Unduh Aplikasi

Surat Terbuka Untuk Generasi Muda Aceh, Perihal: Covid-19 (II)

Surat Terbuka Untuk Generasi Muda Aceh, Perihal: Covid-19 (II)
Ahmad Humam Hamid

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Super spreader tidak hanya berurusan dengan individu, tetapi juga berurusan dengan kejadian-kejadian yang membuat manusia berkumpul, berdekatan, dan berinteraksi dalam jumlah yang banyak. Pesta, kedai kopi dan kedai makanan yang sesak berjam-jam, apalagi di ruangan yang tertutup adalah kejadian super spreader yang dahsyat yang akan melipatgandakan penyebaran Covid-19. Ingat 2 T yang dapat menjadikan kasus super spreader di luar individu, ruang tertutup dan padat orangnya, dan tempat terbuka yang terdapat orangnya.

Ketiga, pengalaman dari kejadian yang telah lalu, terutama di negara-negara yang mempunyai pola residen-tempat tinggal keluarga di dominasi oleh berkumpulnya multi-generasi dalam sebuah rumah, atau komplek perumahan yang berdekatan. Hal ini seringkali menyebabkan kematian orang tua yang tinggi, terutama dalam kasus Italia dan Spanyol, dimana kakek dan nenek, ayah dan ibu, anak-menantu dan cucu, kadang-kadang cicit, tinggal serumah, atau komplek perumahan yang berdekatan.

Seringkali Covid-19 itu sampai ke rumah via “titipan kilat” anak muda yang aktif berseliweran di luar sebagai “carrier” untuk keluarga. Ini artinya, maaf, adalah sang anak atau sang cucu yang muda, yang menjadi “pembunuh” ayah atau kakek neneknya.

Untuk pembuktian yang lebih meyakinkan, pola residen di Perancis dan Jerman dimana umumnya sang anak tinggal tidak bersama orang tua mereka, jumlah kematian orang tua di kedua negara itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah kematian orang tua di Italia dan Spanyol.

Para kaum muda di kota dan desa yang tercinta dan terkasih.

Itulah beberapa fakta yang saya ingin berbagi dengan kalian dengan harapan kita akan sama dapat melihat kenyataan yang telah terjadi, dan juga mungkin sedikit mampu melihat apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang.

Yang pasti kita, secara individu, keluarga, komunitas, dan kolektif daerah akan menghadapi hari-hari yang akan datang dengan suasana yang sangat menantang, kadang mencekam, takut, kadang kecewa, frustrasi, sedih, dan bahkan bukan tidak mungkin putas asa.

Kalian orang muda, kalaulah perasaan itu datang, biarkan ia masuk sebentar ke sanubari, biarkan ia sejenak mengendap, tetapi jangan lama-lama. Ambil emosi dan perasaan itu, robahlah untuk menjadi semangat, menjadi motivasi, untuk berjuang, melawan musuh kita bersama, Covid-19. Ini adalah perang, perang besar melawan musuh yang tak tampak, dan kita harus menjadi pemenang dari perang besar ini.

Ketika kalian sudah berhasil merubah berbagai emosi negatif menjadi motivasi yang menjadi pertanyaannya adalah apa yang mesti kalian perbuat. Karena keadaan sudah sangat darurat, dan bahkan “super darurat” mustahil mengharap pemerintah mengerjakan semuanya. Betapapun hebat dan kuatnya pemerintah, bahkan AS pun yang punya semua, keok ketika dihajar ollen mahluk kecil Covid-19 ini. Mari kita berbagi peran sekarang, tanpa diminta, tanpa dipaksa. Ikhlaskan waktu dan tenaga kalian.

Selama vaksin belum ada, maka pola permainan yang harus kita anut adalah bertahan, dan bertahan, karena kita tidak mungkin menyerang. Bertahan itu ada dua tingkatan.

Pertama adalah tingkatan pencegahan Covid-19 untuk menulari individu atau komunitas. Kedua adalah upaya “membendung” penyebaran Covid-19 dalam skala yang lebih luas yang memerlukan keahlian dan sumber daya yang banyak.

Kita bagi saja pekerjaan itu. Dengan anjuran dan nasehat para ulama, dan pemimpin rakyat terendah kalian bekerja di lapangan untuk pekerjaan upaya pertama, sementara pemerintah kita minta untuk fokus pada tantangan kedua, membendung penyebaran Covid-19 secara terstruktur dan sistematis. Hanya dengan pembagian pekerjaan seperti inilah yang dilakukan secara besar-besaran, sungguh-sungguh, dan dengan menyingkirkan segala perbedaan kita akan dapat mengalahkan Covid-19.

Mulailah dengan menjadi pahlawan “kecil” untuk tidak menjadi korban sekaligus tidak menjadi penyebar virus kepada keluarga, kerabat, dan komunitas terdekat. Masker, jarak fisik, sering cuci tangan, dan keluar kalau hanya perlu saja, dan menghindari keramaian adalah pekerjaan-pekerjaan kecil yang kalau kalian, semua kaum muda mengerjakan akan memberikan perbedaan nyata dibandingkan dengan sebaliknya. Ini menurut saya adalah pekerjaan selemah-lemah iman pemuda Aceh untuk kemaslahatan bersama.

