Unduh Aplikasi

T Fahmi, Remaja Miskin Penderita Luka Usus Butuh Uluran Tangan

T Fahmi, Remaja Miskin Penderita Luka Usus Butuh Uluran Tangan
T Fahmi terbaring di tempat tidur. Foto: Sarina

LHOKSEUMAWE – Terbaring lemah di atas kasur busa, sembari menatap langit-langit rumah beratapkan seng. Remaja berusia 17 tahun asal Gampong Kuta Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe menahan rasa sakit yang dideritanya.

T Zulfahmi, putra ke tiga dari pasangan Intan Zulaikha dan T Burhanuddin, awalnya menderita penyakit usus buntu. Namun, karena tak kunjung berobat, kondisinya itu semakin parah, hingga mengalami luka di silang pencernaannya.

Di rumah berukuran 3x4, berdinding papan dan lantai tanah dengan semen kasar Fahmi terbaring dalam kondisi tubuh yang sangat kurus. Kantong pembuangan juga terlihat di atas perut remaja yang harusnya masih duduk di bangku Kelas III SMK Negeri 4 Lhokseumawe itu.

Sambil duduk di samping adiknya, T Budi Suhaimi (19) menceritakan awal mula Fahmi sakit hingga terbaring di tempat tidur. Selama ini, Dia yang membiayai dan merawat adiknya baik di rumah maupun ke rumah sakit.

“Adik saya sakit parah sejak awal Agustus 2019 lalu. Fahmi mengeluh kesakitan di bagian perutnya, kemudian saya bawa dia ke Rumah Sakit Kasih Ibu. Awalnya dokter menyangka kalau hanya menderita penyakit lambung saja,” kata Budi, yang juga merupakan tulang punggung kelugarnya kepada AJNN, Minggu (3/11).

Selama ini, Budi berkerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pasalnya, sudah belasan tahun ibu dan ayahnya bercerai. Sementara kondisi ayah saat ini mengalami stroke dan ibunya juga sakit-sakitan.

Ibunya hanya berkerja sebagai penjual bunga di pemakaman, pada peringatan hari-hari tertentu saja.

“Selama ini saya kerja mocok-mocok, dan mendapatkan uang Rp50 ribu per hari. Uang itu saya pakai untuk biaya pengobatan adik saya (Fahmi) dan memenuhi kebutuhan keluarga, seperti beli beras dan lainnya,” ujar remaja yang baru lulus sekolah SMA itu.

Setelah adiknya diperiksa di Rumah Sakit Kasih Ibu. Lanjut Budi, kemudian kembali di bawa pulang ke rumah. Selang beberapa hari di rumah, adiknya kambuh dan sakitnya semakin parah.

“Karena adik saya sudah tidak sanggup menahan sakit, lalu saya periksa ke Rumah Sakit Bunga Melati. Dan di sana dokter menyebutkan kalau Fahmi menderita usus buntu, dan penyakitnya sudah parah,” tuturnya.

Budi menambahkan, kata dokter seharusnya adiknya itu dioperasi tiga bulan sebelumnya. Namun apa hendak di kata, ususnya sekarang malah luka-luka hingga harus dipotong sepanjang satu meter setengah.

“Adik saya sudah dua kali operasi. Pertama hanya di potong sedikit. Karena ususnya membusuk, maka harus dioperasi lagi lalu dan ususnya dipotong sekitar satu setengah meter,” katanya sembari menatap adiknya yang terbaring lemas di kasur.

Budi mengaku, kalau adiknya itu saat ini hanya menjalani rawat jalan ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia. Selain terkendala biaya, Fahmi juga tidak sanggup bangun untuk di hantarkan ke rumah sakit.

“Sekarang adik saya hanya rawat jalan saja. Dan yang menjadi kendala sekarang, biaya untuk membeli kantong pembuangan air besar. Soalnya ususnya sudah di potong, dan hingga kini belum ada laporan bagaimana hasil dari pihak Rumah Sakit Cut Meutia,” tutur pria berkulit sawo matang tersebut.

Dalam seminggu sekali, Budi harus membeli dan menggantikan kantong BAB adiknya itu. Satu kantong biayanya sebesar Rp52 ribu per kantong.

“Saya sudah berusaha selama ini, dan tidak akan menyerah untuk mengobatinya hingga sembuh. Dan saya berharap, semoga ada keajaiban dan dermawan yang bisa membantu kami,” tuturnya dengan rawut wajah sedih.

Komentar

Loading...