Unduh Aplikasi

Tak Ada Kongkow Seharga Nyawa

Tak Ada Kongkow Seharga Nyawa
Ilustrasi: youtube.

KEPUTUSAN Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Aceh menunda pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) IV di Banda Aceh adalah sebuah keputusan yang bijaksana. Meski hal itu adalah agenda penting, namun menahan diri untuk tidak berkumpul dan berkerumun di tengah pandemi Covid-19 lebih penting lagi. 

Pembatalan ini terkait erat dengan label Banda Aceh sebagai daerah merah penyebaran Covid-19. Bagi mereka yang memahami seriusnya kondisi, mengurungkan rencana untuk berkumpul, atau sekadar kongkow-kongkow bersama teman dan sanak keluarga, tentu bukan masalah besar. 

Hal sama juga harusnya jadi perhatian manajemen Bank Syariah Indonesia yang saat ini berupaya untuk menuntaskan proses migrasi nasabah dari Bank Negara Indonesia Syariah dan Bank Rakyat Indonesia Syariah. Karena proses ini menyebabkan antrean nasabah di satu titik dalam jumlah tergolong besar.

Setiap hari, terdapat 1.000 nomor antrean yang disediakan untuk proses migrasi. Mereka harus berkumpul dalam satu ruangan tertutup dalam waktu yang lama. 

Apalagi, tidak ada kepastian bahwa setiap nasabah yang datang benar-benar sehat dan tidak tertular Covid-19, karena syarat untuk masuk ke areal migrasi itu hanya pengecekan suhu tubuh. Padahal dalam banyak kasus, sering kali dijumpai penderita tanpa gejala, seperti batuk, flu, atau demam tinggi. 

Hal yang harus diperhatikan juga adalah lemahnya disiplin masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan. Mengenakan masker, mencuci tangan, atau menjaga jarak masih menjadi hal yang asing meski corona mewabah lebih dari setahun. 

BSI perlu memikirkan alternatif lain sehingga proses migrasi ini tidak sampai memunculkan risiko bagi nasabah dan para pegawai di bank itu. Apalagi hanya demi sebuah buku tabungan baru di BSI.

Komentar

Loading...