Kalau mau naik sedikit lagi belajarlah tentang protokol Covid-19 di internet yang dikeluarkan pemerintah dan jadilah relawan gampong yang akan memastikan semua anggota masyarakat gampong terhindar dari Covid-19. Jikapun terlanjur ada yang terkena, bahkan bila saja ada musibah korban, maka yakinkanlah masyarakat untuk mematuhi anjuran dan protokol Covid-19 yang telah ada.

Bantulah dan ajaklah perangkat desa dalam kampanye pengetahuan dan pencegahan Covid-19, walau hanya sebatas gampong saja. Bayangkan saja, hanya beberapa orang dari kalian, para anak muda, di tingkat gampong menjadi relawan dengan penyebaran merata seluruh Aceh, apa dampak yang akan kita peroleh?

Kalau mau naik sedikit lagi dengan jaringan yang lebih luas, jadilah relawan yang berkumpul pada tingkatan kemukiman, kecamatan, bahkan kabupaten untuk saling bertukar informasi.

Bukankah kalian sekarang paling “jago” menggunakan berbagai media sosial. Jadilah masyarakat “virtual” yang berguna kepada masyarakat banyak. Saya minta tolong, paling kurang sekali ini saja, tolonglah jadi “komunitas virtual” yang menjadi obat, menjadi kekuatan penyembuh dan pembawa keselamatan kepada masyarakat umum, terutama mereka rakyat kecil yang tidak tahu apa apa.

Bagi yang bercita-cita ingin jadi pemimpin ini adalah ajang, ini adalah arena untuk berlatih untuk mejadi pekerja dan penggerak komunitas. Berkawanlah dengan senior para aktivis, tanya tak pernah henti kepada mereka tentang bagaimana bekerja dari, kepada, dan untuk masyarakat.

Krisis selalu menghasilkan pemimimpin dan pahlawan. Jadikanlah krisis ini sebagai ajang berbuat baik kepada orang banyak, dan Insyaallah akan sangat besar gunanya untuk perjalanan kehidupan kalian di hari depan.

Baca: Surat Terbuka untuk Generasi Muda Aceh, Perihal: Covid-19 (I)

Terakhir saya ingin memberikan sesuatu yang sangat penting bagi generasi muda perkotaan, yang kadang sering, bahkan banyak diantaranya yang berinteraksi dengan sumbu kekuasaan di ibu kota propinsi dan kabupaten.

Pertama, ingatlah keadaan saat ini statusnya bukan biasa, tetapi luar biasa. Bagi sebagian, kedekatan dengan kekuasaan, bukanlah berarti mengorbankan pikiran kritis dalam melihat masalah.

Bagi sebagian yang tidak dekat, bahkan mungkin berseberangan dengan otoritas, yang diperlukan sekarang bukanlah tindakan anarkis dan radikal, tetapi seruan yang tak pernah henti, tak pernah henti untuk mengerjakan tugas menyelamatkan rakyat dari korban pandemi ini.

Pertama, pastikan otoritas pada level provinsi dan kabupaten/kota mengerjakan empat hal yang paling mendasar, masker, test, tracking, dan persiapan pelayanan untuk keadaan outbreak-ledakan penyakit. Tetapi jangan lupa juga memberitahu otoritas untuk tidak berpikiran dapat mengerjakan sendiri, tanpa mengikutkan banyak pihak, terutama ilmuwan kampus dan ulama dayah.

Beritahu otoritas, masker itu sudah wajib hukumnya, dan perlu dibuat dalam bentuk instruksi gubernur, walkot, dan bupati di seluruh Aceh. Bagi kota seperti Banda Aceh yang sudah punya instruksi sudah saatnya tindakan “koersif” dilakukan. Jangan lagi disuarakan via media saja.

Dibanyak negara maju dan beradab hal itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan hasinya sangat signifikan. Ingat untuk dunia hari ini mencapai status “maju” dan beradab itu berurusan dengan kewajiban memakai masker berikut dengan upaya koersif yang serius.

Kalian anak muda, pastikan itu terjadi secepatnya. Kalau ada otoritas yang ragu-ragu, dorong mereka. Kalau mereka enggan cari cara agar mereka berubah. Ah saya tahu, kalian punya cara-cara “hebat” untuk mengurus yang seperti itu. Bukankah di antara kalian ada beberapa “spesialis” untuk pekerjaan seperti itu. Ini perang menyelamatkan manusia dan kemanusiaan, dan carilah innovasi dan kreativitas untuk memungkinkan penyelamatan itu terjadi.

Langkah penting lain, pastikan dalam waktu yang secepat-cepatnya test massal dan tracking dilakukan di semua daerah. Ini adalah jantung pengendalian Covid-19. Ini adalah upaya”membendung” Covid-19 berkembang secara leluasa.

