Unduh Aplikasi

Suriah Tegaskan Tidak Akan Tunduk pada Sanksi AS

Suriah Tegaskan Tidak Akan Tunduk pada Sanksi AS
Ilustrasi perang Suriah. (LOUAI BESHARA / AFP)

Suriah menegaskan menolak tunduk pada sanksi terbaru yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem menuduh bahwa sanksi tersebut hanya untuk mengikis dukungan untuk Presiden Bashar al-Assad.

"Jika mereka (Washington) berharap Suriah dan rakyatnya akan tunduk, maka saya bisa mengatakan mereka akan terus bermimpi karena ini tidak akan pernah terjadi," kata Muallem dalam konferensi pers di Damaskus Selasa (23/6) seperti dikutip dari AFP.

Hal itu diungkapkan Muallem hampir sepekan setelah Undang-Undang Caesar diberlakukan.

AS pada Rabu pekan lalu memperkuat kampanye penolakan terhadap rezim pemerintahan Suriah dengan menjatuhkan sanksi ke sejumlah tokoh penting di negara tersebut, termasuk istri Presiden Bashar al-Assad.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengumumkan bahwa rangkaian sanksi ini termaktub dalam Undang-Undang Caesar.

Dengan undang-undang baru ini, Assad dan 38 orang lainnya akan menjadi target sanksi dan semua asetnya di AS akan dibekukan.

Namun, Muallem menyebut tujuan sanksi sebenarnya adalah untuk mempengaruhi pemilihan presiden Suriah yang dijadwalkan digelar tahun depan. Kata dia, sanksi tersebut melemahkan dukungan untuk Assad menjelang pemungutan suara.

"Presiden Assad akan tetap memimpin selama rakyat Suriah menginginkannya," ujar dia.

Lewat Undang-Undang Caesar yang mulai berlaku Rabu lalu, AS akan menjatuhkan sanksi bagi setiap perusahaan yang bekerja sama dengan Assad.

Di gelombang pertama, AS menetapkan 39 orang dan entitas sebagai target sanksi, termasuk istri Assad, Asma.

Pompeo mengatakan bahwa UU ini merupakan "awal dari kampanye berkelanjutan untuk menghadirkan tekanan ekonomi dan politik demi mencegah pendapatan rezim Assad yang digunakan untuk memicu perang dan kekacauan bagi rakyat Suriah."

Akan tetapi Muallem lagi-lagi menyangkal dan menyebut pernyataan itu hanyalah kebohongan.

Assad yang didukung oleh Rusia dan Iran, telah merebut kembali kendali atas sebagian besar wilayah Suriah dalam perang yang telah berlangsung selama sembilan tahun.

Perang saudara tersebut telah menewaskan lebih dari 380.000 orang dan menelantarkan lebih dari setengah populasi negara itu.

Suriah saat ini berada dalam cengkeraman krisis ekonomi parah ditambah dengan dijatuhkannya sanksi.

Komentar

Loading...