Unduh Aplikasi

Tak Biasa bagi Rakyat, Biasa bagi Elit

Tak Biasa bagi Rakyat, Biasa bagi Elit
Ilustrasi. Foto: Net

Oleh: Rustam Effendi

Jujur saya sampaikan dari hati yang paling dalam. Aceh kita sedang berada dalam kondisi yang tak biasa alias tak normal. Saya tidak mengada-ada. Tidak juga untuk menakut-nakuti. Beberapa indikator pembangunan mencerminkan kondisi yang tak biasa itu. Dan, sepertinya kondisi yang tak biasa itu tidak kita sikapi dengan serius.
Malah terkesan, biasa-biasa saja.

Mengapa begitu? Ada banyak faktor. Bisa jadi dikarenakan kita tak pernah menoleh pada statistik sebagai acuan kita melangkah. Atau, mungkin kita tahu tapi tak pernah mau tahu. Kedua hal ini bisa juga bersamaan hadir dan makin kentara disebabkan, para elit kita, tak pernah bersatu, baik dalam kata maupun dalam tindakan.
Ibaratnya, satu ke barat, satu ke timur. Satu ingin coklat, satu lagi maunya semur. Tak pernah sepakat dan tidak akur.

Sulit dibantah, para anak usia produktif yang berpendidikan kini sedang kesulitan lapangan kerja. Bukan hanya di wilayah kota, juga di desa (gampong). Mereka, sebagian besar, tak tahu ke mana membawa ijazah yang ada. Mau jadi karyawan, tak ada perusahaan baru yang hadir di daerah ini. Ada yang lama, tapi tak buka lowongan. Mau buka usaha mandiri, tak ada dukungan modal usaha. Ingin jadi pegawai, pun tak mungkin. Yang sedang berposisi honorer juga belum jelas nasibnya.

Kemiskinan juga terus mengancam. Yang berada di bawah garis kemiskinan sulit beranjak untuk sejahtera. Yang berada di batas kritis, juga siap-siap jatuh di bawah garis kritis. Posisi mereka belum berada dalam kategori aman. Bulan ini belum miskin, bisa jadi bulan-bulan depan akan jatuh miskin.

Sejauh ini belum ada intervensi pemerintah daerah yang benar-benar konkrit. Tak ada kebijakan yang menjamin dan mampu mengamankan mereka yang miskin terangkat harkatnya, termasuk mereka yang berada dititik kritis agar tidak terjerembab dalam kemiskinan yang permanen.

Di saat-saat situasi sulit yang begini rupa, seharusnya semua elit di Aceh merasa senasib dan sepenanggungan. Mereka harus turut prihatin dan membatin atas kondisi ini. Setidaknya, mereka, para Elit, serius bekerja dalam mencari solusi atas masalah krusial ini. Menganggap masalah ini sebagai hal yang biasa, justru akan mempersulit keadaan pada tahun-tahun mendatang.

Ketidak-kompakan para elit, eksekutif dan legislatif, tercermin dari pembahasan dan pengesahan RAPBA 2018, yang juga mengindikasikan pengabaian mereka terhadap situasi kritis tadi. Ketika sebagian rakyat Aceh sedang terjepit secara ekonomi, lapangan kerja sulit, daya beli kian terbatas, pemenuhan kebutuhan pokok tidak mudah, ancaman kenaikan harga yang terus mengintai, dan lainnya, justru para elit terkesan menyikapinya biasa-biasa saja. Padahal, kondisi terkini jelas ini bukan hal yang biasa.

Entahlah. Mungkin kita selaku rakyat ini yang terlalu perasa. Sementara, menurut para elit, ini adalah hal yang biasa. Ya, sudahlah.

*) Penulis adalah Pengamat Ekonomi Aceh dari Universitas Syiah Kuala

Komentar

Loading...