Kenapa? Karena test akan memberikan indikasi penularan, dan tracking akan memberikan informasi rantai penyebaran penyakit, sehingga karantina individu, komunitas, gampong, kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi dapat dilakukan. Inilah yang membuat Vietnam dan Taiwan berhasil dan mampu meminimalkan korban. Vietnam 8 orang, dan Taiwan 7 orang.

Kalau seandainya pemerintah tak punya uang-ah yang bener aja-bersiaplah untuk menjadi relawan tracking, minta teman relawan pemuda di kawasan pedesaan untuk menjadi relawan di daerahnya. Toh ketua pemuda gampong bisa mengurus yang seperti ini.

Oh ya saya hampir lupa, cari cara agar semua kalian yang berstatus pemuda di kota dan di desa untuk bersatu dalam sebuah jaringan besar-networking-bergerak untuk secara bersama mengatasi Covid-19.

Seperti yang kalian tahu, saya juga tahu, bahwa otoritas kekuasaan dalam menjalankan tugasnya pada hari-hari sebelum Covid-19 mengalami pergesekan dengan elemen lain, bisa saja lembaga perwakilan, tokoh lokal, atau bahkan mungkin ada salah satu diantara kalian.

Kepada semua yang bergesek tolong beritahu ini saatnya kita bersatu, lupakan sebentar apa yang terjadi pada masa lalu. Kalau tetap mau lanjut, tunggu pandemi selesai, setelah itu “main” lagi. Untuk saat ini seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan, apalagi satu musuh terlalu banyak.

Beritahu mereka prinsip itulah yang telah membuat sekutu menang melawan wabah nazi Jerman, imperial Jepang, dan fasis Italia pada Perang Dunia ke II. Kalau saja Roosevelt, Presiden AS saat itu tidak arif dalam bersikap ceritanya akan lain.

Mau tahu ceritanya? Begini, ketika AS akan masuk ke Eropa untuk memerangi Jerman, salah seorang penasehat Roosevelt memberitahu, sebaiknya Soviet komunis tidak masuk dalam klub sekutu, karena negara itu komunis dan berbahaya.

Tahu apa jawabannya. Ia berkata nazi itu pandemi terbesar dan berbahaya, komunis itu juga berbahaya. Saat ini prioritas kita-sekutu adalah nazi, setelah itu baru kita selesaikan komunis. Itu yang membuat sekutu menang melawan ketiga negara kekuatan perusak itu.

Saat ini anggap saja Covid-19 sebagai Nazi, dan siapa saja diantara tokoh kita yang berpikiran seperti Roosevelt?

Para anak muda kota dan desa yang tercinta. Walaupun saya sudah tua, saya bisa merasakan gelora kehidupan dan semangat kalian yang mempunyai potensi untuk merobah landskap Aceh di masa depan.

Saya haqqul yakin, walaupun keadaan sekarang tidak begitu baik, ketika waktunya tiba-tidak lama lagi, generasi kalian akan membuat perobahan besar yang akan merobah Aceh dari status “ujung” menjadi “pangkal” dari komunitas bangsa dan kebangsaan.

Untuk itu bolehkah saya, atau tepatnya kami generasi tua, kalian berikan kesempatan “tersenyum” sebelum menjalani perjalanan baru menuju keabadian Ilahiah. Beri kami waktu untuk hidup melihat perubahan yang akan kalian lakukan, dan itu akan memberikan kebahagiaan dan senyum yang paling berarti dimasa tua kami.

Saya menyebutkan hal itu karena statistik korban Covid-19 dimana-mana di dunia menunjukan kelompok demografi terbesar yang menjadi korban adalah manusia lanjut usia di atas 60 tahun.

Saya tidak perlu menyebutkatkan statitistik untuk hal itu. Menurut pengalaman dan pengetahuan semakin tua usia, akan semakin besar pula peluang untuk menjadi korban dibandingkan dengan kalian yang masih sehat punya immunitas.

Apapun yang kalian lakukan, ingatlah pada orang tua kalian, kakek nenek kalian, sanak saudara tua kalian, para guru mu yang telah sepuh, para teungku tua yang telah membuka matamu.

Berbuatlah dihari-hari mendatang sesuatu yang memberi peluang besar kepada mereka untuk tetap sehat dan menjalani kehidupannya dengan baik. Ingatah ketika kalian mencapai prestasi, dengan siapa kalian akan berbagi kebahagian itu kalau mereka telah tiada. Bertindaklah, paling kurang hanya uituk menjaga lingkungan kecil kalian, kalaupun tidak untuk komunitas dan daerah.

Akhirnya hai para pemilik negeri dan pemilik masa depan. Praktekanlah hidup sehat untuk membuat orang lain juga menjadi lebih sehat. Perang melawan pandemi mensyaratkan kita semua, apalagi kalian para pemuda untuk cukup istirahat, makanan bergizi, olahraga rutin, dan berjemur matahari. Lakukanlah untuk diri kalian, dan niatkan pula itu sedekah kalian untuk kami para generasi tua.

Selamat berjuang anak-anak tercinta sekalian. Semoga Allah melindungi dan memberi yang terbaik untuk kita, untuk pemimpin kita, dan untuk masa depan kita.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...