Unduh Aplikasi

Tak Pernah Tuntas

Tak Pernah Tuntas
Rustam Effendi. Foto: Ist

Oleh: Rustam Effendi

Sudah dua belas bulan waktu terlewati. Tahun dua ribu tujuh belas itu pun pergi meninggalkan kita. Tak terasa memang karena semuanya seakan berlalu tanpa menyapa. Waktu yang telah berganti tak pernah akan kembali. Waktu yang akan datang pasti terus menghampiri, meski suatu waktu dia pun juga akan pergi.

Apa yang bisa dikenang dari waktu yang telah pergi itu? Banyak dan tak terkira, tentunya. Masing-masing pribadi kita pasti punya cerita. Ada cerita yang menyenangkan dan membahagiakan, sehingga terasa indah tatkala ia dikenang. Ada pula cerita yang menyedihkan dan penuh keharuan, begitu menyiksa dada ketika ia datang membayang. Yang indah-indah selalu didamba kehadirannya. Yang sedih-sedih dan tak mengenakkan selalu ditepikan, enggan dikenang.

Ada satu cerita yang mungkin menjadi milik kita semua yang hidup di nanggroe ini. Cerita tentang perjalanan panjang nanggroe dalam membangun dirinya agar menjadi daerah yang sejahtera dan bermartabat.

Nangroe ini belumlah seideal dalam pikiran banyak orang. Impian terhadap kesejahteraan masih dalam bentuk impian, belum sepenuhnya jadi kenyataan. Kendati anggaran pembangunan nanggroe melimpah sebagai berkah akibat derita pilu masa konflik dan buah dari ujian Tuhan lewat bencana dahsyat gempa dan Tsunami, namun masih saja Nanggroe ini menyimpan banyak cerita yang tidak membahagiakan kita. Dan, sepertinya cerita ini harus diceritakan berulang-ulang agar selalu terngiang di telinga para elit kita, meskipun sebenarnya sangat tidak menyenangkan.

Potret nanggroe ini masih saja buram. Dibayang-bayangi oleh wajah kaum miskin yang tetap muram dengan sesunggukannya yang tak pernah henti, memilukan hati kita. Pembangunan di nanggroe terkesan tak menawari masa depan. Lapangan kerja tak tersedia sesuai harapan. Anak-anak muda lepasan perguruan tinggi mondar-mandir mengitari kota sambil mengepit ijazah, mereka tak tahu mau ke mana. Petani pun kurang lebih bernasib sama. Nilai tukar hasil produksinya tak seperti dibayangkan. Hasil panen tak mampu memenuhi keperluan hidup mereka. Saban tahun petani harus mengeruk tabungan atau simpanan, agar bisa bertahan.

Kita seolah sedang berhadapan dengan masalah yang kian menumpuk. Satu belum tuntas, yang lain sudah menghadang. Kita sepertinya tidak berupaya untuk menuntaskan masalah. Yang ada hanya menunda, dan menunda. Kita seakan tak sadar, jika menunda itu berarti akan melipatkan beban, bukan mengurangi. Bukan memudahkan kita menuju kesejahteraan, malah justru kian merepotkan.

Keranjang berisi belanja yang diamanahkan rakyat untuk kita belanjakan, misalnya, adalah bagian yang tiap tahun tak pernah tuntas dibahas dan disahkan tepat waktu. Tiap tahun pekerjaan itu tak terselesaikan sesuai harapan dan aturan. Semua tahu, jalan menuju kesejahteraan itu adalah melalui pembelanjaan anggaran dalam bentuk proyek/kegiatan. Disitulah segala sumber daya akan dihabiskan untuk menuntaskan pelbagai persoalan yang ada. Pembelanjaan itu juga yang akan mendistribusikan keadilan ke seluruh pelosok negeri, memperbaiki nasib orang-orang miskin, para penganggur, petani, buruh tani, nelayan, kuli bangunan, tukang sayur, pelaku usaha mikro, dan lainnya, termasuk hidup para guru honorer dan tenaga kontrak. Kenyataannya, tak begitu.

Bagaimana mungkin nasib mereka semua itu bisa kita perbaiki, jika alat untuk mendistribusikan itu masih tak jelas, tak tuntas dibahas. Bagi para elit mungkin tidak jadi soal karena mereka punya tabungan, atau simpanan yang siap dicairkan tiap waktu, kapan yang mereka mau. Mereka masih bisa berjalan-jalan ke seantero negeri bersama keluarga. Mereka bisa melancong dengan isteri dan anak-anaknya sesuka hati kemana kata hati. Yang pegawai negeri pun tidak pusing kepala sebab tiap bulan terima gaji. Namun, sekali lagi, bagaimana dengan nasib rakyat kita? Bagaimana mereka bisa menuju arah kesejahteraan yang dijanjikan.

Kita terkesan tak serius mengurus rakyat kita. Kita hanya serius mengurus diri kita sendiri. Kita tak pernah memahami perasaan rakyat, termasuk deritanya. Kita menutup telinga agar tak mendengar jeritan pilu rakyat. Soal yang menyangkut rakyat acapkali kita abaikan. Kita anggap itu tak terlalu penting. Kepentingan rakyat tak pernah kita bahas secara sungguh-sungguh. Kita sibuk dengan pikiran sendiri. Kita masuki tahun 2018 dengan membawa beban kerja tahun 2017. Inilah model kinerja para elit kita.

Ibaratnya, perilaku yang ditunjukkan, maaf, persis seperti orang buang air besar tanpa pelancar. Tak pernah tuntas. Sekali lagi maaf, jika saya keliru atau salah. Jangan marah.

*) Penulis adalah Pengamat Ekonomi Aceh dari Universitas Syiah Kuala

Komentar

Loading...