Unduh Aplikasi

Temui Peserta Demo, JPU Ancam Lapor Polisi

Temui Peserta Demo, JPU Ancam Lapor Polisi
JPU kasus Laka Lantas Erik Trinada Menemui Mahasiswa yang berunjukrasa ke Kantor Kejari Banda Aceh. Foto: Arman Konadi

BANDA ACEH - Syarifah jaksa dari Kejaksaan Kegeri Banda Aceh yang menjadi Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus laka lantas Erik Tiranda mengancam melapor ke polisi atas tudingan miring yang diarahkan kepadanya. Hal itu ia sampaikan saat menemui puluhan mahasiswa yang berunjukrasa menuntut keadilan atas kasus kecelaksaan lalu lintas yang menewaskan Erik Trinada.

"Saya tidak mau mengada ada-ada, selama ini Kejari dibilang makan uang, saya juga difitnah terima uang semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian. Saya bisa buat laporan ini ke polisi," kata Syarifah saat menemui mahasiswa yang berunjukrasa di pintu masuk Kejari Banda Aceh, Senin (14/11).

Baca: Tuntut Keadilan Kasus Laka Lantas Mahasiswa Demo Kejari Banda Aceh

Mendengar pernyataan Syarifah, puluhan peserta aksi gabungan Mahasiswa dari kampus Universitas Muhammadiyah dan Serambi Mekah, yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Untuk Keadilan tersebut, langsung mengamininya. Syarifah terpaksa keluar dari dalam kantor Kejari Banda Aceh karena peserta aksi tidak menerima penjelasan Kasipidum dan Intel Kejari Banda Aceh yang telah lebih dulu menemui massa mahasiswa.

"Syarifa keluar, Sayarifah keluar,"teriak mahasiswa.

Syarifah yang menemui massa mahasiswa akhirnya menjelaskan alasan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak menggunakan pasal 312 dalam menuntut NN (17), pelajar yang menjadi terdakwa dalam kasus kecelakaan tersebut.

"Kenapa pasal 312 itu tidak kami buktikan karena sudah terbukti didakwaan primernya, pasal ini sejenis maka nya kami buat dakwaan subsideritas, dan berdasarkan fakta persidangan dakwaan primernya terbukti sehingga pasal 312 tidak kami gunakan lagi," kata Syarifah.

Mahassiswa yang tidak puas, kembali mempertanyakan rendahnya tuntutan JPU yang dinilai tidak sesuai dengan ancaman yang dikenakan bagi terdakwa sesuai pasal tersebut yakni 6 tahun.

"Kak Syarifah mau nanya Pasal 310 itu tuntutan tertingginya berapa, 6 tahun kan itu untuk dewasa. Karena ini anak anak ancamannya berarti setengahnya tapi kenapa jaksa menuntut satu tahun saja," tanya salah seorang peserta aksi perwakilan Solidaritas Perempuan Anti Korupsi.

"Mengingat anak itu masih sekolah dan dia mau mengikuti ujian nasional," jelas Syarifah disambut sorakkan mahasiswa.

Usai memberi penjelasan Syarifah langsung menimpali sorakan dengan meminta mahasiswa dapat menerima proses hukum tersebut. "Saya tahu ini menyangkut nyawa tapi kalian harus percaya takdir Allah, kecelakaan ini hanya sebab dari kematian anak ibu Fatimah dan itu semua sudah diatur Allah. Kalau kalian Islam mestinya tidak boleh menyalahkan kenapa saya lewat itu sehingga saya mati, tidak boleh kita salahkan itu," kata Syarifah sembari meninggalkan mahasiswa.

Aksi Syarifah yang meninggalkan mahasiswa langsung menuai kemarahan mahasiswa. Meski demikian kemarahan dapat diredam Kasiintel Kejari Banda Aceh Himawan SH, yang berada di tengah kerumunan mahasiswa. Puluhan personil polresta Banda Aceh tampak bersiaga di depan pintu masuk kantor tersebut karena sebelumnya mahasiswa mengancam akan masuk jika Syarifah tidak menemui mereka.

Mahasiswa yang sempat dua jam berada di Kantor Kejari Banda Aceh akhirnya membubarkan diri dan melanjutkan aksi di Kantor Pengadilan Negeri Banda Aceh. Disana, mahasiswa menuntut Majelis Hakim yang menangani kasus tersebut dapat memberi vonis yang berkeadilan terhadap terdakwa. Mereka mengancam akan melakukan aksi serupa dengan jumlah massa yang lebih besar jika tuntutannya tidak dipenuhi.

Komentar

Loading...