Unduh Aplikasi

Terdakwa Korupsi telur Ayam Minta Dibebaskan dari Dakwaan dan Tuntutan Jaksa

Terdakwa Korupsi telur Ayam Minta Dibebaskan dari Dakwaan dan Tuntutan Jaksa
Sidang korupsi penjualan telur ayam. Foto; AJNN/Tommy

BANDA ACEH - Terdakwa kasus korupsi telur ayam di Dinas Peternakan Aceh memohon kepada majelis hakim agar membebaskan dari segala dakwaan dan tuntutan penuntut umum.

Permintaan tersebut disampaikan dua terdakwa, Ramli Hasan dan Muhammad Nasir melalui penasihat hukumnya masing-masing pada sidang lanjutan dengan majelis hakim yang diketuai Dahlan, di Pengadilan Negeri Banda Aceh, Jumat (28/8).

Baca: Sidang Pembacaan Nota Pembelaan Terdakwa Korupsi Telur Ayam Ditunda

Kedua terdakwa hadir di persidangan didampingi penasihat hukum Junaidi, Jalaluddin dan Najmuddin. Hadir Jaksa Penuntut Umum (JPU) Taqdirullah dari Kejaksaan Negeri Aceh Besar.

Junaidi selaku kuasa hukum terdakwa Muhammad Nasir dalam pledoinya menyatakan bahwa kliennya tidak bersalah melakukan korupsi seperti dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum. .

"Tudingan terhadap terdakwa Muhammad Nasir melakukan korupsi tidak memenuhi unsur dan tidak terbukti selama proses persidangan," kata Junaidi.

Ia menilai dari fakta persidangan terungkap keseluruhan perbuatan yang dilakukan terdakwa Muhammad Nasir dalam pembelian pakan ternak menggunakan uang hasil penjualan telur ayam perbuatan dan tindakan menguntungkan negara.

"Pembelian pakan untuk menyelamatkan 45 ribu ekor ayam yang ada. Berdasarkan keterangan ahli, apabila ayam ras petelur kekurangan pakan dan nutrisi makanan maka akan berpengaruh pada berkurangnya jumlah produksi terlur yang dihasilkan oleh setiap ayam ras petelur," sebut Junaidi

Dengan adanya pakan tersebut, menurut Junaidi, klainnya telah menyelamatkan uang negara yang lebih besar akibat kematian 45 ribu ekor ayam.

"Pemberian pakan dan nutrisi dari 45 ribu ekor ayam menghasilkan produksi 11 juta lebih butir telur dan menghasilkan setoran PAD sebesar Rp10,6 miliar.

Selain itu, kata Junaidi, pihak penuntut umum tidak dapat membuktikan bahwa terdakwa Muhammad Nasir memperkaya diri sendiri dari hasil penjualan telur ayam.

"Dari keterangan auditor BPKP bahwa penggunaan uang hasil penjualan telur untuk membeli pakan telah diganti atau disetor kembali ke kas daerah setelah proses pengadaan selesai dilakukan oleh Dinas Peternakan Aceh," kata Junaidi

Atas fakta persidangan tersebut, pihaknya memohon agar terdakwa Muhammad Nasir dapat dibebaskan dari tuntutan dan merehabilitasi terhadap nama baik dan martabat terdakwa dalam keadaan semula.

Permohonan yang sama agar dibebaskan dari dakwaan dan tuntutan juga disampaikan terdakwa Ramli Hasan melakukan kuasa hukumnya.

"Uang hasil penjualan telur ayam digunakan untuk membeli pakan yang sifatnya mendadak untuk keberlangsungan hidup ayam petelur di UPTD BTNR Dinas Peternakan Aceh," ujarnya.

Sebelumnya terdakwa Ramli Hasan dan Muhammad Nasir dituntut delapan tahun penjara karena melakukan tindak pidana korupsi penjualan telur yang mencapai Rp2,6 miliar.

Selain itu jaksa penuntut umum juga menjatuhkan pidana denda masing-masing Rp300 juta subsidair tiga bulan. Sedangkan terdakwa Ramli Hasan ditambah uang pengganti sebesar Rp 2,6 miliar.

 

Komentar

Loading...