Unduh Aplikasi

Tanpa Kepastian, Trans Continent Tarik Alat Kerja dari KIA Ladong

Tanpa Kepastian, Trans Continent Tarik Alat Kerja dari KIA Ladong
Ismail Rasyid. Foto: Ist

BANDA ACEH - PT Trans Continent merupakan investor pertama yang melakukan Ground Breaking di Kawasan Industri Aceh (KIA) di Ladong Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar sekitar sembilan bulan lalu.

Namun, kini PT Trans Continent sudah menarik kembali alat kerja mereka dari kawasan industri di Ladong tersebut.

CEO Trans Continent, Ismail Rasyid mengatakan, keputusan menarik kembali alat-alat kerja dari KIA Ladong karena sejauh ini pihaknya belum menerima kepastian hukum tentang perjanjian dan tata kelola dengan PT Pembangunan Aceh (PEMA) selaku perwakilan Pemerintah Aceh.

"Untuk yang paling utama kepastian hukum, tentang agreement tata kelola lahan KIA saja hingga sekarang kami belum ada, bagaimana mau tindaklanjut membangun dan lain-lain," kata Ismail Rasyid saat dikonfirmasi AJNN, Sabtu (16/5).

Tak hanya itu, kata Ismail, sampai hari ini PT PEMA juga belum menindaklanjuti insfrastruktur dasar lainnya di lokasi kawasan industri tersebut.

"Basic infrastruktur lainnya juga tidak ditindaklanjuti oleh PEMA. Seperti belum ada air bersih, listrik belum memadai, jalan di dalam lokasi tidak beraspal," ujarnya.

Ismail menyampaikan, infrastruktur di KIA Ladong memang menjadi tanggung jawab PT PEMA. Sedangkan pihaknya selaku investor membangun atau mempersiapkan fasilitas pendukung untuk membuat Pusat Logistik Berikat (PLB).

Atas dasar kesepakatan itu kemudian PT Trans Continent sekitar enam bulan lalu memasukkan alat berat ke KIA Ladong seperti excavator, crane, forklift, genset, container dan personel operator dari Regional Hub Trans Continent di Tanjung Morawa Sumatera Utara, serta juga ada alat import langsung yakni Reach Stacker seharga Rp 6 miliar.

Kata Ismail, pihaknya juga telah menyurati Direktur PT PEMA dengan surat bernomor 022/TC-BNA/OPS/V/2020 perihal menyampaikan rencana penarikan alat kerja tersebut dari KIA Ladong. Juga ditembuskan kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Ismail menyebutkan, jumlah investasi PT Trans Continent di Aceh sejauh ini baik di KIA Ladong, Aceh Besar maupun dan KEK Arun Lhokseumawe sudah sebesar Rp 30 miliar lebih dalam bentuk alat kerja, infrastruktur, human investment serta berbagai kebutuhan lainnya.

Tetapi, khusus di KIA Ladong, alat yang diinvestasikan sejak enam bulan lalu itu sampai hari ini belum bisa bekerja. Namun, mereka tetap harus membayar cicilan plus overhead untuk operasional, khususnya cabang di Aceh  per bulannya sekitar Rp 600 juta.

Belum lagi ditambah dengan depresiasi hingga kerusakan secara alamiah karena lokasi yang sangat tidak begitu kondusif. Kondisi ini membuat pihaknya sangat dirugikan.

"Kerugian kami adalah karena belum ada kepastian tentang perjanjian tata kelola lahan tersebut maka akan menganggur alat alat kerja yg sudah kami invest, cicilan bulanan harus tetap bayar, maintenance, depresiasi, begitu juga karyawan ikut nganggur tidak kerja tapi gaji tetap di bayar - average Rp 600 juta perbulan," sebut Ismail.

Kondisi ini, lanjut Ismail, tidak hanya persoalan kerugian dari sisi financial maupun waktu. Tetapi, juga membuat reputasi mereka dalam dunia investasi  menjadi tidak baik.

"Belum terhitung loss time yang sekian lama, reputasi kami dalam investasi menjadi preseden yang tidak baik," tutur pengusaha asli dari Aceh itu.

Komentar

Loading...