Unduh Aplikasi

Tak Ada Bendera Seharga Nyawa

Tak Ada Bendera Seharga Nyawa
ilustrasi

MEMASUKI masa kampanye Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017, suhu politik di Aceh memanas. Simpatisan dari dua partai lokal di Aceh: Partai Aceh dan Partai Nasional Aceh nyaris terlibat bentrok.

Untung saja, hasrat untuk berkompetisi secara sehat lebih besar ketimbang keinginan untuk saling menyakiti dan menghancurkan. Dua pihak yang bertikai segera menyadari bahwa sebenarnya yang mereka perjuangkan adalah demokrasi di Aceh, bukan simbol-simbol. Hal penting ini hanya bisa dicapai dengan jalan perdamaian, bukan kekerasan.

Juru bicara Partai Aceh Suadi Yahya dan koleganya di PNA, Thamren Ananda, mengungkapkan keinginan dua pihak ini untuk berdamai. Ajakan kepolisian dan penyelenggara pemilu untuk mencegah salah komunikasi ini menjadi prahara politik, dapat diterima oleh kedua belah pihak.

Keinginan dua pihak ini untuk mengusung pilkada damai di Aceh tentu harus diapresiasi. Bisa saja keduanya memilih jalan kekerasan. Masing-masing partai memiliki simpatisan yang militan dan siap melakukan apa saja.

Namun ini bukan jalan pilihan. Apalagi dua partai ini dipimpin dan diurus oleh politikus yang berasal dari satu rahim: Gerakan Aceh Merdeka. Meski saat ini berbeda warna, PA dan PNA memiliki DNA yang sama. Sama-sama hadir mewujudkan cita-cita pejuang Aceh dan perjuangan untuk menyejahterakan rakyat Aceh.

Dari insiden ini, hendaknya kepolisian, penyelenggara dan pengawas pemilihan benar-benar mampu mendeteksi bara api konflik dan menyiramnya segera dengan air agar tak merembet ke mana-mana.

Setiap pelanggaran, harus ditindaklanjuti, diusut tuntas dan diberikan sanksi. Dengan demikian, para peserta di Pilkada 2017 benar-benar mempercayai panitia pengawas sebagai "wasit" yang netral. Kepercayaan ini akan mendorong masyarakat untuk tidak main hakim sendiri.

Politik hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Siapapun yang menang, layak dan berhak ditagih atas janji-janji mereka menyejahterakan seluruh rakyat Aceh. Jangan terprovokasi dan terjebak dalam permainan politik kotor yang sengaja digerakkan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab untuk merusak persaudaraan masyarakat Aceh. Ingat, kita semua bersaudara.

Para simpatisan juga harus berpikir kritis dan meletakkan perdamaian dan kedamaian Aceh sebagai sebuah landasan dalam bertindak. Jangan mau diprovokasi apalagi sampai terpancing untuk membuat rusuh. Bendera dan simbol dalam pilkada bukan harga mati. Dan tak ada selembar pun bendera seharga nyawa manusia.

Komentar

Loading...