Unduh Aplikasi

Tarmizi A Hamid: Seni Ukir dan Pahat Bagian Penting dari Masyarakat Aceh

Tarmizi A Hamid: Seni Ukir dan Pahat Bagian Penting dari Masyarakat Aceh
Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi Abdul Hamid. Foto: Akun Facebook Tarmizi A Hamid.

BANDA ACEH - Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi Abdul Hamid atau yang akrab disapa Chek Midi mengatakan, seni ukir dan pahat menjadi bagian penting bagi masyarakat Aceh sejak tempo dulu.

Pasalnya, seni ukir dan pahat berkembang pesat di Aceh pada abad 16-17 masehi. Ia menyebutkan bahwa pada masa itu, tempat ibadah, dan rumah bangsawan seperti Ulee balang dihiasi dengan ukiran khas ke-Acehan.

Hal tersebut disampaikan oleh Chek Midi di sela-sela pameran seni foto seni pahat, ukir pada kayu dan batu, dan lukisan pada kertas yang diselenggarakan oleh sejumlah budayawan di Taman Seni dan Budaya Aceh mulai 26-28 Maret 2021.

"Dalam ukiran itu motif Aceh yang sering ditonjolkan pada masa lalu itu lebih fokus pada tumbuhan. Dimana pun ada ukirannya kita belum pernah menemukan ukiran di Aceh dalam bentuk fauna jarang kita temukan," kata Tarmizi.

Artinya kata Cek Midi, temuan ukiran di Aceh baik di bangunan kayu maupun beton, batu nisan, tetap ditemukan manuskrip gaya khas Aceh dalam bentuk flora.

Cek Midi menjelaskan, leluhur orang Aceh memiliki keuletan yang tinggi dalam melahirkan seni ukir dan pahat pada batu, kayu serta manuskrip.

Menurutnya, ukiran pada manuskrip dan pahatan pada batu nisan kuno Aceh adalah bukti bahwa seniman Aceh terdahulu memiliki kreativitas yang tinggi.

"Kalau dulu tidak ada alat bantu untuk menunjang kreativitas tersebut mereka melakukan secara manual  dengan tangan sendiri, kalau sekarang sudah ada mesin pahat dan komputer kalau media kertas," ungkap Chek Midi.

Namun sangat disayangkan, kata Cek Midi, akibat adanya penjajahan, konflik dan bencana alam, nilai-nilai seni tersebut mulai tergerus dan generasi Aceh mulai meninggalkannya.

"Seni ditinggalkan karena konflik, bencana, ketika terjadi itu orang Aceh harus mempertahankankan kehidupan, jadi tidak sempat melakukan seni ukir ini karena membutuhkan masa tertentu. Seni ini tidak spontanitas, seni ukir itu dilahirkan tapi butuh proses karena ini karya yang sangat ulet, butuh masa," jelasnya.

Menurut Chek Midi, generasi Aceh saat ini harus mengkaji kembali nilai-nilai kreativitas leluhur yang dicurahkan dalam bentuk karya seni tersebut.

"Kalau sekarang untuk mengembangkan nilai seni itu sangat mudah. Dulu mereka hanya mengandalkan tangan sendiri. Ini harus ditonjolkan kepada generasi sekarang ini," pungkasnya.

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...