergiur Simpanan Tetangga

Tergiur Simpanan Tetangga
Ilustrasi: pixabay.

PARA nelayan yang ditahan di Thailand akhirnya bernapas lega. Mereka akan dipulangkan ke Aceh setelah Pemerintah Aceh berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Otoritas Kerajaan Thailand. 

Kepulangan mereka pun menjadi lebih cepat karena 51 nelayan itu mendapatkan pengampunan yang lazim diberikan saat Raja Thailand merayakan ulang tahun. Atas inisiasi Dinas Sosial Aceh, mereka akan segera diberangkatkan dari Pusat Penahanan Imigrasi di Bangkok ke Jakarta sebelum pulang ke Aceh. 

Seluruh nelayan Aceh yang akan dipulangkan adalah awak kapal KM Perkasa, KM Mahera serta KM Tuah Sultan. Mereka ditangkap pada 21 Januari 2020, enam di antara mereka telah lebih dulu dibebaskan karena diketahui masih di bawah umur. Mereka berasal dari Aceh Timur.

Pada 13 Maret 2020, para nelayan ini diputuskan bersalah dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri Phang Nga. Pada akhir Juli semua mereka diberikan amnesti, berbarengan dengan ulang tahun Raja Rama Thailand. Pada 9 September 2020, amnesti atas mereka ditetapkan melalui keputusan pengadilan.

Kejadian ini harus jadi pelajaran bagi nelayan Aceh. Mereka diharapkan tetap mencari rezeki dengan mematuhi aturan internasional terkait batas wilayah tangkapan. Hal seperti ini tidak hanya menambah beban keuangan daerah, namun juga akan sangat merugikan nelayan dan keluarga mereka. 

Nelayan seharusnya memahami bahwa mereka dibatasi secara hukum untuk mencari ikan di jalur penangkapan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 71/PERMEN-KP/2016. Jalur penangkapan ikan adalah wilayah perairan yang merupakan bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). 

Aturan juga membatasi mereka dalam mengelola kegiatan penangkapan yang menggunakan alat penangkapan ikan yang diperbolehkan dan sebaliknya. WPPNRI merupakan wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan ikan yang meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia. 

Di dalam negeri, aturan itu dibuat agar jalur penangkapan ikan tetap lestari. Pemanfaatan sumber daya ikan pun menjadi lebih bertanggung jawab, optimal, dan berkelanjutan.

Peran aparat terkait dan panglima laot juga penting untuk mengingatkan para nelayan untuk tidak mengincar “simpanan” di laut negara tetangga. Dan yang terpenting, harus muncul kesadaran untuk tidak melanggar aturan. Karena sebanyak apapun sosialisasi, tanpa kesadaran diri, peristiwa penangkapan nelayan Aceh di negara tetangga akan terus berulang. 

Komentar

Loading...