Unduh Aplikasi

Tahun 2015, Premium tak lagi disubsidi

Pemerintah secara resmi menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium mulai 1 Januari 2015. Nantinya, harga Premium akan bergejolak mengikuti harga pasar atau keekonomian seperti harga Pertamax.

Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman mengatakan kemungkinan besar harga Premium akan kembali naik lantaran mengikuti tren harga minyak dunia yang juga diperkirakan mengalami peningkatan di pertengahan 2015 mendatang. "Dengan begitu harga Premium bisa naik jadi sekitar Rp 9.000 per liter, Solar juga begitu meski ada subsidi solar Rp 1.000 per liter," ujarnya di Kantor Kemenko, Jakarta, Rabu (31/12).

Kendati demikian, dirinya mengaku setuju dengan langkah pemerintah yang mencabut subsidi untuk Premium. Kebijakan ini mampu mengurangi anggaran subsidi BBM yang signifikan. "Saya perkirakan tahun depan subsidi BBM hanya Rp 25 triliun. Turun drastis dari anggaran di APBN 2015 yang Rp 276 triliun," jelas dia.

Menyambut awal tahun 2015, untuk pertama kalinya Premium tidak lagi disubsidi pemerintah. Harga jual saat ini dipatok Rp 7.600 per liter. Kebijakan penghapusan subsidi yang mengakibatkan penurunan harga ini merespon anjloknya harga minyak mentah Indonesia ke level mendekati USD 60 per barel.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil mengatakan kebijakan pencabutan subsidi Premium diambil untuk merespon merosotnya harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), dan berdampak pada harga yang ikut mengalami penurunan.

"Pemerintah masih merasa memberi subsidi tetap pada Solar Rp 1.000 per liter," ujarnya di Kantor Kemenko, Jakarta, Rabu (31/12).

Menurut dia, patokan harga Premium saat ini sudah mengikuti penurunan ICP mendekati USD 60 per barel dengan kurs Rp 12.380 per dolar Amerika Serikat (AS). "Kami tetap memberikan subsidi untuk BBM jenis Solar demi kepentingan banyak orang. Subsidi cuma diberikan untuk Solar karena secara teori masih digunakan untuk kepentingan ekonomi," katanya.

MERDEKA

Komentar

Loading...