Unduh Aplikasi

Tak Pernah Dicairkan, Dana Abadi Pendidikan Aceh Rp 1,1 Triliun

Tak Pernah Dicairkan, Dana Abadi Pendidikan Aceh Rp 1,1 Triliun
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani. Foto: Ist

BANDA ACEH - Dana abadi pendidikan Aceh belum pernah dicairkan sejak 2003 hingga hari ini. Totalnya sudah mencapai Rp Rp 1,168 triliun.

Dana abadi pengembangan SDM Aceh yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus), tambahan dana bagi hasil migas, dan pendapatan lain yang sah itu masih tersimpan di Bank Aceh Syariah. Disetorkan secara bertahap.

"Sesuai catatan Badan Pengelolaan Keuangan Aceh, dana abadi pendidikan tak pernah dicairkan sejak disetor perdana tahun 2003," kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani kepada AJNN, Rabu (15/7).

Baca: Perjalanan Dana Abadi Pemerintah Aceh

Saifullah mengatakan, dana cadangan pendidikan itu belum pernah dicairkan karena masih terkendala regulasi, atau harus diatur berdasarkan qanun tersendiri.

Mengenai qanun dana abadi pendidikan, kata Saifullah, Pemerintah Aceh pernah mengusulkan rancangannya dalam program Legislasi Aceh (Prolega) prioritas 2018, namun belum tersahuti hingga jabatan DPRA 2014-2019 berakhir.

“Qanun Aceh tentang penggunaan dana abadi pendidikan belum masuk Prolega DPRA, maka tidak mungkin dana itu dicairkan,” ujarnya.

Saifullah menyampaikan, dana cadangan pendidikan dibentuk berdasarkan qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

Pada pasal 45 dinyatakan bahwa Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dapat membentuk dana abadi pendidikan untuk menjamin keberlangsungan pembiayaan pendidikan Aceh dan kabupaten/kota, yang diatur dengan qanun tersendiri.

Kemudian, lanjut pria yang akrab disapa SAG itu, Pemerintah Aceh bersama-sama DPRA melahirkann qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2012 tentang Dana Abadi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Aceh.

"Qanun ini menegaskan, dana abadi pengembangan SDM Aceh untuk membiayai pengambangan SDM Aceh, meliputi beasiswa, penghargaan, riset, dana pendamping, dan bantuan pendidikan," ucap SAG.

Selain itu, SAG menegaskan bahwa Pemerintah Aceh juga memiliki dana sebesar Rp 1,8 triliun di Bank Aceh Syariah. Anggaran yang disangka sejumlah pihak sebagai dana abadi pendidikan itu sebenarnya adalah idle cash (kas menganggur), yang dijadikan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh.

SAG menjelaskan, idle cash Pemerintah Aceh di Bank Aceh Syariah yang merupakan manajemen Kas Daerah (Kasda) itu bukan dana abadi pendidikan, melainkan dana untuk membiayai program kegiatan pembangunan yang telah dianggarkan dalam APBA.

Dana daerah yang belum dipergunakan dapat disimpan sementara (idle cash) dalam bentuk deposito berjangka satu hingga tiga bulan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh.

"Nominal nilai deposito tidak tetap karena dicairkan setiap saat, sesuai kebutuhan pembiayaan kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Aceh," terangnya.

SAG menuturkan, dana Rp 1,8 triliun itu bukan dana abadi pendidikan, tetapi idle cash, atau bagian dari Silpa pada saat itu. Artinya, anggaran tersebut bukan dana cadangan maupun dana abadi pendidikan.

“Data laporan neraca audit 2005-2006, idle cash Rp 1,8 triliun tidak pernah tercatat sebagai dana cadangan, atau dana cadangan pendidikan,” tutur SAG.

Banner Kerja Sama Aceh Hebat

Komentar

Loading...